Curhat Matkul Tambahan

Jadi ceritanya jumat kemarin (28-10-2016) gua ada kelas tambahan gitu, bukan mata kuliah wajib, tapi lumayan buat basis riset gua di sini. nama matkulnya, kalo di-bahasa-indonesia-kan, adalah matematika teknik (haha puyeng deh belajar matek lagi 😀 ).
 
tapi ada satu hal yang bikin gua asik ngikutin kuliah ini. kuliah ini diawali dengan materi tentang “a walk through a mathematical garden” (gile judul materinya aja sok sok estetis gitu), dan isinya adalah semacam brush up matematika. ya semacam pemanasan untuk menghadapi ‘keangkeran’ matematika. Namun, dosennya, seorang doktor di bidang astronomi dari The University of Sheffield, bilang gini: “my job here is not to teach you math, but to eliminate the scary of mathematics many people have”. keren keren (tepuk tangan).
 
dan emang bener, materi pemantiknya sedikit demi sedikit bisa menghilangkan kengerian kami terhadap matematika. kami diajak untuk menggunakan logika dalam mencari solusi matematika, bukan ngapalin segudang rumus. kenapa A = C, kenapa B = 2A, dan kenapa-kenapa lainnya. dan inilah yang membuat kuliah jumat kemarin, gua rasa, keren. dan inilah yang telah hilang dari anak-anak SMA, terutama yang sering ‘cuma’ mengandalkan tempat les atau kursus.
 
well, dari pengalaman pribadi gua mengikuti kursus persiapan UN (Ujian Nasional) SMP dan SMA, yang diajarkan ke siswa adalah ‘jalan pintas’ untuk memecahkan suatu permasalahan matematika, bukan memahami sepenuhnya konsep rumus tersebut. jadi, kalo ada soal yang ada x^2 nya, misalnya, berarti pake rumus X; kalo ada soal yang ada turunan nya, berarti pake rumus Z; dsb. emang sih metode tersebut bisa membuat kita cepet ngerjain soal. tapi efeknya adalah “volatile”, gampang menguap. coba aja, setelah UN selesai, palingan rumus-rumus racikan tersebut bakalan lebur ditelan roda kehidupan. dan efek lainnya adalah, siswa kurang diajak untuk berpikir menggunakan logikanya, kurang diajak untuk berpikir “why” dan “how”. mereka jadi berpikir “pak/bu, udahlah, tunjukin aja rumus simpelnya, biar kita hafal.”. efeknya, jadi sering berpikir instan.
 
namun, gua rasa pendidikan tinggi (read: universitas) di indonesia sudah baik. such the instant formulas sudah berkurang. mahasiswa-mahasiswa diajak untuk berpikir latar belakang suatu “konsep solusi” oleh dosen-dosen luar biasa, walaupun terkadang watak SMA-nya masih terbawa: cari instan.
 
Birmingham, 30 Oktober 2016
di tengah puyengnya belajar.
btw, hari ini di UK waktunya bergerak mundur satu jam lho. unik ya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s