Bye Semarang! Back to home for good

Packing

Aku masih ingat masa itu. Aku pertama kalinya ditinggal oleh keluarga untuk memulai hidup baru di tanah perantauan. Sepi. Sempat terpikir olehku, apa benar mulai detik ini aku harus hidup mandiri? Ah, terkadang aku jadi malu dengan sejumlah kawan yang bahkan mereka lebih luar biasa; laut pun mereka arungi untuk hidup jauh menuntut ilmu dan terpisah jauh dari keluarga. Hari-hari awal masih terngiang betul di memori. Tiap menjelang tidur dan bangun tidur, aku berulang kami bergumam: aku sudah tidak lagi tinggal di rumah. Sedih.

Ternyata memang benar apa kata sang ulama terkenal, Imam Asy-syafi’i: merantaulah, maka kau akan mendapatkan ganti kawan dan saudara yang baru. Pun hal ini terjadi padaku. Kalau diingat-ingat kembali, seringkali aku tertawa. Botak. Gundul 5cm. Oh, tidak! Tidak! Harus gundul 2cm. Aku dan kawan-kawan seperjuangan menyicipi masa-masa lucu tersebut. Ah, gundul, padahal aku anti sekali dengan gundul.

Hari demi hari pun berlalu. Kawan-kawan baru datang bermunculan. Pun orang-orang hebat tak jarang ku temui, ya, sekadar meneguk untuk memenuhi hasrat haus akan ilmu dan nasehat dari beliau-beliau tersebut. Semuanya pun berubah.

Masa kampus memang momentum yang magis. Dayanya mampu membuat maba (mahasiswa baru) menjadi lebih pakar daripada dirinya dulu saat sekolah, atau malah mengubah dirinya berbeda sama sekali. Seringkali aku mendengar istilah: kampus itu miniaturnya negara. Tipe mahasiswa dari A sampai Z bisa kita temui di institusi pendidikan tinggi ini. Jika engkau mau mencari unsur-unsur yang positif sekali, kau bisa menemuinya. Bahkan jika engkau mengejar komponen-komponen yang negatif, atau malah sangat amat negatif, pun engkau bisa mendapatkannya. Semua pilihan ada di tanganmu.

Kenangan memang. Masa-masa kaderisasi jurusan penuh cerita, kisah-kisah pengalaman organisasi penuh wawasan, sepenggal cerita dari korea penuh memori, secarik pengalaman Kerja Praktek di BPPT, segunung perjuangan merampungkan Final Project, dan lautan kisah tarbiyah penuh cinta, telah menjadi catatan perjalanan dalam hidupku. Aku menggores tinta sejarah untuk hidupku sendiri.

Kini, masa depan pasca kampus itu sedang menanti. Bahkan kata kebanyakan orang, inilah dunia sebenarnya. Detik demi detik, aku seakan terus menerus dikejar waktu: umurku semakin bertambah, jatah usiaku semakin berkurang. Ah, memoriku melompat kembali ke masa-masa sekolah dasar; aku saat SD pernah ingin menjadi seorang ilmuwan, peneliti; aku saat SMA pun bermimpi bisa menuntut ilmu di negeri sakura. Akankah impian itu tercapai? Wallahu’alam bisshowab. Yang jelas, semoga saja tiket dari institusi yang diprakarsai oleh Dr. Sri Mulyani Indrawati ini bisa mengantarku mewujudkannya. Aamiin.

@UtomoReza

30 Desember 2015

di Masjid Stasiun Tawang, dalam kepungan puluhan nyamuk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s