Ana wa Antum

Liqo New Spirit

Malam tanggal 17 Ramadhan 1436 menjadi malam bersejarah bagi ana.

Unik, padahal awalnya kami hanya ‘iseng-iseng’ menentukan waktu yang tepat agar semua bisa hadir dalam agenda ini. Dan tak tersengajalah malam Nuzulul Qur’an menjadi pilihannya. (Beberapa pendapat ulama mengatakan Nuzulul Qur’an itu tanggal 21 atau 28, namun ana tidak ingin membahasnya di sini). Namun, ana yakin itu semua bukanlah kebetulan semata; itulah qadarullah. Malam itu menjadi malam yang terjadi di Masjid kebanggan muslimin Jawa Tengah, malam yang dihiasi tilawatil qur’an seorang hafizh dari MAJT, malam yang beratapkan cahaya rembulan pertengahan Ramadhan, dan insya Allah malam yang dinaungi oleh sayap-sayap malaikat. Ah, malam yang takkan terlupakan.

Halaqoh yang telah lama menjadi bagian dari hidup ana kini harus bisa ana ucapkan kata perpisahan. Kalau seperti kata Akh Sholeh, “Liqo telah menjadi bagian dari selasa malam ana”, ana rasa ana sangat sepakat dengan statement tersebut. Ana pun rasanya selalu rindu untuk hadir agenda pekanan.

Seperti kata Akh Taufik, belum lega rasanya jika unek-unek ana ini belum ana sampaikan. Alih-alih mau menyampaikan saat liqo ‘terakhir’ berlangsung, hati ana malah tak kuat menahan desakan untuk bersedih. Semoga sedikit curahan hati ini bisa mewakilkan hati dan pikiran ana.

Ya, kini istilah “New Spirit” yang dibuat oleh mantan mas’ul itu akan tinggal kenangan bagi ana. Ketok palu, pada malam itu resmi sang MR menyatakan kepindahan ana dari lingkaran—lingkaran yang insya Allah penuh barokah, lingkaran yang insya Allah penuh orang-orang istiqomah, lingkaran yang selalu mengingatkan dan menasihati ana. Memang benar kata akh Taufik, saat seperti ini, doa rabithah amat mencirikan ikatan-ikatan kita di lingkaran ini.

Going to Mount Lawu

Seperti kata Akh Sholeh, kepindahan ana sama sekali tak berarti ana ini lebih tinggi ilmunya dari antum semua—sahabat-sahabat, saudara-saudara ana yang lain. Sama sekali tidak. Dibandingkan ana yang masih kadang-kadang bolong sholat jama’ah dan memiliki keburukan lainnya, masih ada mas’ul baru—akh Alif—yang insya Allah istiqomah dengan sholat fardhu berjama’ahnya di Masjid Kampus; masih ada akh Taufik yang sangat rutin wirid al-matsurat dibandingkan ana; masih ada akh Rangga yang rajin hadir kajian tatsqif dibandingkan ana; masih ada akh Gandha yang sangat berhati-hati dengan harta riba dibandingkan ana; masih ada akh Fadlan yang telah menyempurnakan separuh agamanya dibandingkan ana yang separuhnya saja ana belum yakin; masih ada akh Budi yang selalu mengingatkan kita semua tiap kali agenda pekanan; masih ada akh Irfan yang selalu itsar dengan saudaranya; masih ada akh Eko yang tegar saat mendapat ujian, mungkin ana tak akan sekuat anta; masih ada akh Ardhi yang masih bisa istiqomah walaupun sempat fluktuatif, karena mungkin ana tidak bisa seperti itu; tentunya masih ada akh Sholeh yang sangat istiqomah dengan amalan yaumiyahnya.

Wallahua’lam, mungkin ada pertimbangan lain mengapa ana harus dipindah yang padahal sedang puncak-puncaknya ana merasakan cinta di liqo ini. Bukan cinta LGBT, inilah cinta yang insya Allah karena Allah dan insya Allah akan mengantarkan kita ke Jannah-Nya. Ana mengamini perkataan Akh Budi, bahwa inilah salah satu pertimbangan dakwah mengapa ana harus dipindah. Dan pada akhirnya kita pun harus disebar—menebar bibit kebaikan dimanapun kita berada. Masya Allah.

Mohon maaf lahir dan batin. Mohon maafkan semua lisan dan perbuatan ana selama ini yang menyakiti antum semua; khususnya kepada akh Rangga yang sering ana ejek terkait fisik. Dan ana mohon jika ana pernah zholim kepada antum, tolong jangan pernah mendoakan keburukan kepada ana—pun kepada semua saudara kita. Karena doa seorang muslim untuk saudaranya yang lain tanpa sepengetahuan saudaranya itu ijabah, mari sama-sama kita doakan yang baik-baik bagi saudara-saudara kita.

Jazakumullah khairan katsiran wa jazakumullah ahsanal jaza atas kebaikan antum semua; juga kepada akh Prams yang bersabar sekamar dengan ana selama setahun ini; kepada akh Farid yang sering menebar bibit keunikan dan kreativitas; kepada akh Herdi yang selalu mengingatkan ana untuk semangat kuliah; kepada akh Arman yang walaupun belum lama bergabung tapi memberi warna baru bagi lingkaran ini, terutama bagi ana; kepada akh Regi yang meskipun baru gabung setelah ekspedisi kita di Lawu, memiliki semangat yang luar biasa hadir dalam liqo; tak terlupa kepada akh Ageng, akh Virgus, akh Tomo, dan akh Fauzan yang telah berpisah terlebih dahulu dengan kita.

Dan khususnya jazakallah khairan katsir wa jazakallah ahsanal jaza kepada Pak One yang selalu mengingatkan ana dan tak henti-henti bersabar dengan ‘kenakalan’ ana; yang selalu bershodaqoh dengan membawakan hidangan kepada kita semua sehingga—kalau kata akh Rangga—hadir liqo itu menjadi bersemangat; yang selalu memantau perkembangan kita semua. Inilah cinta seorang Murabbi. Ana bahkan kami tak akan mampu membalas semua kebaikan anta. Namun, doa kami setelah sholat akan selalu mengiringi anta.

Semoga Jannah Allah menjadi balasan buat antum. Semoga Allah akan mempertemukan kita semua di Jannah-Nya.

Aamiin yaa rabbal’aalamin.


Al-Brimobiyyah

17 Ramadhan 1436 H—4 Juli 2015 M

Kaget, hampir mau sedih lagi saat mengetik kata “cinta”—ternyata cengeng juga, ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s