Saemaul Undong

Tulisan saya kali ini didasari oleh pengalaman saya selama tinggal di Korea Selatan. Pemantik sebenarnya adalah sebuah video yang di-share oleh seorang kawan di grup facebook PERPIKA (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Korea). Ini adalah sebuah tulisan sederhana mengenai negara Korea yang mampu bangkit dari salah satu negara termiskin di dunia (GDP per kapita US$ 73)—setelah melalui Perang Korea tahun 1950-1953—menjadi sebuah negara maju dengan GDP per kapita sebesar US$25,976 (World Bank 2013).

Di saat rata-rata orang Indonesia disibukkan oleh gelombang Korea lewat drama, busana, musik, dan gaya hidupnya, saya ingin mengulik sisi lain dari Korea. Pada tahun 1961, setelah Park Chung Hee melakukan kudeta terhadap pemerintahan kemudian menjabat sebagai Presiden Korea Selatan, ia menggenjot pembangunan Korea di sektor industrialisasi yang terkonsentrasi di kota-kota besar dan perdagangan yang export-oriented. Kebijakan ini membuat pertumbuhan keseluruhan ekonomi Korea mencapai rata-rata 10% per tahun dari 1964-1970. Pertumbuhan ekonomi di sektor non-pertanian mencapai 14,5% per tahun, sedangkan pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian hanya mencapai 2,8% per tahun. Ketimpangan tersebut memicu urbanisasi besar-besaran oleh penduduk muda dari desa ke kota untuk mencari lapangan pekerjaan di pabrik-pabrik kota.

Saemaul Undong

Fenomena tersebut mengilhami Presiden Park untuk menginisiasi sebuah gerakan K-Wave bernama “새마을 운동” (baca: Saemaul Undong). Kata 새 (sae) memiliki arti baru, kata 마을 (maeul) memiliki arti desa/komunitas, dan kata 운동 (undong) memiliki arti gerakan. Saemaul Undong adalah gerakan yang bertujuan untuk mengecilkan developmental gap antara kota-kota besar dengan rural communities. Saemaul Undong resmi dijalankan pada tahun 1970. Walaupun dikenal dengan nama Saemaul Undong, pada mulanya, gerakan ini tidak memiliki definisi yang resmi. Namun, setelah Presiden Park mengeluarkan pernyatan mengenai gerakan tersebut di National Convention of the Village Leaders 1973, Park Jin-whan—staf khusus kepresidenan untuk Saemaul Undong—menafsirkan Saemaul Undong sebagai sebuah gerakan pengembangan etika kerja para petani dengan cara membuat mereka berpartisipasi dalam pembangunan desa mereka sendiri dalam rangka mempercepat modernisasi desa.

Terdapat empat fase dalam proses Saemaul Undong. Fase pertama menitikberatkan pada Foundation Building, meningkatkan kualitas lingkungan sekitar desa. Fase diawali saat terdapat produksi semen berlebih di tahun 1970. Kemudian pemerintah mencoba untuk mendistribusikan secara gratis semen lebih tersebut ke 34.665 desa dengan tiap desa mendapat jatah 355 sak semen, tapi dengan satu syarat: hanya digunakan untuk kesejahteraan desa. Rencana tersebut mendapatkan respon positif dari warga desa dan mendapatkan hasil signifikan, jauh dari dugaan pemerintah. Jika biaya total semen tersebut adalah 4,1 milyar Won, estimasi nilai pembangunan yang dilakukan oleh penduduk desa ditaksir mencapai tiga kali lipatnya, 12,2 milyar Won. Langkah awal inilah yang menciptakan pembangunan infrastruktur besar-besaran di banyak desa.

Fase kedua adalah mengurangi tingkat kemiskinan desa dan meningkatkan pendapatan desa. Para penduduk desa didorong untuk memanfaatkan teknologi baru di bidang pertanian. Tujuannya adalah untuk meningkatkan penghasilan warga desa. Poin penting yang melatarbelakangi fase ini adalah telah adanya infrastruktur yang memadai sehingga meningkatkan produktivitas pertanian desa. Hasilnya adalah jumlah seluruh penduduk desa yang miskin di Korea pada tahun 1965 yang mencapai 7.505 jiwa bisa berkurang menjadi 1.995 jiwa di tahun 1978.

Pada fase ketiga, Saemaul Undong menekankan pada filosofi “my village is the best place to live” dan “we can do” yang terdiri dari tiga komponen: diligence (keuletan, keteguhan), self-help (mandiri, berdikari), dan cooperation (gotong royong, kerja sama). Bahkan, pemerintah pun menekankan bahwa pemerintah hanya membantu desa yang desa tersebut membantu (baca: membangun) desa mereka sendiri. Tujuan dari penanaman filosofi ini adalah untuk menginternalisasi pemahaman tersebut dalam tekad pembangunan Korea.

Presiden Park Chung Hee

Fase keempat ditandai oleh terbunuhnya Presiden Park pada tahun 1979. Setelah terjadi pergantian tampuk pimpinan, kebijakan Saemaul Undong yang pada mulanya di bawah yurisdiksi Kementerian Dalam Negeri dipindah menjadi tanggung jawab badan swasta—namun berafiliasi dengan pemerintah—National Council of Saemaul Undong.

Melihat kesuksesan Saemaul Undong dalam merevolusi Korea dalam waktu 30 tahun, ada empat faktor kunci kesuksesan yang dapat diuraikan:

  1. Government intervention and support

Saemaul Undong nyata direncanakan dan diawasi langsung oleh pemerintah pusat. Dengan berbagai jenis layanan dan bantuan, pemerintah pusat sendiri yang melalui kebijakan mendukungnya memberi bantuan kepada desa-desa dalam proses pembangunannya.

  1. Wide range of people’s participation

Keikutsertaan masyarakat adalah salah satu faktor penting penentu kesuksesan Saemaul Undong. Pendekatan yang dilakukan pada Saemaul Undong tidak hanya pendekatan top-down, tapi juga pendekatan bottom-up. Improvement tidak hanya berasal dari atas, yaitu pemerintah, tapi juga berasal dari bawah, grass-root, dari masyarakat desa itu sendiri.

  1. Community leadership

Dalam menyuburkan program Saemaul Undong, pemerintah membentuk para Saemaul leaders yang dipilih langsung oleh warga desa masing-masing. Para kontingen desa ini dididik oleh pemerintah untuk mengemban visi pembangunan negara, Saemaul Undong. Selain itu, mereka bertindak sebagai agent of change untuk menyebarkan dan mengajari inovasi teknologi kepada warga desa, dan juga menjadi manajer dalam perencanaan dan implementasi pembangunan desa.

  1. Spiritual reform

Walaupun Saemaul Undong menjunjung filosofi diligence, self-help, dan cooperation, pada dasarnya filosofi tersebut telah ada sejak dulu sebagai identitas bangsa Korea. Saemaul Undong bertujuan mengembalikan filosofi tersebut ke jiwa tiap-tiap masyarakat Korea.

 

Kini Korea membentuk gerakan New Saemaul Undong yang menyinggung isu Go Green dalam gerakannya. Dengan pengalaman kesuksesan membangkitkan negara; selain di Korea, kini New Saemaul Undong menyebarkan semangat tersebut ke berbagai developing countries. Salah satu institusi besutan Korea untuk mengglobalkan gerakan ini adalah Korea Saemaul Undong Center yang terdapat di lima negara Asia dan empat negara Afrika.

New Saemaul Undong

Saemaul Undong adalah salah satu rural community development yang unik milik Korea. Pada dasarnya, tiap negara berkembang pun memiliki rural community development-nya masing-masing. Oleh karena itu, penerapan Saemaul Undong di Indonesia tidak bisa dilakukan semena-mena tanpa kajian lebih lanjut. Namun, terlepas dari hal tersebut, ada beberapa poin yang bisa dijadikan pelajaran bagi Indonesia, yaitu:

  1. Create the foundations for rural development

Investasi secara konsisten dari pemerintah dalam pengembangan berbagai infrastruktur untuk menunjang rural development. Investasi dalam bidang pertanian pun harus ditekankan, terutama dalam penerapan teknologi tepat guna dalam bidang pertanian.

  1. Cultivate strong leadership skill

Membentuk para pemimpin muda masa depan yang tidak hanya dari perkotaan, tapi juga dari daerah terpencil, yang membawa semangat perubahan dan komitmen tinggi terhadap negeri. Dan juga, membentuk program pelatihan untuk menempa mereka. Selain itu, perlu dibuat suatu studi banding yang dilakukan oleh para pemimpin muda tersebut untuk pergi belajar mengunjungi daerah lain ataupun negara lain.

  1. Enact national policies that favor the rural sector

Perlu adanya prioritas utama dari pemerintah dalam pengembangan perekonomian rural area. Kebijakan pemerintah yang berpihak pada pengembangan desa sangat dibutuhkan. Selain itu, pemerintah perlu menekankan pada pengembangan industri kecil menengah untuk pengembangan perekonomian desa.

  1. Add the special ingredient, the Saemaul Spirit

Perlu adanya jargon “pertanian adalah fondasi negara” sehingga menjadikan pertanian sebagai center dalam kekuatan dan pengembangan negara. Pemerintah harus tidak henti-hentinya memberi support kepada rural community dalam perencanaan dan implementasi desa mereka. Memberi reward kepada desa yang berhasil mengolah dengan baik support dari pemerintah.

 

Referensi

  • [1] Reed, Edward P., Is Saemaul Undong a Model for Developing Countries Today?, 2010.
  • [2] Choe, Chang Soo, Key Factors to Successful Community Development: The Korean Experience, 2005.
  • [3] Park, Sooyoung, Analysis of Saemaul Undong: A Korean Rural Development Programme in the 1970s, 2009.
  • [4] https://www.youtube.com/watch?v=HPaLjrlPon4
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s