Philosophy of Riding

Jadi, ceritanya tulisan saya kali ini berjudul “Philosophy of Riding” yang terinspirasi dari keseharian saya yang sering maen nyetir-nyetiran. Tapi inget, bukan jadi supir. Dan, di tulisan ini tumben-tumbennya saya gak memperhatikan tata menulis yang baik dan benar sesuai bahasa indonesia dan ejaan yang disempurnakan layaknya nulis Tugas Akhir. Okey, let’s get it started.

Riding

Pasti tiap orang pernah ngerasain nyetir. Gak pernah? Ya, minimal sekali lah seumur hidup pernah nyetir. Masak tetep gak pernah? Sedih amat. Terserah, entah itu nyetir apapun. Nyetir sepeda, nyetir motor, nyetir sapi, nyetir kuda, nyetir delman, nyetir gerobak, nyetir mobil, nyetir bus, nyetir truk sampah, nyetir kereta, nyetir pesawat, dan nyetir lain-lain. Tapi, di sini, saya cuma membahas dua jenis nyetir-nyetiran: nyetir motor dan nyetir mobil.
Oke, nyetir motor. Kalau menurut hukum berkendara yang safety di jalan raya, nyetir motor itu harus membawa surat-surat yang lengkap. Selain itu, kelengkapan motor pun juga harus diperhatikan, kayak misalnya spion, lampu, helm, dan lain-lain. Begitu juga dengan mobil. Spion, lampu, helm (helm? oke, yang ini gak mungkin, tapi bisa aja sih kalo dia mau ngerasain kayak balapan F1), dan kelengkapan-kelengkapan mobil lain juga perlu diperhatikan secara seksama. Tujuannya apa sih sampe ribet kayak gitu? Tujuannya bukan biar Pak Oknum Polisi tidak bisa nyari-nyari kesalahan supaya kita ditangkep, tapi semata-mata biar kita selamat, aman, damai, dan sentosa.

Nyetir motor

Jadi gini nih. Pas kita nyetir di jalan raya, itu bukan hanya saya atau anda saja yang ada di jalan tersebut. Pengendara lain juga sibuk menuhin jalan raya ampe macet, plus pedagang kaki lima mungkin ya. That’s why, kita harus selalu waspada terhadap sekeliling kita saat nyetir: depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah. Karena gak mungkin mau kan motor atau mobil yang belum lunas cicilannya itu sampe baret-baret? Tapi, sebenernya yang terpenting adalah keselamatan pengendara tersebut, bukan kendaraannya bro. Jadi, pastinya saat nyetir kendaraan tersebut, kita akan selalu cermat dan konsentrasi mengamati jalan di depan, dan belakang lewat spion.

Nyetir mobil

Kalau misalnya jalanannya lagi bagus, pastinya kita gak akan ragu untuk menancap gas. Tapi, kalau misalnya jalanannya jelek dan bolong-bolong, siapa sih yang mau ngebut-ngebut? Yang ada malah kita akan makin awas untuk menghindari lubang yang makin mendekat. Trus, kalau misalnya kita lagi asik-asik nyetir di jalan lurus lempeng lalu dari kejauhan terlihat emak-emak yang lagi asik nyebrang, pasti kita akan menurunkan kecepatan sampe emak-emak tadi lewat, baru deh tancep gas lagi. Apalagi kalau kita lagi nyetir di jalanan yang masih asing buat kita, dan malam hari pula, pasti kita akan semakin berhati-hati. Mata kita, selain berkonsentrasi melihat jalanan di kejauhan, akan berkonsentrasi melihat jalan yang berjarak sekitar 5 meteran di depan. Tujuannya apa? Biar jika sewaktu-waktu ada lubang atau unpredictable obstacles yang berjarak gak jauh di depan, kita bisa segera mendeteksinya dan punya waktu untuk langsung menghindar. Jadi, nyetir itu gak cuma melihat jalanan yang jauh, tapi yang deket juga dilihat.
Sama halnya dengan kehidupan kita sob (mulai serius nih disini). Tujuan Allah nginfoin kita dengan beragam kelengkapan untuk ‘berkendara’ adalah semata-mata untuk keselamatan kita di dunia dan akhirat. Jika spion motor atau mobil dibuat agar pengendara bisa melihat dan mengamati objek di belakangnya, maka layaknya hidup, kita diberi ‘spion’ (baca: ilmu) oleh Allah untuk melihat dan mengamati peristiwa-peristiwa yang telah terjadi lampau. Bahkan, kita pun mengenal istilah sejarah. Itu semata-mata agar kita bisa memetik hikmah atas apa yang telah terjadi.
Lalu, seperti yang saya katakan tadi, nyetir itu gak cuma melihat jalanan yang jauh, tapi yang deket juga dilihat, hidup juga sama aja. Selain kita melihat jalan yang jauh (baca: tujuan jangka panjang), dalam hidup, kita juga harus melihat segala kemungkinan dan obstacles yang kian mendekat, alias punya rencana jangka pendek. Dan, dua hal ini gak bisa kita kerjakan sendiri-sendiri. Karena gak mungkin kan pas lagi nyetir, mata kita cuma fokus ke jalanan yang berjarak 50 meter ke depan? Boleh aja kaya gitu. Tapi, kita gak akan bisa waspada terhadap segala kemungkinan tak terduga yang tetiba datang dari jarak 0-10 meter di depan. Dan, kita juga gak mungkin nyetir cuma fokus melihat jalanan yang berjarak 0-10 meter ke depan. Alih-alih biar bisa menghindari lobang jalan, eh yang ada kita malah gak tau apa yang ada jauh di depan. Sama seperti hidup. Kita gak mungkin hanya punya tujuan jangka panjang saja, tapi gak punya rencana jangka pendek. Kalau hanya punya tujuan jangka panjang, big plan tersebut tak lebih dari sekadar angan belaka. Lalu kalau hanya punya rencana jangka pendek, kita bakalan bingung, sebenernya mau dibawa kemana sih hidup.

Tujuan hidup

Begitulah hidup, penuh makna dan tak ubahnya seperti kita sedang berkendara di atas jalan raya waktu, penuh liku, penuh lubang, penuh ujian. Dengan tujuan akhir yang sama, hidup di dunia hanyalah sebuah perjalanan singkat untuk menuju sang Pencipta. Dan, ingatlah, ada satu hal mendasar yang sangat membedakan antara filosofi berkendara dengan hidup ini. Apa itu? yakni dalam hidup, kita tidak akan pernah bisa bergerak mundur (baca: memutar waktu) layaknya mengendarai motor atau mobil. Wallahua’lam bisshawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s