Seputar Beasiswa LPDP

LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) merupakan lembaga koordinasi antara Kemedikbud, Depkeu, dan Kemenag. Lembaga ini menyalurkan dana pendidikan kepada putra/i bangsa yang ingin meneruskan studi di jenjang S2 dan/atau S3. Untuk lebih jelasnya, silakan buka saja di webnya LPDP.

Oke, kali ini BEM KM UNDIP bekerja sama dengan recipients of LPDP Awardee menyelenggarakan Sosialisasi LPDP pada hari Ahad, 6 Juli 2014. Acara ini sangat ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa UNDIP, terlihat dari animo para pendaftar yang mencapai jumlah 200 orang hanya dalam seminggu.

Para narasumber dalam acara ini memang bukan berasal dari orang LPDP asli, namun hal tersebut tidak mengurangi keinformatifan sosialisasi ini. Ada tiga orang narasumber. Mereka semua alumni dari UGM. Mereka adalah Rizqi Nur’aini A’yuninnisaFina Aryani Goenadi, dan satu lagi saya lupa nama mbaknya (maaf).

Inti dari sosialisasi ini sebenarnya tidak begitu jauh berbeda dengan yang ada di web LPDP. Yang berbeda hanya pada saat sesi tanya jawab karena saat tanya jawab ini, para narasumber lebih menceritakan hal-hal yang bersifat teknis sehingga kita pun lebih mudah untuk mendapatkan gambaran apa saja yang perlu kita lakukan agar lolos seleksi beasiswa LPDP ini.

Di bawah ini merupakan pertanyaan-pertanyaan yang bisa saya rangkum beserta jawabannya:

1. Jika bidang yang dituju lintas disiplin dengan bidang saat S1

Tidak masalah. Tinggal jelaskan saja alasannya apa.

2. Jika universitas tujuan kita tidak masuk dalam daftar universitas-universitas dari LPDP

Intinya harus urus surat perpindahan. Awal mulanya kita harus (wajib) pilih salah satu universitas yang ada dalam list LPDP. Setelah kita dinyatakan lolos pendanaan LPDP, baru kita bisa urus pindah universitas ke universitas yang kita tuju. Proses ini membutuhkan rekomendasi dari pakar yang ahli dalam bidang tersebut.

3. List Indonesia Presidential Scholarship (IPS) dan beasiswa Master dan Doktor mengapa mengacu pada data dari Times Higher Education

Kebijakan dari LPDP. Sepertinya harus tanya langsung ke pihak LPDP-nya

4. Untuk negara tujuan yang bukan English Speaking Country, apa LPDP juga membiayai kita untuk pendanaan pelatihan singkat bahasa

Tidak. Gunakan uang sendiri.

5. Kasus sama, bagaimana mekanisme upload sertifikat bahasa. Apa perlu dua-duanya, hanya TOEFL/IELTS, atau cukup sertifikat bahasa selain english

Jika kita masuk di kelas internasional, cukup upload TOEFL/IELTS. Namun, alangkah lebih baik jika kita juga punya setifikat bahasa negara yang dituju (kalau bisa dibawa saat sesi interview). Lalu jika bukan kelas internasional, wajib melampirkan sertifikat bahasa negara tersebut.

6. Adakah ikatan dengan LPDP setelah kita lolos sebagai penerima beasiswa dan akhirnya lulus studi S2/S3

Tidak. Namun, wajib pulang ke tanah air setelah lulus kuliah. Bangun negeri. Lalu jika misalnya ingin meneruskan ke S3 dari S2 dan ingin mendapatkan beasiswa LPDP kembali, cukup mengirimkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk studi S3, tanpa melalui seleksi administratif, wawancara, dan karantina.

7. Poin khusus bagi yang membawa LoA unconditional saat sesi wawancara

Tidak ada poin khusus. Yang jelas, jika kita dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa, kita diberi waktu 1 tahun untuk mendapatkan LoA.

8. Bentuk proposal riset di bagian berkas

Untuk studi S2, proposal riset tidak dibutuhkan, cukup menggunakan rencana studi dalam bentuk esai. Proposal riset digunakan untuk studi S3.

9. Kriteris penentuan kelolosan sebagai penerima beasiswa dan sesi yang paling berpengaruh dalam proses penilaian

Yang paling berpengaruh adalah tahap wawancara. Tahap-tahap seleksi sebelum wawancara hanyalah tahapan pengantar agar kita dapat mencapai tahap yang paling menentukan, interview. Kriteria penentuan kelolosan dipegang langsung oleh pihak LPDP. Namun, yang jelas, tidak ada quota untuk penerima beasiswa ini sehingga jika misalnya yang para pelamar kompeten berjumlah 1000 orang, maka seribu orang tersebutlah yang berangkat. Jika ada 2000 orang, maka 2000 orang itulah yang berangkat. Dalam seleksi LPDP, kita tidaklah melawan siapa-siapa, kita hanya perlu melawan diri kita sendiri.

10. Alokasi dana untuk studi

Dana pendidikan (studi) sudah tetap, tidak bisa berubah. Yang bisa berubah adalah living allowance. Living allowance ini bergantung pada kota dan negara tempat universitas yang dituju berada. Sebagai contoh, biaya hidup antara tinggal di New York dan Bangkok pastilah berbeda.

11. Adakah penilaian saat program karantina. Jika ya, apa yang terjadi jika kita tak lulus

Ya ada penilaian, tapi yang jelas jika kita serius mengikuti program ini dari a sampai z, pasti kita akan lulus sesi ini.

12. Share pengalaman daftar beasiswa LPDP beserta tips, trik, dan problem yang mungkin akan timbul

Saat kita ingin mengupload berkas-berkas, diharuskan berkas-berkas tersebut lengkap tanpa ada yang tertinggal. Jangan sekali-kali mengupload setengah-setengah karena jika kita sekali gagal—entah dalam seleksi administratif maupun wawancara—dalam proses, kita harus menunggu 6 bulan jika mau daftar beasiswa LPDP lagi. Yang paling penting adalah motivasi yang harus kuat, jelas, dan prospektif, terutama saat wawancara. Jangan pernah sekali-kali melakukan pemalsuan berkas. Jika sampai ketahuan melakukan pemalsuan, bersiaplah nama anda akan masuk dalam black list. Perbanyak membaca pengalaman-pengalaman para penerima beasiswa LPDP di blog-blog. LGD (Leaderless Group Discussion)—merupakan sesi yang satu paket dengan seleksi wawancara—terdiri dari 8 orang applicant dan 2 orang psikolog dalam suatu ruangan. Jadilah aktif berpendapat dalam sesi ini karena 2 orang psikolog tersebut akan menilai kita. Cara kita menyampaikan pendapat dan menyanggah pendapat pun masuk dalam penilaian sehingga bermain cantiklah dalam LGD ini. Saat membuat akun di web LPDP, disarankan menggunakan akun gmail.

 

Dan, ini donlotan jika kawan-kawan menginginkan file-file tentang LPDP yang sudah satu paket, beserta cerita pengalaman dari blog orang-orang yang telah lolos seleksi

donlot

Advertisements

3 thoughts on “Seputar Beasiswa LPDP

  1. FAF says:

    Maaf, nanya. Salah satu format yang harus diisi adalah format pengalaman kerja. Apakah menjadi Assisten Praktikum Kampus dan Mengajar di sekolah (baca : PPL) termasuk ke dalam pengalaman kerja ?
    Terima Kasih

    • sebenarnya kurang tepat jika anda bertanya ke saya karena saya belum memiliki pengalaman mendaftar beasiswa LPDP.
      namun, saya akan coba menjawabnya sepanjang apa yang saya ketahui.
      pada tahap input data online di web LPDP, di bagian riwayat pekerjaan tertera kolom “Institusi”, “Posisi”, “Tahun masuk”, “Tahun keluar”, dan “Pendapatan”.
      PPL tidak bisa dihitung sebagai salah satu riwayat pekerjaan yang bisa diinput.
      asisten praktikum juga tidak bisa dihitung.
      alasannya mudah, di bagian riwayat pekerjaan itu, yang diminta adalah pekerjaan yang benar-benar kerja secara formal, dengan atribut posisi, tahun masuk dan keluar, dan pendapatannya. bukan cuma “pengalaman kerja” yang bisa didapat seperti magang, PPL, asprak, dsb.

      jika anda kurang puas dengan jawaban saya, sila cari tahu di sini
      https://www.facebook.com/groups/beasiswalpdp2013/?ref=bookmarks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s