Asyiknya Naik Gunung

Hiking. Mungkin bagi sebagian orang, saat mendengar kata ini, pikiran yang terbentuk adalah cape, pegal, lemas, dingin, berat, dll. Emang bener sih. Tapi itu semua bakal terbayar pas kita mencapai apa yang dinamakan sebagai SUMMIT, PEAK, atau PUNCAK. Sumpah dah lelah yang tadi menyertai, sirna begitu saja pas udah sampe ujung pendakian. Dan sama seperti kisah saya yang satu ini.

Mount Bromo. Gunung Bromo. Gunung ini menjadi destinasi gunung pertama saya. Gunung Bromo masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru. So, selain bisa ngeliat Bromo yang masih aktif itu, kita juga bisa ngeliat Gunung Tengger yang berada tepat di sebelah Bromo dan Semeru dari kejauhan. Berbeda dengan Bromo dan Semeru yang masih aktif, gunung Tengger ini bukan gunung volkano. Ga ngerti saya istilahnya apa. Yang jelas udah ga aktif.

Kata para hikers (istilah untuk pendaki gunung), gunung Bromo itu belum pantas disebut sebagai aktivitas hiking. Ya karena kita masih bisa menaiki kendaraan hingga mendekati batoknya gunung Bromo. Ya bodo amat, yang penting Bromo itu dihitung sebagai Gunung. Titik. O ya, aktivitas saya ke gunung Bromo ini terjadi awal tahun 2013 lalu, saat saya sedang mengenyam kursus di Pare, kampung Inggris. Nah kebetulan, siswa-siswa di kelas saya, kelas Confidence di Elfast, pada tertarik dengan tawaran tutor kelas tersebut, Mr. Abdul. Alhasil lumayan banyak juga yang ikut.

20130203_071022

 

20130203_075422

Ada dua cara untuk mencapai hingga View Point-nya gunung Bromo dan ke kaki batok gunung Bromo. Cara pertama, yang paling elit, kita bisa sewa mobil jeep. Satu jeep bisa berisi, kalo tidak salah, maksimal 5 orang. Cara kedua, kita sewa mobil pickup. Pickup? Ya benar pickup, atau bisa dibilang mobil bak. Serius mobil bak terbuka ini dijadikan sebagai kendaraan kita untuk mendaki daerah ekstrem ini. Dan mobil bak ini mampu ditumpangi oleh, kalo ga salah lagi, maksimal 15 orang. Terdengar mustahil bukan? Tapi ini memang beneran. Sungguh luar biasa kuat tuh mobil.

20130203_083311

Selain View Point, Gunung Bromo, dan Gunung Tengger, kawasan tersebut juga menawarkan pesona lain yang tak kalah luar biasa. Lautan pasir, yang dikenal sebagai “pasir berbisik”, dan savannah menjadi andalannya. Luar biasa indah. Kita seperti berada di lautan, tapi pasir, dan terlihat di kejauhan, barisan pegunungan begitu hijau, mengelilingi kita, seakan-akan seperti memberikan barikade perlindungan terbaiknya. Indah. Sejuk dipandang mata.

20130203_103415

Padang savannahnya pun tak kalah menarik. Saya jadi teringat tontonan bocah dulu, teletubbies. Di teletubbies ini, Tinky Winky, Dipsy, Lala, dan Po (mohon maaf jika penulisan namanya salah), hidup di sebuah padang hijau, dan memiliki bukit-bukit kecil yang berundak. And you know? Subhanallah savannah ini sangat amat persis seperti ‘dunia’ nya teletubbies tersebut. Hijau memikat, bersama gundukan-gundukan bukit kecil. saya seperti melayang menembus belahan dunia lain.

20130203_105810

Beberapa teman dari jurusan Teknik Geologi sempat mengatakan bahwa mereka mengincar 7 Summit. Sebuah istilah yang menandakan bahwa seseorang telah mendaki 7 puncak gunung yang berbeda. Saya pun jadi ingin walaupun tidak menjadi cita-cita dan obsesi. Saya suka travelling. Saya hobi jalan-jalan melihat keindahan pesona alam ciptaan Allah. Oleh karena itu, saat di Korea pun, saya punya niatan untuk mendaki gunung di Korea, dan alhamdulillah saya sempat mendaki dua gunung: Seoraksan dan Bukhansan walaupun tidak mencapai Peak tertinggi. Ya sebatas puncak-puncak lain yang tidak menjadi puncak tertinggi. Masalahnya sebenarnya lebih kepada persiapan, pemahaman terhadap medan, dan bekal. Dan kami tidak begitu siap.

20130623_194214

 

 

20130624_081259

 

IMG_20130724_161633

 

IMG_20130724_172353

Gunung-gunung di Korea sangat jauh berbeda dengan gunung-gunung di Indonesia. Korea itu, menurut data, datarannya diselimuti oleh 70% pegunungan maka tak heran banyak sekali gunung di negara ini. Dan juga, banyak puncak yang memiliki ketinggian berbeda dari deretan pegunungan tersebut. Pegunungan ini pun bukan pegunungan volkano, lebih didominasi oleh bebatuan. Jadi insya Allah tak akan bisa meletus menumpahkan isinya. Kata teman anak Geologi sih, sebabnya karena deretan pegunungan di Korea tidak masuk dalam deretan Ring of Fire. Untuk lebih jelasnya, buka aja disini http://en.wikipedia.org/wiki/Ring_of_Fire

Nah, yang baru-baru ini saya daki adalah Gunung Ungaran. Gunung yang paling deket dari kampus UNDIP Tembalang. Kami berencana untuk melihat sunrise di puncak tertinggi Ungaran. Ada celetukan becandaan dari temen, kami naik ke gunung Ungaran ini untuk ngerayain natal, ya soalnya kami naik gunung tepat banget saat malam natal tahun 2013. Ada-ada aja. So, tepat setelah liqo selesai, sekitar jam 11, kami pun berangkat setelah menyiapkan keperluan di sana. Jalur yang kami gunakan untuk mendaki lewat dari Gonoharjo, lalu menuju Promasan, baru ke puncak. Perjalan yang jauh.

Sekitar jam setengah 3 lebih dini hari tanggal 25 Desember 2013 kami sampai di desan Promasan. Inilah titik dimana kami harus berjalan, tidak menggunakan kendaraan roda dua lagi. Dan benar-benar, perjalanan dari Gonoharjo menuju Promasan itu jalannya hampir sepanjang jalan tidak diaspal. Yang ada hanyalah bebatuan. Ditambah lagi, banyak tanjakannya, maka yang terjadi adalah badan kami sering bergetar menahan getaran motor melewati bebatuan, pula motor sering meraung tidak kuat karena harus menanjak terlalu ekstrim. Imbasnya adalah terkadang orang yang dibonceng harus turun dan bantu mendorong motor.

P1010733

 

Setelah berdoa, perjalanan kaki dari Promasan ke puncak Ungaran pun dimulai. Saya sempat heran saat sampai di desa Promasan. Suhu pada saat itu aneh, mengapa tidak dingin. Suhu pun tetap tidak begitu dingin saat kami telah mencapai setengah jalan. Mungkin ini karena dampak saya pernah merasakan suhu yang lebih dingin dari ini, yaitu winter di Korea, yang jauh amat lebih dingin dari gunung Ungaran. Suhu saat winter itu mencapai angka minus. Muka beku. Hidung beku, bahkan hingga meler. Bibir kering pecah pecah, dan bisa sampai berdarah jika kita tidak memakai lip gloss. Daun telinga, mungkin bisa hilang jika kita tidak memakai tutup telinga. Alhasil otot wajah pun sulit digerakkan saat kita mengalami dingin saat winter. Tapi untungnya ini di gunung Ungaran, bukan seperti pengalaman dinginnya winter saat di Korea beberapa bulan yang lalu.

P1010738

Saat mendekati puncak, angin mulai kencang. Udara pun semakin dingin. Batinku bergumam bahwa ini baru yang namanya dingin walau tetap belum seperti dinginnya saat winter. Ah tapi saya jadi rindu hawa dingin seperti ini.

Sekitar jam 4 lebih kami menunaikan sholat shubuh. Bukan di puncak. Kami belum sampai di puncak. Menuju puncak hanya tinggal 15 menitan perjalanan lagi dari tempat kami sholat. Rasanya sungguh luar biasa bisa sholat di tengah alam bebas. Dan lagi, salah satu teman saya sempat mengumandangkan adzan. Rasanya seperti mengingatkan umat manusia bahwa waktu sholat shubuh telat tiba langsung dari langit. Luar biasa.

P1010819

Alhamdulillah jam 5 kurang kami tiba di puncak Ungaran. Ternyata tidak hanya kami yang ‘merayakan’ natal dengan menaiki puncak Ungaran. Ada banyak pendaki lainnya yang bahkan telah memasang tenda, bermalam di gunung Ungaran. Merapi, Sumbing, Sindoro, Semarang bawah, dan laut Jawa menjadi pemandangan kolosal kami dari puncak ini. Ah, akhirnya saya bisa naik gunung lagi, memanjakan mata dengan view luas nan jauh yang sedap dipandang, dan kembali memikirkan keagungan ciptaan Allah di bumi Indonesia ini. Subhanallah. Allahu Akbar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s