Resensi Buku Islam Liberal 101

image

Bismillah. Akhirnya ada niatan juga untuk membuat resensi buku buku yang pernah saya baca. Tapi ga semua buku. Terhitung dari buku yang saya baca dari mulai pertengahan tahun 2013 ini aja. Kebanyakan soalnya kalo semua buku yang udah pernah saya baca.

Oke kali ini saya mau meresensi sebuah buku bagus yang dikarang oleh Akmal Sjafril. Denger denger sih ia adalah pencetus gerakan ITJ (Indonesia Tanpa JIL). Buku ini berjudul “Islam Liberal 101”. Cover depannya pun menyimpan kesan angker dan ngeri. Hitam warnanya. Tapi berbanding terbalik dengan covernya, isi buku ini luar biasa. Isi buku sangat disusun secara sistematis dan tersetruktur. Logika bahasa yang digunakannya pun dapat membuat kita tertegun dengan kenyataan bahwa tak akademisnya pada penyandang predikat ‘cendekiawan’ dari kalangan JIL (Jaringan Islam Liberal) dalam melempar argumen.

Isi buku dibagi ke dalam lima bagian serta kata penutup. Ghazwul Fikriy, Dari Barat ke Timur, Modus Operandi, Cemoohan Mereka, Al-Munaafiquun, dan Kata Penutup. Tiap bagian memiliki subbagian masing masing, kecuali bagian Al-Munaafiquun dan Kata Penutup.

Pada bagian pertama, Ghazwul Fikriy, dibeberkan secara gamblang realita kehidupan masa kini. Kita sekarang hidup di masa Perang Pemikiran. Perang Pemikiran ini merupakan perang abadi yang telah berlangsung sejak dulu, dulu sekali, saat proyek penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dan, kita dihadapi pada kenyataan bahwa Iblis merupakan The Real Ultimate Enemy. Makhluk ini merupakan makhluk tersombong yang pernah ada sepanjang sejarah penciptaan alam semesta karena sesungguhnya kita pun tahu bahwa Allah Maha Tahu Segala Hal, dan Maha Pengampun, namun apa yang terjadi saat Iblis dengan congkaknya merasa—sekali lagi hanya dengan merasa—dirinya—dalam anggapan spekulatifnya—adalah makhluk yang jauh lebih baik manusia, karena ia diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Maka sekali-kali tidak demikian, hanyalah Allah Yang Maha Mengetahui siapa yang lebih mulia di hadapan-Nya. Iblis telah berani melangkahi kehendak Allah, bahkan ilmu Allah. Seakan-akan merasa bahwa Allah itu ‘salah’, dan ia yang benar. Lalu bukannya meminta ampun atas dosanya itu, ia malah meminta dipanjangkan umurnya, alih-alih membalas dendam kesumat terhadap anak-cucu Adam. Maka inilah contoh mutlak dan jelas tentang tenggelamnya makhluk Allah dalam kolam kesombongan. Iblis tahu bahwa ia salah, tapi ia terlalu amat sangat gengsi untuk mengakui kesalahannya. Kesombongannya telah menutupi mata hati dan merusak akalnya.

Perang Pemikiran yang ada kini tidak lain dan tidak bukan merupakan perang yang sama dengan kemasan yang agak berbeda mengikuti perkembangan zaman dan peradaban. Namun para pelakunya menggunakan metode yang sama seperti para pendahulu mereka—dengan dibumbui modernisme tentunya. Dan mereka inilah para kaki tangan Iblis—yang rela bekerja demi proyek besar Iblis. Mereka inilah orang-orang yang menjual iman mereka dengan harga murah.

“Dari Barat ke Timur” adalah bagian kedua. Disini dikupas tentang seluk beluk sejarah dari penggunaan istilah “Islam Liberal” itu sendiri. Islam kok Liberal? Nyatanya ini adalah istilah yang dipaksakan. Dan jika ditarik benang merah terhadap gembong istilah Islam Liberal ini, dapat kita telusuri bahwa biangnya berasal dari Sekularisme. Sebuah paham yang memisah-misahkan manusia dari fitrahnya—yaitu urusan dengan Tuhan—yang lahir atas dampak dari phobia terhadap kebijakan absolut gereja pada masa Dark Age di Eropa.

Disini juga dipaparkan mengenai macam-macam cabang pemikiran sekular, yang intinya satu: interpretasi kebenaran secara serampangan. Indikasi-indikasi ini pun timbul akibat dari kesombongan—lagi-lagi kesombongan—Yahudi dan Nasrani yang tidak mengindahkan kebenaran bahwa nabi terakhir untuk akhir zaman berasal dari keturunan Nabi Ismail. Bahkan dalam sekali libas Al-Quran secara merta menerangkan kebusukan mereka yang mengubah isi kitab-kitab terdahulu dan membunuh para nabi tanpa alasan yang haq. Jelaslah kemarahan mereka telah sampai ubun-ubun, sehingga timbullah gerakan untuk menghancurkan Islam tersebut melalui penafsiran-penafsiran secara serampangan, dan menyebar tuduhan-tuduhan stereotipe tentang Islam. Dan kini gerakan tersebut kita kenal dengan sebutan Orientalisme.

Modus Operandi. Pada bagian tiga ini dijelaskan mengenai metode-metode yang mereka gunakan dalam menghaluskan makar mereka—para pengusung JIL. Mulai dari permainan istilah, tuduhan palsu, pembelokan masalah, pemotongan ayat, dan lempar batu sembunyi tangan, menjadi makanan wajib mereka dalam melancarkan aksi-aksi mereka. Dari karakteristik penyerangan mereka ini dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya mereka kurang—atau bahkan tidak—pantas menyandang gelar ‘cendekiawan’ muslim. Segala perbuatan mereka sungguh tak bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Mereka, dalam berargumen, banyak menggunakan catutan yang tidak jelas sumbernya sehingga memaksa kita untuk terus menerus mengecek referensi kebenaran penuturan mereka. Dan, juga harus sering beristighfar. Dan saya pun heran, ngakunya muslim, tapi kok ngehina agama sendiri?

Di bagian Cemoohan Mereka diberikan contoh-contoh yang sering mereka gunakan untuk berargumen saat mereka dalam keadaan terjepit. Dan, sekali lagi, cemoohan mereka ini memang benar-benar cemoohan yang jauh dari kata “intelek”. Alih-alih ingin memenangi sebuah perdebatan, mereka malah membuat lawan debatnya dilarang untuk mengeluarkan statement tentang kebenaran. Sering kali mereka menggunakan istilah yang—sungguh—tak layak digunakan pada saat berdebat.

Al-Munaafiquun. Telah jelas—bagaikan jelasnya terang bulan di malam hari—perbedaan antara yang haq dan bathil. Tidak ada batasan samar di antara keduanya, yang ada hanyalah garis tegas yang membuat klasifikasi besar di antara keduanya. Tidak ada yang namanya penggabungan antara energi kesalehan dan energi kemaksiatan akan menjadi energi yang lebih baik dari kebenaran itu sendiri. Yang ada hanyalah membuat batas garis tebal yang telah jelas menjadi samar-samar. Dan inilah yang orang-orang munafik lakukan. Mereka berusaha menggabungkan dua energi tersebut, dan—barangkali—berharap akan muncul energi yang lebih ‘positif’ dan dahsyat akan penggabungan abnormal tersebut.

Al-Quran telah menjelaskan secara rinci ciri-ciri orang munafik, dan juga dijelaskan di dalam bab ini. Bukan berarti saya men-judge para pengusung JIL adalah orang-orang munafik (biarlah Allah yang menentukan), saya—berdasarkan buku ini—hanya memaparkan ciri-ciri orang munafik yang—wallahu alam—seakan ada pada mereka.

Pada bagian penutup, Kata Penutup, merupakan sebuah tulisan oleh Taufiq Ismail—seorang tokoh terkenal di Indonesia—yang berjudul “Gelombang Liberalisma, Antara Lain Melahirkan Gerakan Syahwat Merdeka (dalam Angka-Angka)”. Agak berbeda dengan bagian-bagian sebelumnya pada buku ini yang menjelaskan tentang latar belakang, sejarah, jenis-jenis, dan sepak terjang para pengusung JIL, pada bagian Kata Penutup ini dipaparkan mengenai effect jangka panjang dan bukti kuantifikasi dari kedahsyatan destruksi sosial yang diakibatkan oleh pemberlakuan pemikiran-pemikiran Sepilis (Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme), yaitu GSM (Gerakan Syahwat Merdeka). Tanpa saya jelaskan lebih panjang, para pembaca cerdas pasti telah maksum terhadap makna GSM tersebut. Yang ingin saya lakukan hanya mengutip beberapa kalimat dalam bagian Kata Penutup ini:

“…Ketika Anda 3 menit selesai membaca kata penutup ini, sudah 12 bayi anak bangsa Indonesia diaborsi sebagai akibat langsung-tidak langsung Gerakan Syahwat Merdeka ini, dimotori liberalisme tanpa batas. Orang-orang Islam Liberal sebaiknya sebaiknya membayangkan bayi-bayi dalam jumlah begitu besar yang sudah jadi mayat-mayat itu, dan menundukkan kepala. Bersedihlah! Ini bukan akibat kerja Islam Liberal sendirian. Islam Liberal cuma sekrup kecil dalam mesin gigantis kartel narkoba, alkohol, asap rokok, dan internet mesum yang basah kuyup, semakin kaya raya berenang dalam samudera trilyunan mata uang negara mana saja.”

Advertisements

3 thoughts on “Resensi Buku Islam Liberal 101

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s