‘Perjalanan’ ke Thailand

image

Istilah “penelitian” atau “riset” sejatinya tidak bisa dilepaskan dari yang namanya mahasiswa. Begitu pula halnya dengan kisah saya yang satu ini. Setelah pulang dari Korea (bisa dibaca di tulisan-tulisan saya sebelumnya), saya berusaha untuk mencoba lagi ‘maen’ keluar negeri. Kegagalan untuk belajar nihongo (bahasa jepang) di Meiji University, Tokyo, Jepang, pada pertengahan Juli 2013 kemarin dikarenakan gagal mendapatkan beasiswa, padahal nama saya telah lolos untuk bisa berangkat ke Tokyo, tidak menjadikan saya menyerah. Dan sekali lagi, ada kesempatan untuk ‘maen’ keluar negeri. Kali ini tujuannya adalah Bangkok, Thailand.

Cerita ini dimulai dari bertambahnya keseriusan saya untuk improve skill riset saya. Mulai dari lomba Technopreneurship dari Kemenristek RI, PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), hingga paper contest- paper contest yang ada, saya coba sambangi. Dan hingga suatu ketika informasi tentang kontes paper dari Permitha a.k.a PPI Thailand sampai di laptop saya. Ini link nya. AASIC 2013

Singkat kata, perjuangan pembuatan paper pun dimulai hingga menjelang deadline pengiriman paper. Aktivitas searching bahan untuk judul paper kami ini menjadi makanan saya sehari-hari. O ya, paper yang saya kirimkan ini mengatasnamakan kelompok, bukan perseorangan. Tim kami terdiri dari dua orang, saya sendiri dan satu teman saya. Tanya sana sini ke dosen-dosen dan mahasiswa-mahasiswa jurusan sendiri dan jurusan lain juga menghiasi hari-hari saya dalam penyusunan paper tersebut. Tujuannya cuma satu: membuat paper kami struktural dengan metode ilmiah yang akurat dan memiliki sitasi yang ilmiah.

Untungnya saya memiliki keahlian yang lumayan bisa dibanggakan (bukan bermaksud sombong), saya mahir dalam membuat struktur kalimat dan tulisan yang sistematis, sehingga tata bahasanya lebih tertata rapi. Tidak seperti teman saya yang tulisannya agak sulit ditangkap mengenai struktur kebakuannya walaupun secara bahasa slang-nya, saya bisa memahami maksudnya. Namun, hal tersebut tidak bisa kita gunakan dalam bahasa akademis. Ada aturan baku yang mengaturnya.

Paper karya kami pun berhasil kami kirim ke email panitia penyelenggara sebelum tanggal 20 September. Sekarang, hanya satu hal yang perlu kami lakukan: terus berdoa menjelang pengumuman kelolosan paper. Hari demi hari terlewati. Seminggu, dua minggu. Tiap hari tak pernah saya lewati tanpa mengecek inbox email saya. Setelah 2 minggu dari tanggal 20 September, saya mendapat email dari panitia. Kaget. Ini belum masuk hari yang dijanjikan untuk memberitahu pengumuman kelolosan. Setelah saya buka, baca dengan saksama, ternyata isinya memberitahukan saya untuk memperbaiki bagian referensi paper kami dalam waktu dua hari. Jelas saja, pada saat penyusunan paper tersebut, saya tidak mengikuti standar dari template yang dilapirkan oleh panitia. Saya ga begitu paham soalnya saat itu. Saya malah mencari standarisasi lain. Tak ayal, panitia ‘mengomeli’ kami yang nyeleneh tidak mengikuti aturan. Alhamdulillah setelah bertanya kepada dosen, akhirnya saya bisa menyesuaikan referensi paper tersebut sesuai dengan yang diminta panitia. Sekali lagi, paper saya kirimkan. Bismillah, ada angin segar yang menyatakan bahwa kemungkinan paper kami akan lolos. Betapa tidak, buat apa panitia mau repot-repot memberitahu saya untuk segera memperbaiki referensi?

Satu minggu semenjak pengiriman paper yang kedua hampir berlalu. Saat itu sudah lebih dari tanggal 7 Oktober—tanggal yang dijanjikan panitia untuk mengabarkan paper yang lolos lewat email. Saya pun juga telah berpikiran “ya udahlah, mungkin saya termakan PHP panitia. Masih ada paper contest yang lain”. Namun, hingga suatu ketika—sekitar tanggal 10 atau 11 Oktober—saya mendapat telepon dari teman saya itu. Bukannya mengabarkan tentang lolos atau tidaknya paper kami, ia malah langsung menanyakan tentang bagaimana mencari dana untuk berangkat ke Bangkok. Sekonyong-konyong saya pun langsung bingung. Maksudnya apa? Hingga akhirnya ia agak tertegun setelah mengetahui bahwa saya tidak tahu menahu soal lolosnya paper kami karena memang tidak ada satu pun email dari panitia yang nyangkut di inbox saya setelah hari pengiriman kedua itu. Saya pun bingung mengapa panitia tidak mengabarkan kelolosan paper kami ini ke email saya, padahal sayalah yang mengirim paper pertama kali, dan saya pulalah yang dikabari panitia untuk membetulkan referensi, lalu saya mengirimkan paper—yang telah dibetulkan—kembali. Namun, terserah panitia, yang terpenting alhamdulillah, Allah menjawab usaha dan doa kami.

Perjuangan pun belum berhenti. Kali ini kami harus bergulat dengan, ya uang, karena ternyata kami harus membayar sejumlah uang untuk biaya registrasi ke panitia, dan tentu saja kami harus pula siap sedia untuk urusan akomodasi—tempat tinggal, makanan, dan transportasi—selama disana, beserta oleh-oleh tentunya (ini yang paling wajib). Kami hanya punya waktu selama satu pekan untuk early bird registration atau sampai dua pekan untuk registrasi normal, terhitung dari tanggal 9 Oktober, yaitu tanggal saat pengumuman kelolosan tersebut sampai di inbox teman saya. Dan ini adalah suatu kegilaan. Kami harus mencari uang masing-masing orang—sangat minimal—5 juta hanya dalam waktu segitu.

Satu minggu telah berlalu, early bird registration telah hangus, tapi kami belum mendapatkan uang bantuan. Hari-hari menjelang pekan kedua. Teman saya berhasil memasukkan proposal ke pihak birokrasi universitas. Tapi masih jauh harapan, pihak universitas hanya menjanjikan tiap orang 1 juta, dan itu pun cair setelah acaranya selesai. Saya makin gila. Tak mungkin pula saya minta uang ke orang tua. Saya mau cari uang sendiri.

Akhirnya, saya coba konsultasikan dengan dosen yang waktu itu pernah saya mintai tolong perihal referensi yang tidak sesuai tersebut. Saya jelaskan kepada beliau bahwa paper kami lolos. “Bagus!” jawaban singkat dan kilat beliau sambil mengacungkan jempolnya. Tapi itu semua langsung sirna saat saya ceritakan mengenai dana yang tak kunjung dapat. Beliau pun menyarankan saya untuk menghadap ke Kepala Jurusan, dan coba tanya soal dana. Insya Allah dapat katanya.

Tanpa berpikir panjang, langsung saya laksanakan segera saran beliau. Kepala Jurusan pun saya temui. Dengan lantang, singkat, padat, dan penuh keyakinan saya jelaskan kelolosan paper kami. Anehnya beliau malah meragukan paper kami. Malah beliau sempat bilang bahwa saya harus berhati-hati terhadap kasus penipuan yang mengatasnamakan paper contest yang harus mengirimkan sejumlah uang. Apa-apaan ini maksudnya?! Dengan tegas langsung saya bantah dengan menjelaskan—sekali lagi—bahwa paper contest ini resmi dari pihak PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Thailand, dan—sekali lagi—saya sodorkan surat penerimaan paper kami untuk diundang dalam presentasi langsung di Bangkok, Thailand. Saya heran dengan Kepala Jurusan saya, bukannya malah ikut bahagia karena saya akan membawa nama Jurusan kami di tingkat Internasional—seperti halnya dosen yang saya ceritakan sebelumnya—ia malah mengeluarkan statement yang—walaupun penting memang—tidak sesuai dengan tempatnya. Namun, kekesalan saya sedikit terobati ketika saya mengatakan bahwa saya disarankan oleh seorang dosen untuk meminta dana dari pihak Jurusan. Akhirnya, Kepala Jurusan saya ini meminta saya untuk memanggil kepala TU (Tata Usaha) Jurusan. Tidak seperti penuturan Kepala Jurusan saya yang seakan-akan kurang mendukung saya, kepala TU ini lebih memberi saya harapan—walaupun belum tentu juga. Ia meminta saya untuk memberikan berkas yang saya bawa, dan menunggu besok atau lusa.

Menjelang akhir oktober merupakan pekan UTS di Jurusan saya. Saya pun harus mempersiapkan ujian ini sebaik-baiknya. Ditambah lagi, terhitung mulai tanggal 4 November, saya akan memulai Kerja Praktek di BPPT Serpong, tepat setelah pekan UTS selesai. Dua hal ini membuat saya kalang kabut. Konferensi di Bangkok akan diadakan pada tanggal 4-5 November, padahal saya harus menyiapkan UTS dan KP. Diperparah lagi dengan birokrasi yang berbelit-belit mengurus proposal sponsorship kami dan sulitnya dana cair, entah itu dari universitas, fakultas, maupun jurusan. Selain itu, waktu yang sangat amat mepet dari tanggal pemberitahuan yaitu tanggal 9—telat dua hari dari yang seharusnya tanggal 7—hingga tanggal batas registrasi dan tanggal keberangkatan memperparah kondisi saya.

Saya mencoba terus berjuang mengerjakan tiga hal tersebut: UTS, KP, dan Bangkok. Terus-terusan mencoba. Namun, akhirnya saya sadar, saya bukan manusia super. Ini sudah terlalu amat mepet. Sudah tak ada lagi harapan. Kondisi memaksa saya untuk mengurungkan niat saya menjelajah negeri yang dikenal dengan Gajahnya itu. Sudah tidak mungkin bagi kami untuk berangkat. Bukan berarti saya takluk pada keadaan, tapi inilah realita. Saya tetap berjuang, namun takdirullah berkata lain. Mungkin Allah punya rencana lain yang lebih baik bagi saya. Mungkin ini adalah pelajaran bagi saya.

Dan, sekali lagi, mimpi untuk keluar negeri, ke Thailand, kandas. Namun, perjuangan hidup belum selesai.

Note: mohon maaf, saya tidak bisa memberitahu judul paper kami dikarenakan paper kami ini belum/tidak jadi dipublikasi oleh pihak Perpitha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s