SEDIKIT CORETAN PENGALAMAN SELAMA DI KOREA (PART 4 OR LAST)

Untuk objektivitas, lalu untuk hal-hal negatifnya seperti glamour. Tidak akan sulit untuk menemukan kehidupan malam di Korea. Shopping shop pun dimana mana. Korea adalah negeri belanja, apalagi di ibukota Korea Selatan, Seoul. Oleh karena itu, bersiaplah menjaga diri dan membentuk tameng dengan budaya glamour Korea yang aku rasa sangat over.

Lelaki berdandan berlebihan. Pernah aku melihat lelaki Korea membawa sisirnya saat menunggu lift. Dan tidak jarang ponsel para lelaki disini selain memiliki fungsi sebagai alat komunikasi, tapi juga memiliki kemampuan sebagai cermin, dan mereka sering mengaca di cermin ini. Tampilan lelaki di Korea pun aku rasa agak jauh jika dibilang sebagai lelaki macho, maskulin, dsb, karena memang mereka lebih cocoknya disebut sebagai ‘Lelaki cantik’. Mulus, putih, polos, halus, bersih, licin, persis seperti seorang wanita.

Krisis konsep keindahan. Plastic surgery adalah jalan keluarnya. Maakurakat Korea agak aneh dalam mendefinisikan makna cantik, indah, atau tampan. Salah satunya, bagi mereka mata orisinil asli Korea bukanlah mata yang indah. Bagi mereka wajah yang agak kebaratbaratanlah yang disebut cantik. Bagi mereka keindahan adalah segalanya, maka tak jarang job vacancy mencari para pelamar yang memiliki wajah menarik, dan mereka yang notabene memiliki wajah kurang menarik harus rela terus menerus disingkirkan.

Sulit berkomunikasi bahasa asing. Coba saja berkomunikasi dengan bahasa inggris dengan orang Korea yang anda temukan di jalan. Yang ada adalah mereka akan melambaikan tangan. Entah mengapa, masyarakat Korea seakan anti dengan bahasa internasional ini, padahal kita ketahui bahwa ada banyak warga negara AS yang berada di Korea. Jadi mau tidak mau kita harus bisa menguasai bahasa mereka jika ingin berkomunikasi secara lancar dengan mereka.

Freesex. Pelukan bukan barang asing lagi, bahkan hal yang sangat sangat biasa. French Kiss pun masih dibilang hal yang wajar dilakukan oleh sepasang kekasih. Ujung ujungnya melakukan zina dengan sang pasangan—yang belum sah tentunya—atas dasar sama sama suka merupakan hal yang tidak sedikit pemuda pemudi Korea lakukan. Bahkan kita akan sangat mudah menemukan alat kontrasepsi seperti kondom disini.

Budaya minum. Saat orang Korea merasa tertekan dengan aktivitas hariannya yang begitu padat, mereka melepaskan stress tersebut dengan minum minuman alkohol bersama kawan kawan mereka. Mereka menganggap momen tersebut merupakan momen yang indah dimana mereka bisa saling lebih mengenal satu sama lain.

Supir angkutan umun yang seperti ‘joki’. Hati hati, dan kencangkan sabuk pengaman saat anda menggunakan taksi di Korea. Supirnya akan membawa anda untuk ngebut. Tak jarang jika memang sepi, supir tersebut akan berani menerobos lampu merah. Tujuannya hanya satu, membawa kita ke tempat tujuan secepat mungkin. Bagus memang, namun tidak berarti menghalalkan segala cara seperti ini. Tidak hanya taksi, supir bus kota pun sering menyetir busnya dengan cara yang kurang nyaman dirasakan oleh penumpang.

Bermain game online. Inilah negeri dimana game online banyak berasal dari sini karena inilah negeri yang bagai surga bagi penikmat akses internet yang cepat. Bahkan ada salah satu channel di televisi Korea yang sepanjang hari HANYA menayangkan bagaimana memainkan salah satu game online. Pemuda pemuda disini juga saat ingin melepaskan stress dan menghabiskan waktu akan lebih sering memilih bermain game online, seringnya sampai over.

Terlalu mudahnya akses konten dewasa bagi anak di bawah umur. Iklan pakaian dalam wanita ditayangkan di sebuah monitor di dalam sebuah department store, dan ada anak kecil yang menonton iklan tersebut. Inilah kasus yang akan sering kita lihat. Bahkan ada iklan di Youtube—iklan yang harus kita lihat sebelum menonton video yang kita inginkan—yang menampilkan produk bra—yang tidak pantas jika ditayangkan di Indonesia—yang menampilkan anak kecil sebagai salah satu pemeran dalam iklan tersebut. Bisa anda bayangkan sendiri hilangnya batasan norma tersebut, khususnya bagi anak anak.

Setengah lebih warga negara Korea Selatan adalah atheis. Aku tidak begitu tahu angka pastinya, tetapi yang jelas bagi mereka agama itu bukanlah sesuatu yang penting dan dibutuhkan. Bahkan ada cerita dari temanku bahwa temannya yang Korea pernah dalam suatu kegiatan resmi ditanya apakah agamanya, ia pun bingung. Lalu setelah sedikit berpikir, ia pun memutuskan untuk memilih agama kristen. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena persediaan makanan di bagian agama tersebut paling banyak dibandingkan agama-agama lain. Sedih sekali mendengarnya. Semurah itukah aqidah?

Disebabkan oleh jumlah banyaknya jumlah para atheis tersebut maka cukup banyak pula jumlah misionaris di Korea. Ajaran yang dibawanya pun tak tanggung-tanggung. Salah satunya yang pernah mendatangi flat salah satu temanku di GF. Mereka membawa ajaran kristen dengan sekte yang tak pernah ku dengar sebelumnya. Mereka memiliki bibel sendiri. Bahkan mereka menyatakan bahwa surga hanya akan ditempati oleh 140.000 orang saja. Dan mereka menyampaikan ajarannya tersebut dari pintu ke pintu. Dan prioritas mereka adalah para orang asing. Itu hanya sebagian kecil dari misionaris di Korea. Ada pula misionaris yang tertata rapi berkemasan tertata dengan embel-embel organisasi sosial bertaraf nasional bahkan internasional. Seperti inilah yang patut kita waspadai.

Bercerita dan menginformasikan mengenai universitas-universitas di Korea rasanya sangat tidak tepat dan adil jika kita lewatkan dan hanya bercerita mengenai kehidupan sehari-hari dan budaya Korea. Sepanjang yang kutahu hingga saat ini hampir di setiap kota di Korea pasti memiliki sebuah universitas negeri, atau paling tidak memiliki universitas swasta. Namun, yang menjadi trend setter dari universitas-universitas di Korea itu biasanya hanya dua. Bisa dikatakan ‘UI’ dan ‘ITB’-nya Korea. ‘UI’-nya Korea adalah SNU (Seoul National University). inilah universitas di ibukota Seoul yang terkenal dengan ilmu-ilmu sosialnya walaupun tidak menutup kemungkinan jika kita ingin belajar ilmu-ilmu alam di universitas yang memiliki komplek kampus yang kurang lebih tiga kali lebih luas dibandingkan komplek kampus UI Depok. Lalu ‘ITB’-nya Korea adalah KAIST (Korean Advanced Institute Science and Technology). Sebuah kampus riset bertaraf internasional di kota Daejeon—sekitar dua jam perjalanan dari Seoul dengan menggunakan bus. Saat mengunjungi KAIST, aura dan atmosfer riset dan penelitian sungguh benar-benar terasa kental di kampus ini. Namun, berkuliah di SNU ataupun KAIST bukanlah menjadi acuan bagi orang Korea maupun orang asing yang berkuliah di Korea untuk menjadi ‘orang’, karena hal tersebut kembali lagi kepada masalah gengsi-gengsian.

Banyak pula profesor-profesor di universitas-universitas di Korea yang berasal dari luar negeri. Ada pula yang merupakan profesor lulusan dari Harvard University atau Massachussets Institute of Technology. Jadi sudah dapat dipastikan bahwa perkembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan di Korea maju pesat. Pemerintahnya pun mendukung program tersebut dengan gencar-gencarnya memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa dari luar Korea untuk mengambil studi di Korea, karena logikanya seperti ini: jika banyak mahasiswa asing yang belajar di universitas-universitas Korea maka secara langsung maupun tidak langsung penelitian-penelitian di universitas tersebut akan terangkat, dan lagi universitas tersebut akan semakin membuka wawasannya kepada globalisasi internasional. Mencetak para alumni berwawasan dunia yang turut sumbangsih dalam mambangun Korea, maka hal ini akan berdampak—salah satunya—kepada akreditasi internasional universitas tersebut, menjadikan universitas-universitas di Korea bertaraf internasional.

Tapi bagiku—walaupun dengan SNU-nya yang terkenal dengan ilmu-ilmu sosialnya—Korea lebih cocok dijadikan destinasi studi dalam bidang ilmu alam, khususnya teknologi. Seperti kita tahu bahwa perkembangan teknologi di Korea saat ini sedang bertumbuh pesat. Bahkan teknologi dan riset perkembangan semikonduktor di Korea—seperti informasi yang kudapat saat mengikuti CISAK 2013—adalah yang nomor 1 di dunia saat ini. Maka segeralah para mahasiswa yang mengambil konsentrasi studi yang berhubungan dengan elektronika untuk melanjutkan studi disini walaupun tidak menutup kemungkinan bagi ilmu-ilmu teknologi yang lain. Dengan dukungan ilmu dari profesor-profesor dari universitas-universitas ternama dunia, fasilitas dan infrastruktur yang sangat mendukung, dan kultur riset yang kental—walaupun tidak selamanya absolut—mengambil studi di Korea bukanlah pilihan yang salah, melainkan sangat menjanjikan.

Kembali ingin menceritakan tentang Korea, tetapi dari segi iklimnya. Jadi Korea merupakan negara yang memiliki empat musim. Kawasan negara-negara tetangga Korea juga memiliki iklim yang sama, seperti di Jepang dan China bagian utara. Awal tahun lewat sedikit—sekitar awal Maret—biasanya dimulai dengan musim semi. Lalu dilanjutkan dengan musim panas pada bulan Juni sebagai tanda meningkatnya temperatur udara. Lalu suhu udara akan kembali turun dengan ditandai oleh musim gugur pada awal September—dengan banyaknya tumbuhan yang berguguran. Hingga terakhir memasuki musim dingin di bulan November, puncaknya musim dimana suhu kehilangan kalornya, yang terkadang dihiasi dengan turunnya hujan salju. Dan pada akhirnya akan kembali kepada musim kembali.

Orang terkadang akan berpikiran bahwa musim semi itu hangat. Pandangan tersebut sangat salah total. Tahukah bahwa suhu udara di musim semi itu berkisar antara 10-20 derajat celcius? Bahwa terkadang jika sampai turun hujan, suhunya bisa turun hingga 5 derajat. Maka tak ada kata hangat di musim semi pada kenyataannya. Namun, bagiku musim semi adalah musim terbaik di antara 3 musim lainnya. Selain banyak bunga yang bermekaran dengan amat sangat indahnya, di musim semi pula suhu dan kelembaban terjaga stabil dan proporsional. Tidak begitu panas, dan tidak terlalu dingin walaupun pastinya bagi orang seperti kita suhu seperti sudah terhitung dingin.

Musim panas itu bagiku tidak enak. Seperti yang telah kubilang, suhu di musim panas sangat tinggi dan kelembaban udaranya pun tinggi. Kita akan sangat mudah berkeringat. Namun, yang enak dari musim panas adalah suhu air laut telah tepat bagi kita untuk memulai berenang di laut. Maka bisa kita tebak tontotan-tontonan apa yang biasa terjadi di pantai Korea pada musim panas. Di musim panas pula kita bisa merasakan yang namanya mie dingin. Bahkan terkadang pakai es. Pasti aneh terdengarnya, tetapi setelah dirasakan ternyata mie tersebut enak juga dimakan.

Saat temperatur sedikit demi sedikit mulai turun maka itulah awal dari musim gugur. Jujur sebenarnya aku belum pernah merasakan langsung bagaimana musim gugur sesungguhnya. Namun, yang jelas adalah suhunya tidak akan jauh beda dengan musim semi, tapi berkebalikan. Jika musim semi semakin lama suhu semakin naik dan puncaknya adalah masuk ke musim panas, maka musim gugur semakin lama suhu semakin turun dan puncaknya adalah masuk musim dingin. Dan lagi di musim gugur itu sering bermunculan angin-angin mematikan yang dingin. Musim gugur juga merupakan waktu yang paling tepat jika kita ingin mengunjungi Namiseom (Nami Island) atau kawasan pegunungan karena kita akan melihat keindahan dari warna-warni dedaunan yang begitu indah menyihir mata.

Siapa bilang musim dingin itu enak? Nyatanya musim dingin itu menyusahkan. Dingin, kelembaban sangat rendah mengakibatkan kulit kering dan bibir pecah-pecah, dan bahkan terkadang air di pipa pun bisa juga ikut membeku. Hal yang membuat musim dingin atau salju terlihat indah bagiku itu hanya satu, yaitu salju yang turun yang mengakibatkan penglihatan kita sejauh mata memandang itu hanya putih semua. Dan sungguh mengasyikkan bermain di salju yang turun.

Kisah yang sangat menyenangkan memang. Pengalaman luar biasa selama di negeri Korea. Tak peduli aku orang mau bilang apa mengejekku dengan sebutan operasi plastik, boyband, V-neck, dsb, yang jelas bagiku apa yang telah kulihat, kudengar, kurasakan, kucicipi, kujejaki, dan kualami di Korea langsung, sangat amat berbeda jauh dengan apa yang mereka pikirkan tentang Korea.

Maka perjalananku di bumi Korea diakhiri terakhir kali di Incheon International Airport, seperti halnya saat perjalananku dimulai dari bandara yang pernah menjadi bandara terbaik dunia ini. Sedih bercampur senang saat aku akan segera meninggalkan Korea. Banyak kisah tak terlupakan yang pastinya akan kubagikan, terutama kepada anak dan cucuku kelak.

Dan yang namanya perjumpaan pasti akan selalu diiringi oleh perpisahan. Berat rasanya meninggalkan Korea, Gangneung, GF, Seoul, sahabat-sahabat IKMI, seafood khas Korea, dan semuanya yang telah membuatku betah di negeri orang. Aku telah ditempa di negeri orang. Aku telah belajar banyak mengenai etos kerja orang Korea. Maka aku akan semakin mendisiplinkan diri. Banyak cita-cita yang semakin jelas akan bisa kuraih setelah banyak belajar dari Korea. SEMANGAT!!

Dengan mengucap bismillah dan alhamdulillah saat sebelum pergi meninggalkan Korea dengan menaiki maskapai penerbangan kebanggaan Indonesia—Garuda Indonesia—sambil kubawa dua bagasi beratku yang berisi pakaian, buku, dan oleh oleh yang kubeli dari pasar Dongdaemun dan Homeplus, aku berangkat pulang untuk kembali berjuang untuk lulus S1 dan pasti akan meneruskan citaku meneruskan studi S2.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s