Sedikit Coretan Pengalaman Selama di Korea (Part 3)

Berbicara makanan pasti takkan terlepas dengan yang namanya bulan Ramadhan. Ditambah lagi aku menghabiskan hampir sebulan penuh berpuasa di Korea. Hanya tertinggal dua kali buka puasa, sekali sholat tarawih, dan sekali sahur yang masih bisa kulaksanakan selama di Tanah Air. Pastilah hal ini menjadi tantangan tersendiri buatku. Bagaikan berjuang hidup di tengah sahara yang panas membakar untuk berjuang mencari sebuah oasis.

Perjuangan Ramadhan tersebut dimulai dari waktu bangun sahur yang begitu dini hari. Jadi pada saat bulan Ramadhan tersebut, di Korea sedang mengalami musim panas, dengan jam siangnya yang lebih panjang dari biasanya. Otomatis waktu untuk berpuasa pasti juga akan lebih panjang—mengingat waktu puasa adalah dari terbitnya ufuk timur hingga terbenamnya matahari. Di Korea sendiri—pada saat bulan Ramadhan—rata-rata waktu shubuh adalah sekitar pukul 3 lebih sedikit hingga pukul 4 kurang seperempat a.m., sehingga sebelum waktu shubuh tersebut, kita harus telah siap sedia untuk menyambut sahur. Lalu waktu buka puasa sekitar jam setengah 9 kurang hingga paling cepat jam setengah 8 lebih p.m. Belum lagi dihitung dengan waktu isya dan sholat tarawih. Maka jika ditotal, sekitar pukul 11.30 lebih aku baru bisa beristirahat. Itupun aku tidak bisa langsung istirahat. Jadi untuk ukuran bersihnya, kira-kira setiap hari aku rata-rata tidur selalu di atas jam 1 pagi. Bahkan terkadang tidak tidur hingga shubuh, baru tidur setelah sholat shubuh.

Sebenarnya untuk waktu panjang seperti itu tidak hanya terjadi di bumi Korea saja, melainkan juga terjadi di setiap negara yang memiliki empat musim. Apalagi di negara Norwegia, mereka harus tahan dan kuat untuk berpuasa 20 jam per hari. Oleh karena itu, bersyukurlah kita di negara Indonesia yang memiliki waktu normal tidak begitu drastis dan signifikan perbedaan perubahan peredaran mataharinya, yang berdampak pada lebih dimudahkannya kita dalam menunaikan ibadah-ibadah.

Selain problematika waktu terhadap perjuangan puasa di Korea, lingkungan sekitar pun turut punya andil dalam menambah masalah berpuasa di Korea. Sekali lagi aku tekankan, musim panas. Terik matahari musim panas di Korea ini memang tidak sedahsyat seperti di Indonesia. Namun, yang membuat gila adalah suhu dan kelembaban udaranya. Suhu udara pada musim panas rata-rata selalu di atas 30. Begitu pula pada malam hari. Maka tak heran, sering aku mandi pada malam hari setelah baru tiba di mushola IKMI, karena memang udara yang panas dan kelembaban yang tinggi membuat kita sangat mudah sekali berkeringat dan merasa haus. Sangat berbeda sekali di Indonesia yang walaupun siang harinya panas, namun pada malam harinya cukup dingin.

Masalah lingkungan sekitar yang lain adalah lingkungan dari masyarakat Korea itu sendiri. Orang Korea itu selalu berganti style pakaian sesuai dengan musimnya. Jika musim dingin mereka menggunakan pakaian tebal untuk menghangatkan tubuh, maka pada musim panas mayoritas dari mereka akan menggunakan pakaian yang tipis dan jarang-jarang, apalagi dari kaum hawanya. Inilah yang menjadi masalah besar pula jika kita berpuasa di Korea. Istilah kerennya adalah “kentucky fried chicken”. Paha Dada.

Jika di Indonesia, pada saat bulan Ramadhan, atmosfer dan suasananya datang dan sedang bergulirnya bulan Ramadhan itu sangat kental dan dapat kita rasakan. Sangat berbeda jauh dengan di Korea. Hampir tidak ada sama sekali suasana yang menunjukkan bahwa sekarang adalah bulan Ramadhan. Malah serasa tak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Ini semua kembali lagi karena memang lingkungan sekitarnya. Tapi alhamdulillah, dengan segudang tantangan dalam berpuasa di Korea, tak ada satupun hari dalam bulan Ramadhan tanpa berpuasa ku jalani.

Aku jadi ingin sedikit menyinggung tentang masyarakat Korea beserta budayanya. Jika dibandingkan dengan Indonesia—dengan melimpahnya suku di negeri kita—maka di Korea kita hanya akan menemukan satu jenis ras, yaitu ras Korea. Itu saja, tidak lebih, dengan kulit putih khas mereka. Maka tak heran jika dari ujung utara ke selatan dan ujung barat ke timur, ras yang kita temukan hanya ada satu. Jika ada orang barat yang mengaku warga negara Korea, maka ia bukan warga negara Korea asli, melainkan warga negara pindahan.

Bahasa yang mereka gunakan pun juga hanya satu, yaitu bahasa Korea. Tidak ada perbedaan bahasa di seluruh penjuru Korea Selatan. Yang berbeda hanyalah aksen. Seperti yang terjadi pada masyarakat Korea di kota Seoul dengan yang berada di kota Busan. Aku juga mendapatkan informasi bahwa bahasa yang digunakan oleh Korea Utara adalah bahasa Korea pula walaupun ada kata-kata yang berbeda. Bisa dikatakan seperti halnya dengan bahasa Inggris dari Amerika Serikat dengan bahasa Inggris dari Inggris Raya.

Ada kebiasaan unik orang Korea dalam hal minuman dan makanan. Kita di Indonesia mengenal bahwa memberi sesuatu dengan menggunakan tangan kanan itu lebih baik dibandingkan dengan menggunakan tangan kiri, alias tangan kiri tidak sopan. Lain hal di Korea. Terserah mau menggunakan tangan kanan ataupun kiri. Namun, satu hal, cara memberi dan menerima sesuatu yang sopan bagi mereka bukan dengan menggunakan satu tangan melainkan menggunakan kedua tangan. Begitu pula saat minum, mereka—untuk menunjukakan rasa sopan—menggunakan kedua tangan.

Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, setiap musim orang Korea selalu menggunakan busana yang berbeda. Jika misalkan sekarang adalah musim gugur, lalu bulan depan adalah musim dingin dan bersalju, maka pakaian musim gugur tersebut tidak akan mungkin dapat digunakan pada saat musim dingin. Begitu pula jika musim semi dan musim panas tiba sehingga mereka akan menggunakan pakaian khusus musim tersebut di tahun berikutnya. Maka yang terjadi adalah pakaian-pakaian tersebut akan banyak yang disimpan. Namun, bagi kebanyakan kalangan masyarakat Korea, menyimpan pakaian musiman seperti itu tidak efisien, mereka lebih memilih untuk menjual atau membuang pakaian tersebut, lalu pada saat musim menjelang pergantian musim barulah mereka kembali membeli pakaian baru. Dan tahukah kemana hasil buangan pakaian-pakaian mereka pergi? Tidak lain dan tidak bukan menuju ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. Coba saja tengok pasar Poncol di Jakarta.

Ada lagi kebiasaan orang Korea, khususnya mahasiswa, yang menurutku sangat tidak praktis. Rata-rata mahasiswa-mahasiswa di Korea tinggal di asrama kampus. Selain bagus, memang sangat terjamin jika tinggal di asrama. Namun, yang menjadi sorotanku adalah pada saat menjelang liburan semester pada tiap semesternya, mahasiswa-mahasiswa yang tinggal di asrama selalu mengemas barang-barang mereka untuk dikirim ke rumah masing-masing. Semua barang yang mereka miliki. Namun, ada juga sebagian barang mereka yang mereka buang. Lalu saat liburan akan berakhir, mereka akan mengirim barang-barang mereka kembali ke asrama. Namun, kamar mereka akan berbeda dari kamar mereka sebelumnya. Pengurus asrama mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan agar kamar-kamar di asrama dapat dibersihkan. Tetapi apakah efisien dan praktis menggunakan metode kirim pulang dan kirim balik seperti itu? Menyusahkan dan boros dana saja bagiku. Apalagi dana untuk mengirim barang-barang mereka tersebut tidaklah murah.

Kebiasaan lain, orang Korea itu sangat sering meludah sembarangan. Maka sering kali pada saat berjalan kaki aku menemukan bekas ludah yang mengering dimana-mana. Tak mengerti aku mengapa mereka tak menganggap ludah itu jorok.

Kebiasaan lain, mengenai kertas tisu. Kita pasti akan sangat mudah menemukan tisu dimana-mana selain di toilet tentunya. Mereka sering menjadikan tisu sebagai pengganti air dalam membersihkan sesuatu. Aku heran apakah hal tersebut tidak termasuk dalam pemborosan dan berdampak pada penambahan jumlah produksi penebangan pohon dalam pembuatan tisu. Namun, setelah ku sempat bertanya mengenai hal tersebut, teman Koreaku mengatakan bahwa di Korea daur ulang tisu sangat gencar dilakukan sehingga penggunaan tisu sangat mudah dilakukan. Jika memang daur ulang yang dilakukan, bagiku terus saja dilakukan. Dan jangan hanya tisu yang didaur ulang.

Saat kelaparan di malam hari, di Indonesia kita akan mudah menemukan tukang nasi goreng keliling, atau jika mau berjalan sedikit, maka takkan sulit menemukan warung bubur hijau. Berbeda dengan di Korea. Jika anda kelaparan di malam hari, maka laparlah anda sepanjang malam jika anda tak mampu membuat masakan sendiri. Tidak ada yang namanya tukang makanan keliling. Sekalinya ada hanya seperti warung Odaeng yang telah ku ceritakan sebelumnya. Namun, jangan berkecil hati, kita masih bisa menemukan minimarket karena memang di Korea itu minimarket sangat mudah ditemukan. Tidak hanya satu atau dua franchise yang memonopoli. Di minimarket tersebut kita bisa membeli roti atau makanan cemilan lain yang bisa menghentikan kekosongan perut.

Selayaknya sebuah negara yang menjadikan Barat sebagai kiblatnya maka Korea pun tidak sedikit mengadopsi kebiasaan-kebiasaan dan budaya-budaya orang Barat. Seperti contoh dalam bidang olahraga. Masyarakat Korea sangat suka sekali dengan olahraga-olahraga yang trend di Amerika Serikat, seperti baseball dan bola basket. Sering aku melihat tayangan-tayangan di televisi Korea mengenai olahraga-olahraga tersebut. Menurutku sepak bola bagi Korea bukanlah olahraga yang utama dan banyak digemari disana.

Sedikit berbicara mengenai hal-hal yang berbau mistis. Entah mengapa tidak ada hal-hal tersebut yang terlihat jelas dan nampak di Korea. Bahkan saat aku dan dua orang temanku yang sempat kemalaman di tengah hutan gunung yang gelap gulita dengan hanya diterangi cahaya bulan dan ponsel seadanya, kami sama sekali tak menemukan hal-hal ganjil dan mencurigakan. Tidak seperti di Indonesia, yang pastinya bukan orang sembarangan yang berani di hutan gunung malam-malam dengan penerangan seadanya, karena sama-sama kita ketahui bahwa gunung-gunung di Indonesia itu pastinya memiliki makhluk gaibnya masing-masing. Mungkin penyebab hal ini adalah karena mayoritas masyarakat Korea itu sendiri yang tak mengakui adanya Tuhan, alias atheis. Bahkan sangat jarang sekali aku menemukan pemakaman di Korea. Hanya tempat-tempat tertentu saja yang terdapat kuburan. Itupun bisa dihitung dengan jari. Dan setelah ku telisik lebih lanjut, ternyata memang orang Korea setelah meninggal lebih suka memilih untuk membakar jenazahnya ketimbang menguburnya, karena biaya penguburan di Korea yang cenderung tidak murah sehingga hanyalah orang-orang tertentu sajalah yang mampu melakukan penguburan jenazah. Itupun di dataran-dataran tinggi biasanya.

Dari kebiasaan dan budaya orang Korea maka dapat kusimpulkan bahwa terdapat dua jenis, yaitu hal-hal positif dan hal-hal negatif. Seperti misalnya masyarakat Korea sangat hormat terhadap orang orang yang lebih tua. Tidak tahu mengapa sepertinya memang budaya Timur itu cenderung lebih ramah dibanding budaya Barat.

Penggunaan bahasa. Mereka membedakan cara berkomunikasi dengan orang yang sepantaran dengan orang yang lebih tua. Ini juga terlihat di tata bahasa mereka. Bahkan aku pernah terkena sedikit omelan dari Seonsaengnim (sebutan untuk Guru di Korea) karena aku sempat menggunakan tata bahasa untuk orang sepantaran kepada beliau.

Loyal terhadap produk dalam negeri. Lihat saja, hampir semua barang elektronik dan otomotif merupakan produk hasil negara mereka sendiri. Sebut saja ponsel Samsung, Lift Hyundai, Mesin Cuci Samsung, Air Conditioner Samsung, Mobil Hyundai atau Kia, dsb. Ya mungkin juga disebabkan karena produsen produsen mereka telah Go International. Namun terlepas dari itu semua, mereka sangat mengapresiasi tinggi terhadap produk lokal.

Inovatif. Tak sedikit barang barang yang aku temukan selama di Korea memiliki keunikan tersendiri. Benda benda tersebut mempunyai fungsi yang tepat guna, bahkan tak pernah terpikirkan oleh aku bahwa inovasi tersebut memang perlu, padahal sehari hari kita mengamati kejadian tersebut. Sebut saja troli di bandara yang memiliki rem di handelnya. Penggunaan teknologi sensor dimana mana. Penahan pintu agar tidak menabrak dinding saat dibuka secara kasar, dsb.

Masyarakat peduli tampilan. Mereka selalu berusaha untuk bisa tampil rapih, dimanapun itu sehingga membuat kita nyaman untuk melihatnya. Maka tak heran jika kita akan mudah menemukan cermin dimana mana.

Budaya antre. Sempat aku bingung saat akan menuju kantin asrama untuk makan malam. Banyak orang berbaris. Awalnya aku tak tahu apa sebabnya, namun setelah diberi tahu, aku baru sadar ternyata mereka semua sedang mengantre sangat untuk menuju ke kantin. Dan aku pun harus ikut mengantre. Tidak hanya itu, mereka pun akan menjaga budaya antre ini bahkan saat di toilet sekalipun.

Semangat tinggi dalam teknologi. Beberapa tahun yang lalu mungkin Korea bukanlah sebagai destinasi untuk teknologi tinggi. Namun lihatlah sekarang. Korea lambat laun terus berkembang melalui teknologinya. Walaupun belum menyamai teknologi negeri matahari terbit—Jepang, teknologi di Korea tidak dapat diremehkan.

Makan kimchi. Masyarakat Korea sering, bahkan hampir selalu, menjadikan kimchi sebagai sayur pelengkap dalam makanan mereka. Sayur ini rasanya masam karena memang kimchi merupakan sayur hasil fermentasi. Namun di balik itu semua, masyarakat Korea gemar memakan sayur sayuran, terutama kimchi. Inilah salah satu rahasia yang menjaga tubuh mereka tetap sehat.

Kerja keras. Setiap kali ada tugas atau apapun itu, orang Korea selalu berusaha untuk menyelesaikannya sesegera mungkin. Itu mengapa mereka akan sangat tidak mau diganggu sedikitpun saat agenda mengerjakan tugas ini dimulai.

Jadwal dan waktu yang ketat. Jadwal makan pukul sekian hingga sekian. Kuliah pukul sekian hingga sekian. Kumpul pukul sekian hingga sekian. Mereka ketat terhadap waktu maka jangan heran jika kita akan sering telat jika kita masih menerapkan jam karet disini.

Image

Advertisements

3 thoughts on “Sedikit Coretan Pengalaman Selama di Korea (Part 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s