Sedikit Coretan Pengalaman Selama di Korea (Part 2)

Tinggal di Ibukota Korea merupakan sesuatu yang sangat berkesan. Istilah anak gaulnya, aku bisa disebut sempat menjadi Citiy Boy di kota mega metropolitan ini. Dengan lalu lintas manusia yang padat hampir di setiap sudut kota menjadikanku juga harus dapat menyesuaikan dengan kecepatan kerja para penduduk Korea tersebut. Bahkan tiap hari kerja pada saat jam-jam berangkat kerja dan/atau sekolah—antara pukul 7-9 pagi—dan jam-jam pulang kerja dan/atau sekolah—antara pukul 4-6 sore—kota besar yang tak memiliki pantai ini sangat dipenuhi lautan manusia, tambah lagi jika kita berada tepat di stasiun-stasiun Seoul Metro Train di penjuru kota ini atau di dalam keretanya. Karena memang Seoul Metro Train sebagai arteri transportasi kota Seoul. Cepat, nyaman, aman, tepat waktu, bersih, akses mudah, modern, high-tech, dsb. Seoul Metro Train sendiri memiliki sekitar belasan jalur kereta yang menghubungkan seluruh penjuru Seoul dan kota-kota sekitarnya. Inilah yang menjadikanku mudah untuk mengeksplorasi Seoul hingga sudut-sudut kotanya yang berada jauh dari mushola IKMI.

Sekitar belasan objek wisata di Seoul dan sekitarnya yang telah kukunjungi. Cukup banyak seperti ini pun karena memang akses menuju tempat-tempat tersebut terbilang mudah. Apalagi ditambah dengan mudahnya menggunakan jasa angkutan transportasi Seoul Metro Train. Mulai dari wisata tradisional hingga modern telah kutelusuri. Mulai dari wisata di dataran rendah hingga di dataran tinggi kusinggahi. Mulai dari wisata keindahan hingga wisata pengetahuan kujelajahi. Seoul memang memiliki begitu banyak tempat wisata. Namun satu benang merah yang dapat kuambil adalah secara garis besar wisata di kota Seoul lebih menitikberatkan kepada wisata Temple walaupun tidak hanya kuil-kuil yang kudatangi. Namun yang kusaluti dari wisata-wisata di Korea, dan Seoul pada khususnya adalah sebagian besar tempat-tempat kunjungan wisata tersebut free, alias tidak dipungut biaya sama sekali. Hanya beberapa fitur yang mengharuskan kita untuk membayar sejumlah uang yang tidak begitu mahal.

Di sebelah barat daya kota Seoul terdapat sebuah kota satelit dari kota Seoul. Kota ini bernama Ansan. Sebuah kota yang memiliki banyak pabrik industri maka tak heran jika jumlah imigran di kota ini merupakan jumlah terbesar di Korea. Saat pertama kali datang ke kota ini, aku seperti tidak merasa bahwa kota ini adalah sebuah kota di negara Korea Selatan. Sangat berbeda dari kota-kota di Korea pada umumnya. Bukan perbedaan yang positif ataupun baik memang. Perbedaan yang sangat mencolok ini adalah kebersihan dari kota ini, khususnya di stasiun Ansan dan pasar yang berada di seberang pintu gerbang masuk stasiun Ansan. Sampah dimana-mana. Mungkin karena predikat jumlah imigran terbanyak inilah yang menjadikan kota ini lebih didominasi para pendatang yang notabene berbeda dalam berperilaku dan disiplin dengan warga asli Korea.

Ada pula hal menarik dari kota Ansan. Di kota ini mudah sekali untuk menemukan restoran-restoran yang menyediakan makanan khas Indonesia. Sedikit dapat mengobati rasa kangen terhadap Tanah Air, apalagi pada saat itu saat kami makan di salah satu restoran tersebut, televisi restoran sedang menayangkan saluran RCTI. Semakin membuatku rindu dengan rumah tercinta. Dan di kota ini pula diselenggarakan acara akbar OID (One Indonesian Day). Sebuah event khusus ‘milik’ warga negara Indonesia dari ujung utara hingga ujung selatan Korea, dari ujung barat hingga ujung timur Korea.

Ansan yang terkenal dengan banyaknya pabrik industri ini juga mengundang banyak para jobseeker, maka tak sulit—jika kita berkeliling di kota ini—untuk menemukan semacam job distributor, yang berperan sebagai penyalur kerja paruh waktu dari para employer kepada para part-time job seeker. Upah yang didapat untuk bekerja selama sehari sekitar 8 jam kerja juga cukup menggiurkan, yaitu antara 50.000 – 100.000 Won. Maka tak aneh jika waktu itu aku pernah mendengar ada istilah bahwa rata-rata para pekerja Indonesia di Korea itu hidupnya lebih makmur jika dibandingkan para pelajarnya. Hitung saja sebulan sudah bisa dapat berapa Won.

Aku sempat tertarik untuk mencoba menjajal pekerjaan ini. Memang pekerjaannya tidak mudah, karena rata-rata pekerjaan yang ditawarkan adalah pekerjaan di tempat bangunan, seperti menjadi kuli bangunan. Aku tak pernah punya track record untuk bekerja semacam itu. Tapi setelah melihat kenyataan lapangan, ditambah lagi pada saat itu merupakan bulan Ramadhan, maka kuputuskan untuk tidak mencari pekerjaan dalam bentuk kerja kasar seperti ini. Namun terkadang aku heran. Pekerjaan kasar seperti itu bisa digaji cukup besar—jika dikurs ke dalam rupiah. Lalu berapakah penghasilan para pemilik pabrik-pabrik atau perusahaan-perusahaan tersebut? Sungguh sedih bangsa kita.

Terlepas dari tidak sepadannya upah antara para jobseeker dengan employer, part-time job memang biasanya banyak digandrungi oleh para student Korea. Biasanya mereka memanfaatkan liburan semester untuk bekerja paruh waktu, untuk menambah uang saku mereka. Namun, mereka tidak bekerja di tempat kasar seperti itu, melainkan di toko atau restoran, biasanya sebagai penjaga toko, pelayan restoran, atau pencuci piring. Aku juga pernah melihat kesempatan untuk bekerja sebagai penjaga toko di toko cinderamata khas Korea. Tapi apa dikata, aku telat untuk datang ke Seoul, dan lowongan tersebut telah diisi oleh orang lain.

Terlepas hal-hal yang terkesan agak sedikit formal, ternyata terkadang aku juga sempat merasakan hal-hal yang lucu dan unik selama di Korea. Sebut saja kebiasan buang angin di Korea yang tak kenal rasa malu. Pernah waktu itu saat aku sedang asik-asiknya duduk menikmati udara sore hari kota Seoul tepat di depan sebuah minimarket, dan tanpa rasa malu sedikitpun ada seorang bapak buang angin seenaknya plus dengan bunyinya tepat di pinggir jalan. Jarak ia denganku hanya sekitar 3-5 meter. Untung saja angin saat itu sedang bertiup kencang menjauh dariku, alhasil semerbak ‘harum’ bau tersebut tak sempat kunikmati.

Ada lagi hal yang aneh. Setiap kali orang Korea akan masuk ke dalam kereta metro Seoul yang sedang kosong penumpang, pasti mereka selalu mengincar tempat duduk di sudut yang ada sandaran tangannya. Tidak hanya itu, jika saat gerbong kereta cukup ramai, lalu penghuni salah satu tempat duduk ‘keramat’ tersebut akan beranjak meninggalkan kereta, pasti 75% orang Korea yang duduk di sebelahnya akan berpindah bergeser ke tempat ‘keramat’ tersebut. Aku pun bingung entah mengapa mereka begitu ngototnya dalam mendapatkan tempat tersebut. Dan lama kelamaan ternyata aku pun mengikuti kebiasaan tersebut.

Jika kita berkesempatan mengunjungi Korea, pasti kita akan merasa ada yang hilang terhadap kendaraan transportasi mereka sehari-hari. Bukan menjadi modelnya warga Korea untuk memngendarai sepeda motor sebagai transportasinya. Oleh karena itu, yang hampir selalu kita lihat di jalan adalah kendaraan bermotor beroda empat atau lebih. Walaupun begitu ada juga beberapa orang yang memiliki sepeda motor. Namun sekalinya mereka memiliki sepeda motor, motor gedelah yang mereka punya, yang memiliki tangki bahan bakar sangat besar. Namun motor bebek seperti di Indonesia bisa pula kita temukan, tetapi hanya dan hanya jika digunakan sebagai transportasi delivery makanan atau hal yang lain dalam jarak dekat.

Ada pengalaman unik lainnya. Tetapi kisah ini bukan aku sendiri yang mengalaminya, melainkan temanku yang berangkat bareng dan tinggal bareng saat di Korea. Saat itu dia sedang perjalanan pulang dari Homeplus (nama sebuah supermarket) di daerah Sindorim. Lalu saat sedang berjalan, tanpa sadar ponsel dia terjatuh. Setelah hampir sampai di halte bus atau stasiun (aku agak sedikit lupa), dia baru sadar bahwa ponselnya tidak ada. Dia pun bergegas menelusuri kembali jejak langkah dia sebelumnya. Belum sampai di tempat ponselnya jatuh, dia dipanggil-panggil oleh seorang pengemis yang tadi sempat dia lewati. Dan tanpa diduga ternyata pengemis tersebut memberikan ponsel temanku yang hilang tersebut. Luar biasa. Tak habis pikir gumamku. Bisa saja pengemis itu membawa kabur ponsel temanku tersebut lalu ia jual. Toh, ia seorang pengemis, ia pun sangat butuh uang untuk melangsungkan hidup. Singkat kata, istilah bersalah rasanya kurang tepat jika disematkan kepada pengemis tersebut jika ia mengambil saja barang temuannya itu. Memang kondisi yang mendesaknya. Apalagi ponsel temanku tersebut cukup menguntungkan jika dijual. Ponselnya adalah Samsung Galaxy S. Namun apa yang terjadi? Pengemis itu tak melakukan perbuatan hina tersebut. Ia lebih memilih untuk menjauh dari perbuatan yang lebih hina dari mengemis—perlu digarisbawahi bahwa aktivitas mengemis di Korea tidak serta merta persis seperti mengemis di Indonesia. Aku jadi malu dengan bangsa sendiri saat mendengar cerita temanku tersebut.

“Ppaliwa”. Itulah istilah yang sering digunakan oleh orang Korea untuk mengindikasikan bahwa kita harus segera dan cepat dalam bergerak. Hampir seluruh aspek dalam kehidupan bangsa Korea mengadopsi istilah tersebut. Apapun harus cepat, begitupun saat makan. Terkadang aku suka heran, takjub, dan kasihan melihat orang Korea makan dengan sangat cepat, padahal terkadang makanan tersebut bisa jadi panas atau mungkin dingin. Kuat sekali gigi dan lidah mereka. Apalagi jika mereka makan mie, cepatnya luar biasa. Tidak hanya makan, saat berjalan pun mereka hampir selalu berjalan cepat di setiap momen. Terinspirasi oleh jalan cepat tersebut, aku menjadi merasa tak mau kalah saat ada orang Korea yang membalapku saat aku sedang berjalan. Dan yang terjadi adalah kami terlihat seakan sedang balapan.

Pernah saat aku pergi ke Seoul dari Gangneung saat hari kamis di sore hari (yang sebenarnya adalah malam) dan tiba di mushola IKMI pukul setengah 12 malam, yang lalu sabtu sangat paginya aku kembali lagi ke gangneung karena suatu urusan, dan lalu kembali lagi ke Seoul saat sorenya. Ini benar-benar akhir pekan yang sangat amat melelahkan sekali. Terasa seperti membunuh seluruh tulang-tulang tubuhku, dan lagi sangat tidak sehat untuk kebaikan keuanganku selama di Korea. Akhir pekan tersebut merupakan akhir pekan yang cukup panjang dikarenakan pada hari jumatnya adalah hari libur nasional negara Korea sehingga kampusku pun libur. Dan sialnya pada saat perjalanan keduaku ke Seoul di akhir pekan itu kemacetan di jalan tol pun melanda. Tak bisa dielak memang, ini adalah akhir pekan yang cukup panjang. Banyak orang Korea yang ingin berlibur. Alhasil, perjalananku ke Seoul sangat telat, dan aku pun tiba di terminal Dong Seoul sekitar pukul setengah satu dini hari. Dan Seoul Metro Train itu hanya beroperasi antara pukul 5 pagi hingga 12 malam. Lalu yang kulakukan adalah bermalam di terminal tersebut dengan udara malamnya yang sungguh sangat dingin karena sangat tidak mungkin aku menumpang taksi dari terminal tersebut menuju mushola IKMI. Bisa 50.000 won lebih mungkin habis seketika. Terminal bagian dalam pun dikunci. Jadi mau tidak mau aku harus merasakan bagaimana ‘nikmatnya’ menjadi gelandangan di Korea diselimuti dinginnya malam yang sangat menusuk. Tidak hanya itu, orang mabuk pun sempat ku temui, dan orang mabuk yang gila itu mengajakku berbicara dengan gaya sempoyongannya. Benar-benar malam yang takkan pernah terlupakan.

Pernah suatu hari saat makan malam bersama suami istri yang tinggal di dekat kampusku yang telah kuceritakan sebelumnya, pihak restoran salah dalam memberikan hidangan pesanan salah satu dari kami. Setelah protes bahwa kami memesan makanan yang berbeda, pihak restoran pun meminta maaf lalu mengganti makanan yang salah tersebut dengan makanan yang memang dipesan, dan memberikan sekaleng coca cola sebagai perminta maaf. Bagus juga pikirku. Pernah juga—walaupun dalam kasus yang berbeda—jadi setiap makan di warung makan asli Korea, kita selalu mendapatkan sidedishes beberapa macam. Dan sidedishes ini bisa kita tambah walaupun lauk utama kita telah habis. Aku pun selalu melakukan hal ini, selalu meminta sidedishes yang memang enak rasanya.

Jadi, cara makan orang Korea itu adalah mereka biasanya jarang makan sendirian. Jika anda pernah menonton film Korea, khususnya film yang berjudul Le Grand Chef, pasti anda akan mempunyai gambaran bagaimana cara makan orang Korea. Ada beragam lauk dan sayur yang diletakkan di mangkok masing-masing. Lalu tiap orang memegang mangkok kecil berisi nasi, dan memiliki sumpit dan sendok masing-masing. Dan lauk dan sayur tersebut dimakan bersama-sama. Jadi bisa kita lihat kalau di meja tersebut sangat dipenuhi makanan.

Tidak jauh berbeda dengan negara-negara tetangga yang satu ras dengan Korea, orang Korea pun makan menggunakan sumpit. Namun yang sedikit membedakan adalah selain sumpit, warga Korea juga menggunakan sendok saat makan karena porsi mereka makan biasanya terdapat sayur kuah atau sup sehingga sendok pun dibutuhkan.

Aku pernah diberitahu oleh teman dari Gangneung Family bahwa profesor dia pernah memberitahu bahwa dulu saat negara Korea Selatan masih menjadi negara miskin berkembang, warga Korea makan dengan nasi yang lebih banyak daripada lauk. Namun, kini saat Korea telah menjadi negara maju, lauklah yang lebih banyak dibandingkan dengan nasi. Dan jika masih merasa lapar, barulah kita tambah nasinya. Maka tak heran berat badanku sempat bertambah cukup drastis selama di Korea. Walaupun aku tidak bisa makan daging di cafetaria asrama, ternyata makanan yang lain pun gizinya sangat terjamin.

Banyak sekali makanan khas Korea, tetapi yang terkenal di telinga kita hanya beberapa. Sebut saja Bibimbap, Kimbab, Kimchi, Lamyeon, dsb. Memang cukup banyak juga makanan yang rasanya ekstrem saat tiba di lidah. Seperti kimchi. Kimchi pun sering bahkan selalu dijadikan sidedishes. Aku pun sering heran, banyak orang kita sombong ingin mencoba rasa kimchi, tetapi saat dibawakan kimchi asli dari korea, serta merta langsung dimuntahkan karena tak tahan dengan dingin dan rasa asamnya. Sama halnya dengan oleh-oleh permen ginseng yang sempat kubawa pulang. Memang wajar lidah kita kurang cocok, tapi harus dipaksakan cocok. Pertama kali pun dulu aku juga seperti itu, tapi kupaksakan makan. Dan lama kelamaan lidah pun akan menyesuaikan, karena jika kita tidak bisa bertahan terhadapa makanan penduduk lokal kita berada, kita akan sangat sulit survive di tempat tersebut. Dan sekarang, aku menjadi kangen dengan kimchi.

Selain makanan berat tersebut, ada pula makanan ringan seperti Tteokppokki, Odaeng, dan seperti gorengan tapi aku lupa namanya. Makanan-makanan seperti ini sering kali dijajakan pada malam hari di pinggir-pinggir jalan kota, atau bahasa kerennya “Angkringan khas Korea”. Jika kita pernah menonton film atau anime Jepang saat pemerannya sedang makan atau minum di suatu kedai, kurang lebih angkringan yang ku maksud seperti itu.

Jika di Indonesia, khususnya di Warteg, kita akan mudah menemui bahwa orang makan lalu mengakhiri makanannya dengan meminum es teh, maka lain hal dengan Korea. Tidak ada yang namanya minum es teh setelah makan. Yang mereka tahu adalah minum air putih setelah makan—terlepas dari memang rasa teh asli Korea itu tidak enak dan pahit. Minum air putih setelah memang ternyata sehat. Namun aku herannya sering kali setiap selesai makan, orang Korea selalu minum air putih yang airnya dingin sekali. Bahkan saat menyantap makanan yang panas. Apa mereka tidak takut giginya akan rusak?

Jika berbicara minuman selain air putih, orang Korea pun minum minuman selain air putih. Kopi, minuman yang paling dan sangat digemari masyarakat Korea. Dan kita pun tak akan sulit untuk menemukan Coffee Shop di Korea. Minuman keras pun digemari disana. Oleh karena itu, tidak sulit bagi kita saat malam hari untuk menemukan orang mabuk dengan napas berbau alkohol, sama halnya dengan yang pernah kualami saat bermalam di terminal. Minuman keras yang biasa mereka konsumsi bernama Seoju dan Maekju. Prihatin aku melihatnya, penjualan botol-botol miras tersebut sudah layaknya seperti menjual botol-botol sprite atau coca cola. Mudah sekali ditemui dimana-mana.

Untuk informasi jika anda belum mengetahuinya, Korea Selatan merupakan negara sekutu dan bonekanya Amerika Serikat. Dan salah satu dampak AS terhadap Korea Selatan dalam hal makanan adalah banyak sekali restoran-restoran cepat saji yang menyediakan layanan antar 24 jam. Dan ternyata masyarakat Korea Selatan pun memang menyukai jenis makanan yang satu ini. Ada pizza, fried chicken, fried beef, fried pork, dan masih banyak lagi, dan tidak hanya restoran fast food yang kita tahu di Indonesia seperti KFC, Pizza Hut, McDonalds, A&W, dsb. Dan ingat, kendaraan yang digunakan untuk layanan antar restoran fast food tersebut adalah motor bebek.

Melihat beragam makanan Korea tersebut, menjadikan aku sebagai seorang muslim harus selalu awas dan waspada terhadap apa yang akan ku makan. Dan ingat telah jelas bahwa daging disini haram, apapun jenis dagingnya, kecuali yang diimpor dari negeri muslim atau dari KMF (Korean Muslim Federation) yang jelas keabsahan kehalalannya. Bahkan ada beberapa restoran yang padahal menunya adalah seafood tapi menjadi haram karena masaknya dicampur dengan daging-daging haram tersebut. Oleh karena itu, hanya beberapa jenis makanan saja yang bisa kumakan saat makan di cafetaria kampus ataupun restoran. Dan kau tau, rasanya itu seperti surga saat menu makan di cafetaria itu full seafood.Image

Advertisements

8 thoughts on “Sedikit Coretan Pengalaman Selama di Korea (Part 2)

  1. par says:

    wah bagus bgt nih mas artikelnya,,kalo part time di ansan spesifiknya dimana y mas?kebetulan saya lagi ada di korea… 😀

    • wah kalo spesifiknya saya ga begitu hapal daerahnya
      Tapi yang jelas di ansan itu banyak semacam distributor pekerja gitu
      Coba aja cari di sekitar pasar ansan, di daerah belakangnya

      • Rizky B. Shadow says:

        aku boleh minta nomer H/ID Line gak? Pin BB juga bisa. aku mau tanya tentang korea. sama sama orang Jogja. hhaha. Matur suwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s