Sedikit Coretan Pengalaman Selama di Korea (Part 1)

Sedikit mencicipi rasanya tinggal di luar negeri itu adalah salah satu impianku sejak dulu. Mungkin tidak hanya aku, kawan-kawan yang lain pasti pun ingin dapat seperti itu pula. Ya kisah ini merupakan unforgettable story in my life. Sebuah kisah yang insya Allah akan menjadi pecutan keras bagiku pribadi untuk meningkatkan azzam dan semangat untuk mengejar mimpi-mimpiku selanjutnya, dan semoga juga dapat menginspirasi kawan-kawan agar kita bersama dapat menuai mimpi-mimpi indah kita.

Di pagi ini, pagi di hari Jumat dimana aku telah kembali ke Tanah air tercinta untuk kembali berjuang. Berjuang meneruskan asa dan citaku untuk memajukan negara dan bangsaku. Karena aku sadar, bukan hujan salju yang rata-rata dimiliki negara-negara maju yang saat itu pernah ku rasakan yang membuat bangsa kita belum bisa maju. Bukan pula orang berras kulit putih yang saat itu sehari-hari hanya ras tersebut yang ku temui. Bukan pula lama atau tidaknya bangsa kita telah merdeka. Melainkan kembali lagi pada diri kita masing-masing. Terkadang aku suka malu sendiri. Mengapa bangsa kita yang besar ini tidak mempu melampaui bangsa lain.

Berawal dari pertengahan tahun 2012, sebuah informasi tentang student exchange hadir di International Office Universitas Diponegoro. Bagiku mengajukan berkas ke program tersebut merupakan pengajuan berkas untuk yang kesekian kali, entah telah berapa kali aku telah berjuang. Bahkan hingga aku hapal alur dan prosedur bagaimana mendapatkan berkas-berkas tersebut dengan cepat dan tepat.

Alhamdulillah seleksi berkas dan wawancara pun berhasil aku lalui, aku masuk ke dalam nominasi yang siap untuk diberangkatkan. Setelah aku sedikit menganalisis, ternyata yang menjadi acuan pokok penilaian kelolosan tersebut bukanlah transkrip kita, melainkan motivasi kita untuk mengikuti program tersebut. Karena motivasilah yang menjadi aktivator seseorang untuk bergerak dan mempunyai semangat hidup. Motivasi itu yang mahal karena motivasi setiap orang pasti berbeda satu sama lain.

Aku akan berangkat ke Korea Selatan pada tanggal 2 Maret 2013. Semua perlengkapan kebutuhan selama disana sudah jauh-jauh hari kusiapkan. Mulai dari urusan ujung rambut hingga urusan ujung jari-jari kaki tak lupa kukemas. Aku tidak boleh kalap di negeri orang. Aku tidak boleh deg-degan dan takut untuk menjelajah negeri orang. Maka saat itu sabtu malam dengan diiringi keluarga tercinta yang selalu mendukung dan mendoakanku—dengan mengucapkan bismillah—aku berangkat bertolak dari Indonesia menuju negeri yang terkenal dengan tumbuhan ginseng.

Banyak ilmu, teman, pelajaran, pengalaman, dan pendidikan yang sangat amat luar biasa ku dapatkan di Korea. Sungguh takkan pernah ku menyesal telah mengorbankan waktu studi 1 semesterku untuk cuti demi berangkat ke Korea. Cuti satu semesterku itu sungguh benar-benar terbayarkan. Bagiku hidup di Korea selama 5 bulan lebih itu lebih ilmunya daripada kuliah di kampus selama 1 semester.

Selama masa studi di Kwandong University di Korea, aku tinggal di kota Gangneung. Sebuah kota dekat laut timur Korea. Sekitar sejauh jarak Semarang-Yogyakarta jika kita ingin mencapai Ibukota Korea, Seoul. Kota ini pun terkenal dengan makanan lautnya. Di kota ini pula aku ‘dilahirkan’ untuk menjadi temporary Korean citizen. Tak menyesal aku tinggal di kota Gangneung ini, selain kota ini tidak begitu padat dan suasananya masih asri, aku juga tinggal di sebuah lingkungan kampus yang sangat damai dan begitu banyak pepohonan rindang di kompleknya. Ya itulah kampus Kwandong University.

Korea memang dewasa ini sedang gencar memberikan beasiswa studi kepada mahasiswa asing. Tak ayal terdapat cukup banyak mahasiswa asing di kampusku. Dan bagiku bergaul tidak hanya dengan pribumi asli adalah suatu keharusan. Aku mendapatkan kawan banyak dari negara lain selain kawan-kawan dari Korea. Kami banyak bertukar pikiran, budaya, dan gaya hidup satu sama lain. Aku jadi bisa tahu ternyata memang dunia itu sangat luas. Tiap-tiap orang memang punya kepribadian masing-masing, bahkan perbedaan geografis dan bangsa pun ternyata juga turut andil dalam menentukan watak dan sifat seseorang. Aku pun sedikit belajar tentang bahasa mereka. Ternyata bahasa itu dipengaruhi oleh lingkungan alam teritori tempat mereka tinggal. Bagiku inilah salah satu yang menjadi pembeda buatku. Aku telah mampu bekerja secara kooperatif dengan manusia-manusia dari bangsa yang berbeda dengan latar belakang mendasar yang begitu berbeda.

Selain belajar bahasa Korea dan English di kampus, setelah selesai Midtest, kampus Kwandong mengadakan program wisata bagi para mahasiswa asingnya. Ini adalah salah satu momen yang sangat berharga. Betapa tidak, aku bisa mengunjungi tempat-tempat yang sangat interesting di negeri yang terkenal dengan K-Pop dan film dramanya itu.

Perjalanan wisata kami selama dua hari satu malam. Kami berkesempatan untuk mengunjungi Everland, biggest amusement park in Korea, Namiseom (Nami Island), tempat shooting Winter Sonata, dan daerah semacam traditional village. Malam harinya kami singgah untuk beristirahat di hotel.

Mengunjungi Everland merupakan pengalaman yang tak pernah terbayangkan olehku. Wahana-wahana bermain di tempat sungguh begitu banyak dan luar biasa. Mulai dari kekanak-kanakan hingga membuat spot jantung hadir di tempat ini. Dan beruntung sekali diriku pada saat itu dapat datang di saat musim semi sehingga aku berkesempatan untuk melihat pesona indahnya mekarnya bunga tulip di four seasons garden-nya Everland. Terasa seakan-akan Belanda yang terkenal sebagai negeri bunga tulip dan kincir angin yang nan jauh disana itu sempat hadir di depan mataku. Ah, sungguh luar biasa.

Seperti seakan menelusuri lorong waktu untuk melihat bangunan-bangunan sejarah Korea masa lampau pernah ku rasakan. Di komplek rumah-rumah khas korea tradisional tersebut banyak bertengger bangunan-bangunan yang menjadi arsitektur unik Korea. Aku serasa diajak kembali untuk menikmati haluan indahnya semilir udara dan pemandangan Korea tempo dulu. Memang kebudayaan bangsa-bangsa di Korea itu tak lekas digerus zaman. Bangsa-bangsa Asia memiliki sejarah peradaban yang kuat. Bangsa kita pun—Indonesia—memiliki begitu banyak variasi budaya. Bantu kami ya Allah untuk menjaganya.

Sebuah pulau di tengah sungai yang besar. Hanya berjarak beberapa kilometer dari Ibukota Provinsi Gangwon, Chuncheon. Ya inilah Namiseom, Pulau Nami, sebuah pulau yang menurut isu dijadikan sebagai tempat untuk membuat film Winter Sonata, sebuah film drama fenomenal Korea. Namun akung, aku saat itu datang tidak saat musim gugur atau musim salju, melainkan musim semi sehingga corak warna-warni daun atau putihnya lanskap tidak dapat kulihat. Yang sempat kulihat hanyalah pemandangan dedaunan hijau pekat dan bunga-bunga yang bermekaran.

Sedikit bercerita kembali tentang kota tempat ku tinggal di Korea beserta para Warna Negara Indonesia yang tinggal disana. Kami menyebutnya “GF”, sebuah singkatan dari Gangneung Family. Bagiku inilah keluargaku selama di Korea, khususnya di Gangneung. Sejauh apapun aku meninggalkan Ibu Pertiwi, alhamdulillah aku dapat pula menemukan kawan-kawan dari Tanah Air. Banyak cerita yang kami goreskan bersama di Gangneung Family ini.

Gangneung Family sendiri telah lama ada, dan seiring waktu para anggotanya kian bertambah. Ada yang sedang mengambil studi Doctor, Master, Undergraduate, maupun yang hanya sebatas student exchange diriku, dan ada pula yang sedang mencari rizeki di negeri tersebut. Ada perjumpaan ada pula perpisahan, begitulah yang terjadi di GF. Ada yang datang untuk memulai studi baru, dan ada juga yang akan pulang karena telah menyelesaikan studinya. Dan yang paling intens adalah para mahasiswa dari program student exchange sepertiku. Bisa dikategorikan sebagai tiba-tiba datang, dan cepat pergi kembali. Jadi jika dihitung-hitung, sudah ada cukup banyak anggota yang berasal dari student exchange semenjak Gangneung Family ini ada.

Masa studiku di Kwandong University hanya sampai tanggal 14 Juni 2013, yang ditandai secara simbolis dengan upacara penutupan. Maka akhir dari perjalananku di Korea sudah semakin di depan mata. Perpisahan dengan kawan-kawan di kampus menjadi sedikit rasa haru. Betapa tidak, kami menghabiskan waktu hampir setiap hari sekelas dan satu meja pula. Bercerita bersama. Sering pergi bersama. Berceloteh bersama. Sedih juga rasanya. Aku pun berjanji, suatu saat aku akan mengunjungi negeri mereka. Dan mereka pun berjanji suatu saat akan mengunjungi Indonesia.

Masa studi selesai, bagiku bukan berarti saatnya untuk bersegera pulang ke tanah air. Dari awal Maret hingga pertengahan Juni bagiku masih sangat dini untuk merasa puas menjelajah Korea, maka setelah masa tinggal di asrama kampus selesai, kuputuskan untuk tinggal sementara di salah satu kamar Flat kawan GF hingga awal Juli sebelum aku bertolak menuju Seoul, untuk tinggal disana hingga hari terakhir di Korea. Dan kuhabiskan masa-masa terakhirku di kota Gangneung yang asri dan damai ini untuk menjelah sudut-sudut kotanya sebelum pindahan ke Ibukota Seoul.

Hampir di tiap negara yang menjadi destinasi para pelajar untuk menuntut ilmu, pasti terdapat ikatan pelajar Indonesia disana, yang sering kali disebut sebagai PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), maka begitu pun di Korea. PPI di negara ini disebut sebagai PERPIKA, Persatuan Pelajar Indonesia di Korea. Inilah organisasi pelajar tertinggi di negeri ini yang bertugas melayani para pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di negeri ginseng. Aku pun tak luput untuk bergabung ke dalam persatuan ini. Menjadi bagian para pelajar Indonesia yang berwawasan global.

Di Korea pun terdapat semacam LDK (Lembaga Dakwah Kampus). IMUSKA namanya. Ikatan Mahasiswa Muslim di Korea. Fungsinya kurang lebih sama seperti lembaga-lembaga dakwah di tataran kampus di Indonesia. Selain untuk pelajar, di Korea juga ada lembaga dakwah untuk para pekerja, yang bernama KMI, Keluarga Muslim Indonesia. KMI sendiri membawahi sekitar belasan mushola-mushola di seluruh penjuru bumi Korea. Dan mushola-mushola tersebut juga memiliki organisasi tersendiri, namun dibawah naungan KMI tentunya. Alhamdulillah setelah mengetahui cukup giatnya aktivitas dakwah di Korea yang tidak hanya diambangi oleh para pelajar namun juga para pekerja, aku menjadi semakin Islam akan semakin kuat di bumi Korea.

Salah satu mushola naungan KMI yang berlokasi di Ibukota Seoul—bernama Mushola Al-Falah—yang diorganisasi oleh IKMI (Ikatan Keluarga Muslim Indonesia) menjadi tempatku berteduh hingga hari-hari terakhir. Inilah ‘gubuk’ kecilku yang sempat menjadi rumahku tercinta. Bertepat di daerah Guro di Ibukota Seoul menjadikan mushola ini sangat sering dikunjungi oleh para WNI saat akhir pekan. Tidak hanya oleh para pekerja, tapi juga oleh para pelajar, seperti aku contohnya. Disinilah tempat aku bisa merasakan keindahan ukhuwah Islamiyah di negeri nan jauh disana. Kami sholat berjamaah, tilawah, mendengar ceramah, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Bahkan dari sini aku bisa belajar cara masak yang berbeda-beda karena memang aku pernah diajar masak oleh orang yang berbeda-beda.

Sejak tahun 2008, PERPIKA memiliki suatu agenda program kerja besar. Program kerja ini bernama CISAK—Conference of Indonesian Students Association in Korea. Semasa tinggal di Seoul, aku berkesempatan untuk menjadi partisipan dalam laga acara akbar yang Ridwan Kamil dan Ilham Akbar Habibie berkesempatan hadir sebagai Keynote Speakers dalam acara itu. Walaupun CISAK yang keenam di tahun 2013 ini diselenggarakan di kota Daejeon—sekitar dua jam perjalanan dengan kereta kelas biasa—hal tersebut tak menghalangi niatku untuk bisa menjadi saksi langsung dalam perhelatan tersebut. Tak rugi aku bisa hadir dan menyaksikan secara langsung para pelajar penerus bangsa dengan pelbagai macam penelitian mereka yang luar biasa, dan tentunya Keynote Speakers yang tak kalah meriah. Banyak ilmu dan inspirasi yang bisa dipetik dari CISAK tersebut. Indonesia punya harapan yang cerah.

CISAK 2013 diadakan di kampus KAIST (Korean Advanced Institute Science and Technology) di kota Daejeon. Bisa dibilang KAIST adalah ‘ITB’-nya Korea. Inilah kampus riset bidang ilmu pengetahuan alam khususnya Engineering nomor wahid di Korea Selatan. Tak salah memang panitia dari PERPIKA memilih universitas ini sebagai tempat diadakannya CISAK 2013. Pun kota Daejeon—selain sebagai ibukota provinsi—dikenal sebagai kota ilmu pengetahuan. Tak heran jika KAIST dipilih untuk didirikan di kota ini.

Advertisements

9 thoughts on “Sedikit Coretan Pengalaman Selama di Korea (Part 1)

  1. lolmdr says:

    Terima kasih sudah berbagi cerita di sini. Tahun ini saya akan mencoba kuliah dual-degree di Suwon. Rasanya berat meninggalkan keluarga dan teman di sini. Tapi pengalaman ini hanya sekali seumur hidup 😀

  2. Sellvin says:

    Kak , mau tnya donh kalau aku mau kerja di korea atau mau kuliah di sana brp banyak dana yg harus di kluarkan ? Trims

  3. ike says:

    Kak, kalo di korea pengen masuk bachelor degree univ. itu berlaku tes bagi international student atau cuma nilai rapor+UN? Terus kemungkinan kita dapet beasiswa brp persen kak? Terima kasih sebelumnya

    • pastinya kalau mau studi undergraduate di korea itu, persyaratan2nya ga cuma berkas, tapi setelah dinyatakan lolos seleksi administrasi, tes tertulis juga ada. ini coba lihat di web SNU sebagai perbandingan http://en.snu.ac.kr/apply/under/timeline

      kemungkinannya 99% (1% nya ketentuan Allah) jika mau semangat nyari dan mempersiapkan segala syarat2nya
      coba aja googling
      zaman sekarang, info info beasiswa tersebut bukan hal yang tersembunyi dan susah didapatkan
      yang penting investasikan waktu minimal per minggu untuk searching info studi LN + beasiswanya
      dan tingakatin kemampuan english karena pastinya info di web itu jelas berbahasa internasional

  4. putri says:

    assalamualaikum. kalo boleh bertanya ya kak, apakah gangneung family itu memungut biaya saat kita tinggal disana? selain itu apakah ada keluarga indonesia atau WNI di korea yg bersedia menampung sseorang yg akan kerja sementara(job training atau exchange) ????? trima kasih kak.

    • waalaikumsalam
      gangneung family itu cuma kumpulan para WNI yang ada di kota Gangneung, Korea Selatan
      bukan semacam formal organization/community yang kamu bayangin 😀
      dan waktu aku numpang nginep pun, itu sebenernya kamar flat salah satu WNI yang ada di sana

      kemungkinan ada, tapi definisi “sementara” yang kamu pake disini itu seberapa lama?
      kalau cuma 2-3 hari, mereka oke oke aja menampung
      tapi kalo sampai berbulan2, ku saranin lebih baik kita cari tempat tinggal sendiri karena nggak enak juga numpang lama banget
      kecuali kalau kita mau ikutan share biaya kamar flat dan makan sehari2, mungkin hal itu bisa didiskusikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s