CERITA TENTANG KKL

Image

Kuliah Kerja Lapangan, atau disingkat menjadi KKL, adalah sebuah mata kuliah wajib di kampus kami, Universitas Diponegoro. Entah mata kuliah ini hanya ada di UNDIP atau tidak, yang jelas sejujurnya saya kurang setuju dengan pengadaan mata kuliah ini, karena pada dasarnya KKL—yang tujuan utamanya adalah kunjungan ke instansi-instansi terkait ilmu-ilmu yang dipelajari di Jurusan—bagi saya telah diselewengkan dari fungsi utamanya tersebut menjadi sebagai ajang tempat untuk bertamasya dan travelling. Atau bisa dikatakan hanya untuk menguras uang. Output ilmu yang dihasilkan tidak sebanding dengan input dana yang harus kita keluarkan.

Namun, untuk saat ini bukan tentang masalah tersebut yang ingin saya bicarakan, melainkan saya ingin bercerita mengenai perjalanan KKL saya. Cerita ini bermula tidak jauh setelah saya tiba pertama di Tanah Air setelah pergi ke Korea Selatan selama kurang lebih 5 bulan. Ya, ini adalah cerita lain penjelajahan saya untuk membandingkan keindahan Korea dengan keindahan Indonesia—yang sesungguhnya. Sebuah perjalanan menuju Bali dan Lombok. Sebuah perjalanan selama enam hari menelusuri tiga pulau besar.

Perjalanan dimulai pada hari senin tanggal 26 Agustus 2013 dari Gedung Serbaguna Universitas Diponegoro. Senin pagi hingga selasa dini hari kami habiskan di perjalanan untuk menuju pulau Bali. Dan pada selasa pagi keesokan harinya, kami tiba dengan selamat di pelabuhan Gilimanuk, Bali, setelah saya merasakan pertama kalinya dalam hidup menaiki kapal Ferry. Sungguh pengalaman yang tak menyenangkan merasakan mabuk laut yang pertama. Tapi untung saja tidak ada acara mengeluarkan ‘sesuatu’ dari perut lewat mulut pada saat perjalanan di kapal tersebut.

Menurutku ini adalah perjalanan yang menjadikan bus sebagai rumah portabel kami dalam enam hari. Betapa tidak, kami sehari-hari lebih banyak menghabiskan waktu di dalam bus ketimbang di tempat-tempat lain. Tetapi tenang saja, bus kami ini dilengkapi fasilitas kamar kecil walaupun saya tak merasakan langsung bagaimana rasanya buang air kecil di kamar kecil tersebut saat bus sedang berjalan. Tanpa perlu merasakannya pun pastinya rasanya tidak akan nyaman.

Kunjungan instansi pada KKL kami yang pertama adalah bertepat di sebuah perusahaan yang cukup besar yang bergerak dalam bidang penyewaan domain dan hosting dan penjualan secara online, yang bernama Bali Orange. Tentunya dari namanya kita pun tahu bahwa perusahaan ini berlokasi di pulau Dewata.

Sedikit merangkum tentang kunjungan KKL yang pertama, bahwa founder sekaligus CEO perusahaan tersebut merupakan alumnus Universitas Udayana yang belajar mengenai teknologi pertanian di masa perkuliahannya. Beliau membanting stir dari disiplin ilmunya saat kuliah menjadi seorang pengusaha dalam bidang teknologi informasi. Beliau bercerita banyak mengenai jejak perjalanan pengalamannya tentang masa-masa mendalami ilmu tentang teknologi informasi. Bagi saya inti yang terpenting dari informasi dan pembelajaran dari beliau adalah beliau lebih menitikberatkan terhadap pentingnya rasa syukur terhadap nikmat-nikmat Allah dalam setiap aktivitas kita, apalagi seorang pengusaha, karena setiap tetes harta kita yang disedekahkan di jalan Allah pastinya akan diganti berlipat ganda dari Sang Maha Kaya. Oleh karena itu, jika seorang pengusaha ingin sukses dan mendapat laba berlipat-lipat ganda, jawabannya adalah infaq shodaqoh sebanyak yang kita mampu. Semakin banyak maka laba yang akan kita dapat akan semakin banyak. Dan rasa syukur tersebut tidaklah hanya berupa syukur dalam bentuk harta, melainkan syukur pula dalam bentuk ibadah-ibadah sunnah yang ditingkatkan, seperti bangun malam untuk menghadap Sang Khalik.

Selasa di sore hari perjalanan ini kami lanjutkan kembali untuk menyebrang menuju pulau Lombok. Kabar yang kudengar, perjalanan menuju pulau Lombok dengan kapal Ferry ini akan menghabiskan waktu sekitar empat jam—paling cepat. Dalam hati pun saya bergumam, semoga mabuk laut yang kedua ini tak separah kemarin. Dan kenyataannya adalah mabuk laut masih menyerang tubuh yang baru dua kali menaiki kapal laut—itupun baru kemarin dan hari ini—walaupun sudah tidak separah kemarin.

Jika Bali terkenal dengan sebutan pulau seribu Pura, Lombok juga terkenal sebagai pulau seribu Masjid. Bisa dibayangkan begitu banyaknya, setiap kawasan RT masing-masing memiliki satu masjid. Dan masjid tersebut tidak hanya dibangun dengan arsitek yang biasa-biasa saja, melainkan dibangun dengan bentuk yang megah. Jadi layaknya seperti suatu ego tersendiri antar masyarakat Lombok untuk memamerkan, entah itu kekuatan, kekayaan, atau kemegahan, lewat besar dan megahnya masjid-masjid tersebut. Namun, sedihnya masjid-masjid tersebut masih sepi jamaah yang meramaikannya.

Sesampainya di Lombok pada dini hari, bus kami segera meluncur ke hotel di ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat, Mataram—setelah kami menyantap makan malam sebelumnya—untuk mengistirahatkan badan yang sangat lelah ini setelah hampir tiga hari hanya tidur seadanya di kursi di dalam bus dan tidak merasakan nikmatnya tidur di atas kasur yang empuk.

Rabu pagi adalah jadwal untuk kunjungan KKL kedua dan ketiga—atau terakhir. Lokasi kunjungan KKL yang kedua cukup dekat dari hotel tempat kami menginap, yaitu di kantor Lombok TV. Sebuah kantor stasiun televisi swasta khusus menyiarkan tayangan-tayangan untuk masayarakat Nusa Tenggara Barat.

Sama seperti kunjungan KKL yang pertama saat di Bali pada hari sebelumnya, kunjungan KKL kedua ke Lombok TV ini juga banyak memberikan kami informasi, pengetahuan, pengalaman, dan inspirasi baru. Di luar dari penjelasan mengenai sistem teknologi yang digunakan oleh kantor Lombok TV—yang notabene lebih mengarah kepada ilmu di telekomunikasi elektro—yang merupakan rata-rata adalah perangkat-perangkat hasil karya buatan sendiri, kami juga mendapatkan hal-hal mengenai sangat berperan pentingnya sebuah tayangan televisi dalam membentuk pola pikir dan kebiasaan masyarakat. Oleh karena itu, sesuai dengan penjelasan Bapak pimpinan Lombok TV tersebut, Lombok TV berupaya untuk memberikan sajian program-program televisi yang berkualitas.

Sedikit membandingkan antara televisi nasional dengan televisi daerah—menurut yang saya dapat dari kunjungan KKL kedua—yang menjadi salah satu landasan mengapa Lombok TV tetap berpegang teguh terhadap idealismenya, yaitu keseimbangan antara rating dan tayangan berkualitas, televisi nasional dalam menyorot suatu kejadian berita, mereka lebih menghujam kepada kemasan-kemasan yang memang laku dijual sebagai penaik rating, seperti kekerasan dll. Tidak seperti televisi-televisi daerah yang berusaha untuk melakukan riset lapangan lebih lanjut mengenai suatu isu tersebut sebelum mempersembahkannya kepada masyarakat daerah tersebut. Contohnya saja seperti kasus kerusuhan di Bima. Televisi nasional hanya menyorot berita tersebut pada permasalahan bentrokan dan kerusuhan massal tersebut, beserta embel-embel kerusakan-kerusakan yang ditimbulkannya. Tidak seperti televisi daerah, semisal Lombok TV, yang berusaha menelisik lebih lanjut kasus tersebut, lalu menayangkan berita tersebut dalam pengemasan yang berbeda, yaitu menyorot lebih tajam anak-anak para pelaku kerusuhan tersebut yang harus terlantar karena ulah orang tua mereka, sehingga diharapkan penyajian yang seperti itu akan dapat menyentuh nurani dan pemikiran masyarakat Bima yang saat itu sedang melakukan aksi kerusuhan.

Kunjungan KKL ketiga atau terakhir. Pada kunjungan terakhir ini ketiga bus rombongan KKL kami dipecah menjadi tiga bagian. Bagian pertama menuju Blue Bird, bagian kedua menuju PLN Mataram, dan bagian ketiga menuju Telkom Mataram. Saya mendapat rombongan kedua, kunjungan KKL menuju kantor PLN Mataram, dan kami juga mengunjungi PLTU Jeranjang untuk melihat cara kerja mesin-mesin PLTU yang masih dalam tahap pembangunan tersebut.

Jika pada saat kunjungan KKL yang pertama kami belajar banyak tentang motivasi dan bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan KKL yang kedua kami belajar banyak tentang pentingnya sebuah media terhadap pencerdasan masyarakat, maka pada kunjungan KKL yang ketiga ini kami belajar banyak yang lebih mengenai apa itu dunia kerja sesungguhnya, terutama di bidang yang memang sedang kami geluti. Ditambah lagi ada dua orang pegawai di PLTU Jeranjang yang merupakan alumni UNDIP. Mereka pun mengatakan bahwa rata pegawai di PLTU Jeranjang merupakan pemuda yang berumur kurang dari 40 tahun maka bisa dibilang PLTU Jeranjang tersebut memiliki jiwa muda yang penuh inovasi dan siap berkarya.

Di PLTU Jeranjang sendiri bidang ilmu yang dibutuhkan ternyata banyak karena memang inilah yang namanya kekompleksan suatu organisasi profesional di tataran sebuah perusahaan. Tidak hanya bidang engineering yang berperan penting dalam proses produksi listrik dari nol hingga berbentuk listrik siap jual, tetapi juga bidang-bidang lain seperti hukum, psikologi, human resources development, dll.

Setelah puas mengelilingi kota Mataram lewat dua kunjungan KKL, jadwal berikutnya adalah menghabiskan segala keperluan yang berhubungan dengan mencari oleh-oleh khas Lombok dan sekitarnya. Ada madu asli sumbawa yang harganya luar biasa mahal, susu kuda liar yang sungguh tercium dari baunya saja saya tak berani untuk meminumnya, mutiara beragam bentuk, dsb.

Hari kamis adalah saatnya untuk check out dari hotel di Mataram, lalu kami akan lekas pergi menuju pulau Gili Trawangan melalui Malimbu. Gili Trawangan merupakan salah satu dari tiga pulau Gili yang berada di sebelah barat laut pulau Lombok. Ada pualu Gili Air, yang paling dekat dengan pulau Lombok. Pulau Gili Meno, yang berada di antara dua pulau Gili lainnya. Dan pulau Gili Trawangan, yang merupakan pulau yang paling jauh dari pulau Lombok, yang katanya adalah pulau yang paling indah di antara ketiga pulau tersebut. Jika anda bertanya tentang keindahan ketiga pulau ini, sebaiknya anda langsung saja melihatnya sendiri dengan mata kepala anda. Bahkan pantai-pantai di Korea yang pernah saya lihat pun sangat kalah jauh indahnya dengan mahakarya agung ini.

Sekitar setengah jam perjalanan mengendarai perahu boat dari pangkalan boat yang untuk mengantar kami menuju tiga pulau Gili ke pulau Gili Trawangan. Dan selama perjalanan tersebut, saya ditakjubkan oleh keindahan dan begitu bersih, biru, dan beningnya air lautnya. Saya pun heran mengapa air laut di pantai Jawa, khususnya pantai utara—seperti yang pernah saya lihat di pantai Jakarta, Bekasi, dan Tuban—tidak sebiru di Lombok ini. Airnya pantai utara Jawa tidak lagi biru, melainkan kecoklatan, seperti telah tercemar oleh beragam hal. Prihatin melihatnya.

Dan memang, Gili Trawangan memiliki pesona pulau dan laut yang begitu indah. Pasir pantainya putih bersih. Namun, sayang keindahan pantai ini dicemari oleh para turis, khususnya turis asing yang kekurangan busana yang sangat amat mengganggu keindahan pulau ini. Dan mereka pun bertebaran dimana-mana di sekitar pulau ini. Semakin mengotori ‘kesucian’ pulau indah ini.

Saya lebih memilih untuk mengabadikan momen berharga tentang keindahan pesona alam pulau ini. Dan saya pun sukses mengerjai seorang turis asing yang biasanya orang Indonesia pada umumnya akan meminta untuk berfoto bersama turis asing, saya meminta ia untuk memfoto saya dan kawan-kawan saya—yang padahal orang-orang Indonesia yang lain masih banyak dan tanpa mempedulikan kemungkinan untuk minta difotokan oleh orang Indonesia—dan tanpa sedikit pun meminta foto bersama ia. Saya jadi ingat kehidupan saya selama di Korea. saya jadi ingat pelajaran berharga tentang jangan pernah sedikitpun merasa rendah diri dan mengagungkan orang barat karena belum tentu mereka lebih baik dari kita dan kita lebih buruk dari mereka. Anggaplah bahwa bangsa kita dan mereka sederajat sehingga atas dasar itulah aku meminta bule tersebut untuk memfoto kami.

Setelah puas menggunakan kamera maka selanjutnya merupakan saatnya untuk menjelajahi keindahan bawah air laut Gili Trawangan. Snorkling pun beraksi. Dengan menghabiskan uang sebesar 60.000 rupiah, saya mendapatkan tiga jenis perlengkapan: kacamata renang beserta snorkle, pelampung, dan kaki katak. Dan ekspedisi dimulai.

Ini adalah pertama kalinya bagiku bisa melihat terumbu karang secara langsung. Sungguh indah. Ikan-ikan hias pun berenang kesana kemari di sekitar terumbu karang tersebut. Tapi sayang, ombak pada saat itu cukup besar, mengakibatkan sulitnya saya untuk bisa menerobos menuju laut yang agak menjorok jauh meninggalkan pantai. Dan pastinya, air laut yang asin sangat mengganggu.

Setelah setengah jam menjelajah, saya merasakan kurang bebasnya dalam mengeksplorasi jika saya menggunakan pelampung, maka saya putuskan untuk menanggalkan pelampung, dan kembali berekspedisi ria. Dan ternyata memang benar, tanpa pelampung kita akan dapat jauh lebih bebas dalam bergerak dan melawan ombak.

Ada satu hal yang luar biasa di pulau Gili Trawangan ini. Saat sekitar setengah jam menjelang masuk waktu sholah zhuhur, sebuah masjid—yang merupakan satu-satunya masjid di pulau ini—memperdengarkan murottal quran hingga saya pun dapat mendengarnya saat masih berada di air laut, yang padahal pada saat yang bersamaan banyak turis asing dengan ‘aktivitas hina’ mereka sedang asik berjemur dan bercumbu di dalam air. Tetapi tetap saja, mata hati mereka telah tertutup.

Sekitar pukul 2 kami harus bertolak pergi meninggalkan pulau yang menyimpan keindahan Indonesia ini setelah sempat menyantap makan siang sebelumnya. Rasanya saya belum puas menjelajah keindahan taman laut pulau ini. Dan saya pun tidak sadar, saking asiknya menjelajah tadi, ternyata saya menemukan lecet-lecet di kaki dan tangan saya. Terumbu karang pun bisa melukai kulit kita jika kita tidak berhati-hati.

Setelah puas—walaupun sebenarnya belum puas—mengeksplorasi pulau Lombok maka kami segera menuju pelabuhan Lembar untuk kembali ke pulau Bali. Dan perjalanan empat jam pun akan kembali saya lewati. Namun, tidak seperti ekspetasi saya bahwa di dalam kapal ferry kali ini akan sama nasibnya seperti kapal ferry sebelumnya yang membuat saya harus susah payah mencari tempat tidur, kapal ferry dari Lombok ke Bali kali ini sangat amat baik sekali kualitas kapalnya. Saya pun mendapatkan spot baik untuk beristirahat. Tidak hanya itu, kapal ini pun memiliki prosedur keselamatan—yang biasa diinformasikan saat di dalam pesawat sebelum pesawat tinggal landas—pada saat kapal ini akan berangkat, padahal dua perjalanan dengan kapal sebelumnya sama sekali tidak terdapat sesi informasi yang diperdengarkan melalui pengeras suara. Ini adalah pengalaman naik kapal terbaik sepanjang hidup saya.

Sampai di Bali, kami pun kembali menuju hotel. Tetapi kami hanya menggunakan hotel ini untuk menginap semalam lalu paginya pun harus check out. Ya hanya sekadar membaringkan tubuh ini yang sudah bosan duduk-duduk terus di kursi bus.

Hari jumat, tidak ada lagi jadwal kunjungan KKL. Hari ini kami harus memuaskan diri menjelajah Bali. Dan perjalanan kami yang pertama adalah pantai Tanjung Benoa. Sebuah pantai yang menurut pemandu wisata kami adalah pantai yang dulunya banyak terdapat nelayan, tapi kini sepanjang jalan menuju pantai tersebut yang saya lihat hampir semua adalah toko-toko dengan merk-merk kelas internasional.

Ternyata saya terlalu berharap lebih terhadap Tanjung Benoa. Pantai ini sangat tidak sepadan jika dibandingkan dengan keindahan Gili Trawangan yang pada hari sebelumnya telah kami datangi. Pemandu wisata mengatakan bahwa kami bisa melakukan aksi snorkling di pantai ini, namun apa yang terjadi, bagi saya pantai ini kurang layak untuk dijadikan tempat snorkling. Terlalu banyak perahu dan kendaraan laut lainnya yang parkir dan lalu lalang. Kekecewaan pun melanda hati. Pantai ini sebenarnya dijual bukan untuk wisata renangnya, melainkan untuk wisata banana boat, jetski, paralayang, glass bottom boat, dan sea walkernya. Dan sayang sekali, biaya yang harus dikeluarkan tidaklah murah. Dan saya pun mengurungkan niat untuk mencoba salah satunya.

Turis-turis asing di pantai Tanjung Benoa ini ternyata berbeda dari turis-turis asing di Gili Trawangan yang semuanya adalah orang barat. Turis-turis asing di pantai Tanjung Benoa ini hampir semua adalah orang China. Ya begitulah China, saya jadi ingat kebiasaan roommate China saya sewaktu tinggal di asrama kampus di Korea. Sering melakukan kebiasaan yang jorok dan menjijikan. Dalam hati saya bergumam, jika saya menemukan salah satu turis yang sempat berbicara dengan bahasa Korea, maka dengan segera saya akan berbicara dengan bahasa Korea dengannya. Namun, ternyata hasilnya nihil. Hanya turis- turis China yang saya temui setelah saya berjalan menelusuri pantai cukup jauh.

Destinasi berikutnya di pulau Bali adalah pabrik kata-kata Joger. Namun, sebelumnya kami menyempatkan diri untuk sholat Jumat di sebuah masjid yang berada di komplek peribadatan lima agama yang diakui NKRI walaupun dengan ketelatan yang seperti sengaja dibuat-buat—atau memang biasa hidup telat dan ngaret—oleh rombongan KKL yang lain.

Setibanya di Joger, keramaian pengunjung langsung saya dapati. Joger memang sangat terkenal, tidak hanya di kalangan wisatawan domestik, melainkan juga di kalangan wisatawan asing. Pemilik Joger ini ternyata orang kristen. Joger sendiri adalah singkatan dari Joseph-Gerhard. Joseph sendiri adalah warga negara indonesia. Dan gerhard adalah teman Joseph di Jerman sewaktu Joseph pernah studi di Jerman. Joseph menggunakan nama Gerhard ini dalam penamaan Joger sebagai simbol penghormatan kepada Gerhard karena Gerhardlah yang memodali—walaupun tidak secara langsung—usaha Joger tersebut lewat uang hadiah pernikahan yang diberikan oleh Gerhard saat Joseph menikah.

Puas menghabiskan uang di Joger yang rata-rata harga barang-barangnya memang mahal, kami menuju pantai Kuta, yang kata orang-orang itu belum ke Bali rasanya jika kita belum datang dan menyentuh yang namanya pantai Kuta. Sepanjang perjalanan dari Joger menuju pantai Kuta, banyak sekali komplek komersial elit yang menghiasi perjalanan kami. Aku tak habis pikir, ini semua adalah pusat kemaksiatan dunia. Bali memang terkenal sebagai tempat maksiat. Berhala dan sesajen pun akan mudah kita temukan di pulau ini. Unsur hindu sangat kental disini membuat saya tidak betah berlama-lama di pulau ini. Bahkan sepanjang perjalanan kami di pulau Bali ini, tour guide kami yang memang dikhususkan di pulau Bali sering kali bercerita mengenai hal-hal yang berbau pluralisme. Bahaya sekali.

Sekarang saya tahu apa yang menyebabkan pantai Kuta sangat digemari oleh para pengunjung. Bukan karena keindahannya bagi saya karena sungguh keindahan pulau Bali ini kalah jika dibandingkan dengan pulau Lombok, terlepas dari lebih memadainya fasilitas dan infrastruktur di Bali dibandingkan dengan Lombok. Melainkan karena bentuk pantainya yang begitu landai dan rata hingga ke laut—walaupun saya tidak tahu jelas, mungkin saja ada sebuah palung yang tiba-tiba langsung dalam di jarak sekian meter dari garis pantai, karena saya sendiri pun tidak mencoba berenang di pantai ini—dan besarnya ombak di pantai ini, yang dikarenakan pantai ini menghadap ke arah samudera Hindia, sehingga lebih banyak peselancar yang berlalu lalang dibandingkan mereka yang hanya bermain air.

Dapat saya simpulkan bahwa keindahan pantai-pantai di Bali masih kalah dengan keindahan pantai-pantai di Lombok. Maka yang terjadi adalah mood kami turun saat sebelumnya mata kami dimanjakan dengan keindahan pulau Lombok, apalagi dengan Gili Trawangannya, lalu melihat pulau Bali. Seharusnya wisata kegiatan KKL kali ini dimulai dari Bali baru ke Lombok agar mood kami tidak down melihat Bali yang kalah indah denga Lombok.

Jumat malam kami habiskan waktu dalam acara malam keakraban angkatan kami. Ya sama-sama berkumpul ria melepas lelah selama perjalanan ini. Dari acara ini pun terpilihlah para nominasi, yaitu ter-Speak, ter-Molor, ter-Ngaret, ter-On time, ter-Narsis, ter-Lebay, ter-Boros, dan ter-Biang Gosip. Setelah puas, dan hari semakin malam, maka perjalanan pulang menuju Semarang segera dimulai.

Hanya sisa-sisa tenaga bercampur dengan kelelahan yang menghiasi perjalanan pulang kami. Saya pun sudah tidak sabar untuk kembali merasakan hangatnya tidur di kamar. Setelah menyeberang dengan kapal dari pelabuhan Gilimanuk ke pelabuhan Ketapang, akhirnya kami telah kembali di tanah Jawa. Dan pada sabtu malam sekitar pukul 11 malam, kami tiba di tempat pada hari senin kami berangkat, Gedung Serbaguna. Dengan mengucap rasa syukur alhamdulillah akhirnya saya bisa kembali ke Semarang dengan selamat dengan mengantongi tambahan pengalaman perjalanan ekspedisi.

Image

Advertisements

2 thoughts on “CERITA TENTANG KKL

  1. Pengadaan mata kuliah KKL tetep penting, karenanya yg harusnya ditekankan pada mahasiswa adalah gimana caranya biar saat KKL ini dapat sesuatu, bukan menjadi ajang piknik. Niat awalnya berburu sampai ke Lombok kan emang buat wisata, bukan cari ilmu, meskipun sebenarnya semakin ke Indonesia timur, yg namanya teknologi komputer semakin “primitif” dibandingkan sebelah baratnya Jawa Tengah. Kalaupun memang “terpaksa” ke Lombok TV, sebenarnya bisa diakali, misal TOR-nya lebih ke proses pembuatannya, editing gambar dan suara, dan multimedia lainnya.

    • terima kasih komennya mba habrul (atau mbak lilo mungkin)
      maaf baru sempet bales setelah setahun

      kelau menurut hemat saya, saya malah lebih setuju KKL lebih baik ditiadakan.
      melihat dari kurikulum teknik elektro/informatika dari beberapa PTN, matkul KKL tidak diadakan.
      selain itu, menilik komentar ketua panitia KKL Sistem Komputer Undip angkatan 2010, menurutnya KKL lebih cenderung digunakan sebagai momentum untuk jalan-jalan. namun, masih menurutnya, secara kontradiksi, KKL juga dapat dijadikan sebagai metode untuk mengenalkan pariwisata indonesia kepada para mahasiswa.

      konklusinya, dengan menimbang faktor-faktor tersebut dan realita yang terjadi sebelum persiapan keberangkatan KKL, yaitu biaya perjalanan yang tidak semata-mata seenaknya merogoh kocek dari dompet, mata kuliah KKL lebih baik ditiadakan, karena ternyata tidak sedikit mahasiswa yang merasa cukup berat dengan biaya perjalanan tersebut, sehingga–mengaca dari kasus KKL di angkatan saya–subsidi silang harus terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s