2 Days in Seoul (Part 1)

Silaturahmi itu sunnah Rasulullah SAW, apalagi dengan mereka yang saudara seiman. Atas dasar sliaturahmi untuk melaksanakan perintah Allah inilah kami awali niat untuk bertolak dari Gangneung untuk menuju Seoul. Ya bismillah. Perjalanan jauh, ditambah lagi pasti bakalan sulit untuk berkomunikasi saat sepanjang perjalanan. Namun semua permalasalah itu tidaklah membuat kami mengurungkan niat ini. Sekali lagi, bismillah.

Sebelum memutuskan untuk mengunjungi Seoul, alhamdulillah kami sudah mencari informasi mengenai transportasi dan tempat tinggal saat disana. Berbeda dari teman teman kami yang dari China dan Jepang yang satu kelas dengan kami di kampus KDU yang telah mengunjungi Seoul sebelumnya yang menyewa motel cukup murah di daerah Seoul, kami memiliki alternatif lain, yang pastinya sangat jauh lebih murah karena ini merupakan salah satu berkah dari silaturahmi, yaitu kami menginap di Mushola Al Falah IKMI Seoul Korea, tepatnya di daerah Guro. Ya kira kira baratnya kota Seoul. Oleh karena itu, kami pun tidak perlu menguras uang yang cukup banyak untuk bisa pergi ke Seoul. Selain itu, kami pun akan mendapatkan suasana hangatnya ukhiwah di mushola tersebut.

Menurut informasi yang kami dapat dari mba Agnes dan mas Ansori, untuk dapat pergi ke Seoul dari Gangneung itu kita perlu menaiki Bus. Busnya bisa kita temukan di terminal Gangneung. Butuh biaya sekitar 3500 Won untuk menuju terminal Gangneung dari gerbang utama KDU dengan taksi. Busnya ada setiap waktu, jadi tidak terlalu merepotkan kami. Namun kata mba Agnes, bus terakhir hanya ada hingga pukul setengah delapan malam. Selain dari mereka, kami pun sempat bertanya ke Tomoya, teman Jepang kami di kelas. Dia bilang bahwa tiket Gangneung-Seoul seharga 15.000 Won. Bisa dibilang cukup wajar jika dikonvers ke rupiah untuk perjalanan yang hampir seperti jarak Semarang-Yogyakarta.

Kami berangkat di sabtu yang gerimis, tanggal 6 April 2013. Namun gerimis yang sangat dingin ini tidak menghalangi langkah—yang insya Allah penuh berkah—ini menuju terminal Gangneung. Sesampainya di terminal, kami merasakan suasana yang beda dengan terminal di Indonesia pada umumnya. Ya terminal di kota ini lebih bagus walaupun Gangneung bukan kota yang begitu besar. Seperti yang dikatakan oleh mas Ansori, tujuan kami adalah Dong Seoul, dan alhamdulillah harga tiketnya sama seperti yang dikatakan oleh Tomoya, 15.000 Won per orang.

Inside Gangneung Bus Terminal

Bus Ticket

15.000 Won ini memang benar benar terbayarkan. Bayangkan saja, kami mendapatkan bus dengan model kursi 2 dan 1. Jadi dua kursi ke belakang di sebelah kiri dan satu kursi ke belakang di sebelah kanan, persis dengan bus kelas VIP di Indonesia. Dan lagi, kursinya sangat nyaman. Kaki pun dapat dipanjangkan. Di dalamnya juga hangat, bisa menjaga suhu dingin di luar agar tidak masuk ke dalam bus. Intinya bus ini lebih nyaman daripada bus yang pertama kali kami naiki saat akan pergi dari bandara Incheon menuju Gangneung. Di luar dari kenyamanan bus yang memanjakan kami ini, ternyata keberangkatan busnya pun membuat kami sepatutnya mengapresiasi. Ya di tiket tertulis bus berangkat pukul 10.40 dan memang tepat 10.40 bus dijalankan untuk berangkat menuju Dong Seoul.

Inside Bus

Ini perjalanan kedua kami dengan bus menuju tempat jauh dari kota Gangneung sehingga ini akan menjadi perjalanan yang cukup lama, sekitar 3 jam. Kami pun tidak ingin merugi untuk tidak menyicipi nikmatnya kursi bus ini dengan tertidur pulas. Sungguh, sangat jarang kami menikmati bus seperti ini, dan kapan lagi coba?

Sekitar pukul 2 kami tiba di terminal Dong Seoul. Terminal ini sangat padat. Bus lalu lalang. Sedikit sedikit ada bus berangkat, sedikit sedikit ada bus datang. Dan lalu lalang orang orangnya pun tak kalah cepat. Semua orang berjalan dengan cepat, seakan tak peduli kanan kiri sambil memikirkan ‘saya harus cepat, saya harus cepat’. Dan tak terkira bahwa pada hari itu Seoul sangat dingin. Patokannya adalah napas kami dapat terlihat sebagai uap putih. Perhitungan sederhananya adalah jika uap pernapasan terlihat putih seperti itu maka dipastikan suhu mencapai 5 derajat celcius atau lebih rendah. Sepertinya saya salah kostum. Alhasil menggigil pun saya tahan tahan.

Dong Seoul Terminal

Layaknya seperti anak Desa (Gangneung yang jauh dari ibukota) yang bepergian ke Kota (Ibukota negara, Seoul), kami benar benar linglung saat menginjakkan kaki pertama kalinya di kota besar ini. Satu hal paling pertama yang harus kami lakukan adalah menelepon mas Ansori. Kami coba via Katok, tapi nihil. Alhamdulillah tidak jauh terlihat phone booth. Informasi yang kami dapat dari mas Ansori adalah naik subway pilih line 2 yang menuju Jamsil, lalu turun di Sindorim. Setelah itu transfer ke line 1 yang ke arah Incheon, lalu turun di Guro, keluar stasiun ambil pintu keluar AK Plaza. Kedengarannya gampang. Memang. Namun ini perjalanan pertama kami, dengan bahasa Korea sangat pas pasan, ditambah lagi kami belum tahu caranya menggunakan fasilitas yang mas Ansori katakan sebagai Subway ini.

Mondar mandir sana sini. Tanya sana sini walaupun sulit. Di saat saya sedang mencoba menghubungi mas Ansori lagi, Zulfan berhasil menemukan orang barat yang sedang menyeberang jalan raya. Dia bilang rasanya seperti lega sekali bisa menemukan orang barat yang bisa berbahasa inggris bisa menolong kami. Kata orang barat itu intinya kami harus menaiki semacam kereta KRL yang jalurnya ada di atas jembatan. Lho, saya sempat bingung, bukankah tadi kata mas Ansori kita harus naik Subway. Namun setelah berhasil bertanya ke mas Ansori via Katok, memang benar KRL itu yang harus kami naiki. Dan dia bilang nanti jalurnya akan masuk ke bawah tanah.

Bertanya sana sini pun dimulai kembali. Sekarang bukan tentang dimana letak keretanya, tapi tentang bagaimana caranya beli tiket kereta ini. Alhamdulillah setelah tanya sana sini, dapat juga anak muda Korea yang sedikit paham bahasa inggris. Dia menjelaskan tentang cara belinya. Dan hasilnya adalah masing masing mendapat satu kartu yang bertuliskan Single Trip Ticket. Memang benar, ternyata sistem pembelian angkutan transportasi di semua kota di Korea itu menggunakan sistem T-money, yaitu sistem dimana kita mengisi saldo di kartu atm kita sehingga kita tak perlu lagi menggunakan uang tunai untuk menggunakan fasililitas angkutan umum. Hanya tinggal menempelkan kartu tersebut ke tempat yang diminta maka dengan otomatis saldo kita akan berkurang sebagai ongkos angkutan tersebut.

Melihat peta jalur subway Seoul itu membuat kita sangat bingung. Jalurnya itu sangat banyak. Sangat membingungkan bagi kami yang pertama kali datang ke Seoul. Namun kami tidak menghiraukan hal tersebut. Intinya—seperti kata mas Ansori—arah Jamsil, turun Sindorim, transfer ke arah Incheon, turun di Guro, keluar stasiun, ambil pintu keluar AK Plaza. Kami yakin, lama kelamaan kami pun akan paham dengan sistem subway di kota besar ini. Namun satu hal dari sistem subway Seoul yang mirip dengan sistem transportasi di ibukota Jakarta adalah sistem bayarnya, yaitu bayar sekali masuk, maka kita akan bisa sepuasnya sejauh apapun menaiki subway tersebut.

Seoul Subway Map

Alhamdulillah stasiun subway dan keretanya di Seoul ini sangat baik. Mengapa saya bilang seperti itu? Ya karena di stasiun terdapat petunjuk yang tidak hanya bertuliskan bahasa Korea, tapi juga dalam bahasa Inggris. Dan di keretanya juga terdapat informasi suara yang menyatakan stasiun yang akan segera sampai dalam bahasa inggris. Bahkan kereta di line 2 juga menyediakan informasi suara dalam bahasa china dan jepang.

Inside train

Ada hal yang membuat saya kaget dengan kereta dan stasiun di Seoul ini. Ternyata dalam perjalanan kami itu terdapat pengamen dan pedagang asongan juga sama seperti di KRL dan stasiun Jakarta. Namun bedanya, disini pengamen dan pedagang asongan yang di dalam kereta sangat sangat jarang sekali. Sepertinya saya sedang beruntung bisa melihat satu di antaranya. Dan lagi mereka jauh lebih bersih dan profesional. Lalu untuk pedagang asongan di stasiun hanya bisa ditemukan di stasiun kecil, itu pun di luar pintu masuk, dan sekali lagi, lebih bersih.

Setelah perjalanan kereta selama kurang lebih 1,5 jam—ditambah bingungnya dan tanya sana sini—kami akhirnya sampai di stasiun Guro. Dan seperti kata mas Ansori, keluar stasiun dan ambil pintu keluar ke arah AK Plaza. Sama seperti masuk, kami menempelkan kartu yang tadi kami beli di tempat yang diminta di pintu keluar. Dan tidak tahu mengapa, kartu kami tidak bisa membuat pintunya terbuka. Setelah minta tolong ke petugas stasiun, ia mengecek kartu kami di mesin pengecek. Dan ternyata saldo kartu Single Trip Ticket kami kurang 300 Won untuk bisa keluar dari stasiun. Dan terpaksa kami harus memasukkan 300 Won ke mesin tersebut, dan alhamdulillah pintunya dapat terbuka.

Seperti kata kode dari mas Ansori, sesampainya di pintu keluar AK Plaza, kami harus meneleponnya lagi. Coba via Katok, sekali lagi nihil. Penyebabnya bukan karena tidak ada koneksi, karena sesungguhnya banyak hotspot, tapi rata rata dilock. Hanya ada satu yang tidak, tapi koneksinya lambat. Mungkin ini penyebabnya. Dan sekali lagi, kami mencari phone booth untuk menelepon mas Ansori.

Sekitar 10 menit kemudian ada yang memanggil Zulfan. Tiga orang asing. Setelah mereka semakin mendekat, saya baru menyadari bahwa wajah mereka adalah wajah orang ASEAN, dan saya semakin yakin bahwa mereka adalah orang Indonesia setelah mereka melengkapi keyakinan saya dengan berbicara dengan bahasa Indonesia dan mengucapkan salam muslim. Alhamdulillah salah satu nikmat Allah bisa bertemu saudara seiman dan setanah air di Seoul. Lalu beberapa menit kemudian mas Ansori datang dengan membawa dua payung, satu dipakainya dan satu lagi dipegangnya.

Sebenarnya salah satu tujuan saya ke Seoul adalah untuk menghadiri silaturahmi PERPIKA di hari sabtunya dan bertemu dengan seorang mahasiswa S3 (saya lupa namanya) yang baru mulai belajar di salah satu universitas di Seoul. Beliau berjanji akan hadir dalam gathering PERPIKA Wilayah 1 sehingga saya pun juga harus hadir untuk bertemu beliau. Beliau mengambil S3 di jurusan Robotic, konsentrasi Railway Signaling Engineering. Mengetahui terdapat kata ‘Railway’ langsung meningkatkan semangat saya untuk bertemu dengan beliau secara langsung untuk berbincang lebih banyak mengenai bidang Railway beliau. Ya saya memang sangat cinta dengan hal yang berbau kereta sehingga saya bercita cita akan meneruskan studi S2 di bidang Railway di Jepang, negara yang terkenal dengan kereta cepatnya, Shinkansen. Namun rencana pertemuan itu sirna setelah saya tahu bahwa saya sampai di Guro pada pukul 4 kurang. Gathering PERPIKA dimulai pukul 12.30. pada awalnya kami berencana akan hadir bersama mas Ansori, tapi setelah mengetahui ketelatan kami ini, saya mengurungkan niat saya untuk tetap ngotot datang ke gathering PERPIKA. Saya yakin masih ada rencana lain dari Allah, yang penting saya belajar dari pengalaman ketelatan saya ini.

Mas Ansori, mas Rasyid, mas Heri, dan mas Nasrul. Mereka adalah orang yang kami temui. Bukannya menuju ke mushola IKMI, mereka mengajak kami untuk pergi ke Dongdaemun. Ya mau tidak mau kami harus ikut. Kata mas Ansori, mas Nasrul akan pulang ke tanah air pekan depan sehingga beliau ingin membeli oleh oleh untuk anak istrinya. Dan menurut mas Ansori, tempat yang prospektif adalah di daerah Dongdaemun. Sepertinya bagus untuk kami untuk ikut, hitung hitung sebagai info bagi kami jika kami akan pulang nanti dan ingin membeli oleh oleh.

Trimasketir

atmosphere in subway

Kembali kami menaiki kereta subway. Perjalanan pun cukup lama, sekitar setengah jam. Selama perjalanan saya berbincang banyak dengan mas Heri. Dia bercerita banyak, tapi bagi saya yang paling menarik adalah tentang cerita beliau yang mengatakan bahwa di Seoul ini ada masjid besar di daerah Itaewon. Masjid tersebut adalah markasnya KMF (Korean Muslim Federation). Di masjid tersebut berkumpul semua muslim di Seoul sehingga tidak hanya muslim Indonesia, ada juga dari Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Brunei, dsb.

Sesampainya di Dongdaemun, kami menuju ke sebuah gedung pusat perbelanjaan. Di daerah sini memang banyak sekali gedung perbelanjaan. Tidak ingat ke lantai berapa kami menuju. Tapi intinya adalah kami menuju ke sebuah kios di sudut yang menjual souvenir khas Korea. Dan yang lebih takjubnya lagi adalah pedagangnya dapat berbicara bahasa Indonesia, dan mereka asli ras Korea. Hebat, ya walaupun tidak seperti kita, para native bahasa Indonesia.

Setelah mas Nasrul puas dengan barang semua belanjaannya, kami bertolak pergi. Saya pun ingat bahwa saya dan zulfan ada halaqoh sore ini di tempatnya mas Doddy sehingga kami berpisah. Mas Rasyid, mas Heri, dan mas Nasrul pergi pulang ke Guro, lalu saya, zulfan, dan mas Ansori pergi menuju rumah mas Doddy di dekat SNU (Seoul National University), salah satu universitas terbaik di Korea Selatan.

Kami belum sholat zhuhur ditambah juga ashar. Lengkap sudah jama’ qashar kami. Mas Ansori bilang bahwa kita akan sholat di bawah jembatan sungai di Dongdaemun ini. Wudhunya ya dari air sungainya. Airnya sangat jernih, ikan pun terlihat berenang renang asyik di dalamnya. Tapi yang pasti adalah airnya sangat dingin. Dan lagi gerimis masih masih mengguyur kota ini. Tapi itu semua tidak menghalangi niat kami untuk menghadap Dzat yang telah menciptakan kami, yang telah memperindah sungai ini, yang telah menurunkan gerimis ini.

Bridge in Dongdaemun

Transportasi utama kota Seoul adalan kereta subway ini, selain dari Bus Kota dan taksi. Jadi jika ingin kemana mana, sedikit sedikit kita harus mencari subway terdekat. Tak bedanya dengan kami yang ingin menuju ke SNU dari Dongdaemun. Oleh karena itu, semua warga Korea di Seoul ini pasti memiliki aplikasi petunjuk jalur subway di ponsel mereka karena memang sangat tidak mudah untuk menghapal semua line dan stasiun yang ada. Sungguh sangat sulit. Itu mengapa, sangat saya sarankan kepada siapapun jika ingin mengunjungi Seoul, setidaknya milikilah file picture gambar peta jalur subway Seoul. Jangan sampai seperti kami yang harus bingung sana sini. Atas dasar inilah saya belajar, saya harus segera memiliki aplikasi ini dan segera membeli ponsel baru—setelah beasiswa turun tentunya—agar bepergian di Seoul tidak sulit dan mudah lag lagi karena ponsel yang sekarang ini sangat terbatas memorinya.

Sekitar jam jam maghrib kami baru tiba di kediaman mas Doddy. Sama seperti rumah mas Joni dan mba Agnes, mba Ratih, dan mas Endy, dan lainnya, rumah mas Doddy juga berada di kamar flat. Bedanya adalah kamar flat mas Doddy jauh lebih besar karena memang selain beliau, ada juga istri beliau, dan satu orang anaknya yang juga tinggal dengan beliau. Kami sudah ditunggu oleh mas Aqil (murobbi kami), mas Havid, dan mas Rifqi. Subhanallah, inilah pertama kalinya kami bisa bertemu dengan halaqoh kami—walaupun tidak lengkap—secara langsung karena sebelumnya kami hanya bisa mengetahui mereka lewat suara, ya hanya suara. Sungguh kenikmatan luar biasa lagi dari Allah.

Kami tidak bisa berlama lama di rumah mas Doddy, mas Aqil pun juga telah pulang lebih dahulu karena beliau memang sudah ditunggu tunggu untuk segera ke Ansan. Ada acara lain sepertinya. Perjalanan kembali dimulai. Sebelum menuju stasiun subway, kami harus menaiki bus kota. Warna busnya tidak jauh beda dengan yang ada di Gangneung, yaitu hijau. Cara membayar ongkosnya pun ternyata sama dengan saat kita ingin menaiki kereta subway, yaitu menggunakan T-money. Dari sini saya belajar bahwa lebih baik nanti sudah kembali ke Gangneung, jika ingin ke Homeplus atau kemana pun itu di Gangneung, lebih baik menggunakan bus, karena selain lebih murah, saya juga telah mengetahui cara membayarnya.

Seoul malam hari. sangat gemerlap. Saya berani bertaruh bahwa kota besar ini akan selalu hidup selama 24 jam, tapi sayangnya kereta subway—menurut informasi dari mas Ansori—hanya beroperasi hingga pukul 12 malam. Dan berdasarkan analisis singkat saya setelah keliling Seoul dengan kereta, Seoul itu dibagi menjadi dua bagian, yaitu Seoul pusat dan Seoul pinggiran. Sama seperti Jakarta. Pusat itu pasti lebih rapih, bersih, tertata, bagus, dan banyak bangunan besar dibandingkan dengan Seoul pinggiran yang kurang. Tapi di luar itu semua, tetap saja di kota ini banyak barang yang berharga lebih mahal dibandingkan dengan di Gangneung.

Lokasi Mushola Al Falah IKMI Seoul Korea tidak begitu jauh dari stasiun Guro, sekitar perjalanan 10-15 menit dengan berjalan kaki. Mushola ini berada di lantai 2 sebuah bangunan. Tidak mewah memang. Tapi hal itu tak penting, dengan kesederhanaan bangunan ini dapat menyihir saya bagaikan seperti berada di sebuah masjid yang berisi indah dan hangatnya ukhuwah islamiyah. Subhanallah, sekali lagi luar biasanya nikmat Allah. Perjalanan jauh dari Gangneung ke Seoul tidak seberapa dibandingkan dengan nikmat dan pengalaman luar biasa yang kami dapatkan disini.

IKMI FC Flag

Seperti kata mas Ansori, jam makan malam di mushola ini pukul 12 malam. Ya dikarenakan kita semua harus menunggu hingga semua saudara kita pulang dari aktivitas mereka masing masing di luar sana. Walaupun sebenarnya saya sudah makan malam tadi di rumah mas Doddy, saya rasa perut saya masih cukup untuk diisi dengan rezeki dari Allah ini, apalagi makanannya dibuat langsung oleh mas Ansori dibantu oleh yang lainnya. Kami makan di sebuah nampan besar. Jadi satu nampan untuk 4 orang. Namun hal inilah yang membuat ukhuwah semakin hangat. Semakin mengingatkan saya dengan indahnya kebersamaan para pejuang Al Muharrik di Siskom UNDIP. Walaupun lauknya hanya tempe dengan suwiran ayam, tapi sungguh inilah yang sudah lama saya tunggu. Sekali lagi, nikmat Allah memang tiada akhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s