Positives and Negatives about Korea

3334513089_9c5f18368c

Korea. Negeri Ginseng. Negeri yang akhir akhir ini terkenal dengan istilah K-Wave (Korean Wave). Ya semua itu adalah salah satu cara Korea Selatan untuk mengglobalkan budaya negara mereka.

Tinggal sebulan di Korea, saya rasa saya sudah cukup paham dengan budaya hidup pribumi disini. Ada beberapa budaya dan watak yang sepatutnya dapat kita tiru. Dan ada juga budaya yang jangan sampai sedikitpun kita tiru. Bahkan masyarakat Korea merasa asing untuk menggunakan sepeda motor sebagai transportasi harian. Sepeda motor hanya digunakan oleh deliveryman untuk mengantar pesanan makanan. Mereka lebih suka untuk menggunakan angkutan umum, atau mobil pribadi.

Semua poin poin di bawah ini sepenuhnya didasarkan pada pengalaman saya selama sebulan di Korea yang saya alami.

Budaya dan watak positif:
-Masyarakat Korea sangat hormat terhadap orang orang yang lebih tua. Tidak tahu mengapa sepertinya memang budaya Timur itu cenderung lebih ramah dibanding budaya Barat.

-Penggunaan bahasa. Mereka membedakan cara berkomunikasi dengan orang yang sepantaran dengan orang yang lebih tua. Ini juga terlihat di tata bahasa mereka. Bahkan saya pernah terkena sedikit omelan dari Seonsaengnim (sebutan untuk Guru di Korea) karena saya sempat menggunakan tata bahasa untuk orang sepantaran kepada beliau.

-Loyal terhadap produk dalam negeri. Lihat saja, hampir semua barang elektronik dan otomotif merupakan produk hasil negara mereka sendiri. Sebut saja ponsel Samsung, Lift Hyundai, Mesin Cuci Samsung, Air Conditioner Samsung, Mobil Hyundai atau Kia, dsb. Ya mungkin juga disebabkan karena produsen produsen mereka telah Go International. Namun terlepas dari itu semua, mereka sangat mengapresiasi tinggi terhadap produk lokal.

-Inovatif. Tak sedikit barang barang yang saya temukan selama di Korea memiliki keunikan tersendiri. Benda benda tersebut mempunyai fungsi yang tepat guna, bahkan tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa inovasi tersebut memang perlu, padahal sehari hari kita mengamati kejadian tersebut. Sebut saja troli di bandara yang memiliki rem di handelnya. Penggunaan teknologi sensor dimana mana. Penahan pintu agar tidak menabrak dinding saat dibuka secara kasar, dsb.

-Masyarakat peduli tampilan. Mereka selalu berusaha untuk bisa tampil rapih, dimanapun itu sehingga membuat kita nyaman untuk melihatnya. Maka tak heran jika kita akan mudah menemukan cermin dimana mana.

-Budaya antre. Sempat saya bingung saat akan menuju kantin asrama untuk makan malam. Banyak orang berbaris. Awalnya saya tak tahu apa sebabnya, namun setelah diberi tahu, saya baru sadar ternyata mereka semua sedang mengantre sangat untuk menuju ke kantin. Dan saya pun harus ikut mengantre. Tidak hanya itu, mereka pun akan menjaga budaya antre ini bahkan saat di toilet sekalipun.

-Semangat tinggi dalam teknologi. Beberapa tahun yang lalu mungkin Korea bukanlah sebagai destinasi untuk teknologi tinggi. Namun lihatlah sekarang. Korea lambat laun terus berkembang melalui teknologinya. Walaupun belum menyamai teknologi negeri matahari terbit—Jepang, teknologi di Korea tidak dapat diremehkan.

-Makan gimchi. Masyarakat Korea sering, bahkan hampir selalu, menjadikan gimchi sebagai sayur pelengkap dalam makanan mereka. Sayur ini rasanya masam karena memang gimchi merupakan sayur hasil fermentasi. Namun di balik itu semua, masyarakat Korea gemar memakan sayur sayuran, terutama gimchi. Inilah salah satu rahasia yang menjaga tubuh mereka tetap sehat.

-Kerja keras. Setiap kali ada tugas atau apapun itu, orang Korea selalu berusaha untuk menyelesaikannya sesegera mungkin. Itu mengapa mereka akan sangat tidak mau diganggu sedikitpun saat agenda mengerjakan tugas ini dimulai.

-Jadwal dan waktu yang ketat. Jadwal makan pukul sekian hingga sekian. Kuliah pukul sekian hingga sekian. Kumpul pukul sekian hingga sekian. Mereka ketat terhadap waktu maka jangan heran jika kita akan sering telat jika kita masih menerapkan jam karet disini.

Budaya dan watak negatif:
-Glamour. Tidak akan sulit untuk menemukan kehidupan malam di Korea. Shopping shop pun dimana mana. Korea adalah negeri belanja, apalagi di ibukota Korea Selatan, Seoul. Oleh karena itu, bersiaplah menjaga diri dan membentuk tameng dengan budaya glamour Korea yang saya rasa sangat over.

-Lelaki berdandan berlebihan. Pernah saya melihat lelaki Korea membawa sisirnya saat menunggu lift. Dan tidak jarang ponsel para lelaki disini selain memiliki fungsi sebagai alat komunikasi, tapi juga memiliki kemampuan sebagai cermin, dan mereka sering mengaca di cermin ini. Tampilan lelaki di Korea pun saya rasa agak jauh jika dibilang sebagai lelaki macho, maskulin, dsb, karena memang mereka lebih cocoknya disebut sebagai ‘Lelaki cantik’. Mulus, putih, polos, halus, bersih, licin, persis seperti seorang wanita.

-Krisis konsep keindahan. Plastic surgery adalah jalan keluarnya. Masayarakat Korea agak aneh dalam mendefinisikan makna cantik, indah, atau tampan. Salah satunya, bagi mereka mata orisinil asli Korea bukanlah mata yang indah. Bagi mereka wajah yang agak kebaratbaratanlah yang disebut cantik. Bagi mereka keindahan adalah segalanya, maka tak jarang job vacancy mencari para pelamar yang memiliki wajah menarik, dan mereka yang notabene memiliki wajah kurang menarik harus rela terus menerus disingkirkan.

-Sulit berkomunikasi bahasa asing. Coba saja berkomunikasi dengan bahasa inggris dengan orang Korea yang anda temukan di jalan. Yang ada adalah mereka akan melambaikan tangan. Entah mengapa, masyarakat Korea seakan anti dengan bahasa internasional ini, padahal kita ketahui bahwa ada banyak warga negara AS yang berada di Korea. Jadi mau tidak mau kita harus bisa menguasai bahasa mereka jika ingin berkomunikasi secara lancar dengan mereka.

-Freesex. Pelukan bukan barang asing lagi, bahkan hal yang sangat sangat biasa. French Kiss pun masih dibilang hal yang wajar dilakukan oleh sepasang kekasih. Ujung ujungnya melakukan zina dengan sang pasangan—yang belum sah tentunya—atas dasar sama sama suka merupakan hal yang tidak sedikit pemuda pemudi Korea lakukan. Bahkan kita akan sangat mudah menemukan alat kontrasepsi seperti kondom disini.

-Budaya minum. Saat orang Korea merasa tertekan dengan aktivitas hariannya yang begitu padat, mereka melepaskan stress tersebut dengan minum minuman alkohol bersama kawan kawan mereka. Mereka menganggap momen tersebut merupakan momen yang indah dimana mereka bisa saling lebih mengenal satu sama lain.

-Supir angkutan umun yang seperti ‘joki’. Hati hati, dan kencangkan sabuk pengaman saat anda menggunakan taksi di Korea. Supirnya akan membawa anda untuk ngebut. Tak jarang jika memang sepi, supir tersebut akan berani menerobos lampu merah. Tujuannya hanya satu, membawa kita ke tempat tujuan secepat mungkin. Bagus memang, namun tidak berarti menghalalkan segala cara seperti ini. Tidak hanya taksi, supir bus kota pun sering menyetir busnya dengan cara yang kurang nyaman dirasakan oleh penumpang.

-Bermain game online. Inilah negeri dimana game online banyak berasal dari sini karena inilah negeri yang bagai surga bagi penikmat akses internet yang cepat. Bahkan ada salah satu channel di televisi Korea yang sepanjang hari HANYA menayangkan bagaimana memainkan salah satu game online. Pemuda pemuda disini juga saat ingin melepaskan stress dan menghabiskan waktu akan lebih sering memilih bermain game online, seringnya sampai over.

-Terlalu mudahnya akses konten dewasa bagi anak di bawah umur. Iklan pakaian dalam wanita ditayangkan di sebuah monitor di dalam sebuah department store, dan ada anak kecil yang menonton iklan tersebut. Inilah kasus yang akan sering kita lihat. Bahkan ada iklan di Youtube—iklan yang harus kita lihat sebelum menonton video yang kita inginkan—yang menampilkan produk bra—yang tidak pantas jika ditayangkan di Indonesia—yang menampilkan anak kecil sebagai salah satu pemeran dalam iklan tersebut. Bisa anda bayangkan sendiri hilangnya batasan norma tersebut, khususnya bagi anak anak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s