Menuju Masyarakat Madani

Mungkin judul di atas sudah tak asing lagi bagi sebagian besar kalangan, tak terkecuali siswa sekolah. Masyarakat Madani, sebuah frasa yang terdiri dari dua kalimat. Frasa simpel dan sederhana, namun mengandung arti luas. Ya, inilah cita-cita negeri sejuta budaya milik kita ini. Menjadi sebuah negeri dimana semua perangkat kemanusiaannya paham akan hakikat dan kodratnya sebagai manusia yang ber-Tuhan untuk bersatu padu menjadi sebuah persatuan utuh dalam naungan sistem kendali yang dipatuhinya demi terwujudnya keadilan bersama milik bangsa.
Tak terlepas dari makna Pancasila, masyarakat madani merupakan impian yang selalu ‘didongeng-dongengkan’ kepada siswa sekolah. Masyarakat madani adalah bla bla bla, dan seterusnya. Tak heran jika siswa sekolah menjadi cenderung bosan dan tak begitu memahami konteks frasa sarat makna ini. Metode pembelajaran yang efektif pun dituntut untuk mengatasi hal ini. Intinya adalah, mendidik yang baik harus menggunakan komunikasi yang efektif. Komunikasi verbal dan non verbal.
Dalam usaha perwujudannya, banyak sekali cara yang dapat kita lakukan. Namun tak sedikit orang yang hanya diam dan duduk manis menjadi penonton dalam laga ini. Lalu ada juga mereka yang tak ikut bergerak, namun hanya ikut berceloteh ria membincangkan permasalahan ini dengan segala unek-unek pengkritisannya tanpa ada aksi nyata di lapangan.
Kini bangsa dan negara ini butuh kita. Kita bisa kok mewujudkan Indonesia menjadi negeri masyarakat madani. Kita hanya perlu aksi kecil. Ya, aksi kecil. Tidak perlu yang besar dan wah. Kita hanya perlu aksi kecil, namun continue dan konsisten.
Jika kita menarik garis yang panjang ke belakang mengenai problematika bangsa ini demi mengatasi masalah-masalah yang menghalangi terciptanya masyarakat madani, maka hanya ada satu jawabannya. Moralitas. Bangsa ini telah lama mengalami krisis moralitas. Kita lupa terhadap hakikat kita sebagai bangsa Timur, bangsa yang ber-Tuhan. Krisis moral ini dampaknya luas, dan inilah biang dari segala biang masalah di tanah air, maka tak heran jika tak ada lagi dari kita yang merasa malu saat melakukan tindak kejahatan, apalagi bagi para koruptor yang mencuri milyaran uang rakyat. Oleh karena itu, marilah kita mulai berbenah diri diawali dari moralitas.
Salah satu aksi nyata yang dapat kita lakukan untuk mengatasi masalah dalam lingkup moralitas ini dalam rangka perwujudan Indonesia menuju masyarakat madani adalah dengan membenahi moral anak-anak yang notabene kurang beruntung untuk mengenyam pendidikan formal di bangku sekolah. Merekalah anak-anak jalanan, anak-anak dari lingkungan (maaf) kumuh, anak-anak dari keluarga kurang mampu, dan masih banyak lagi. Mereka adalah benih-benih harapan bangsa. Merekalah tonggak estafet penerus bangsa ini. Namun sayang sekali, sehari-hari kita hanya bisa melihat mereka mengais-ngais rezeki di jalanan—tempat yang seharusnya bukan menjadi tempat mereka—demi sesuap nasi penghidupan. Bahkan kabar yang saya dengar dari teman saya, pergaulan kumpulan anak kumuh di daerah Johar, Semarang telah melewati batas. Bayangkan saja, mereka sampai melempar batu ke kepala temannya hingga berdarah, dan mereka anggap hal terebut biasa.
Tujuan kita hanya satu, yaitu berbenah moralitas. Dan identifikasi masalah kita pun telah dispesifikan, yaitu masalah moralitas. Dengan melakukan riset langsung ke lapangan untuk mencari data dan fakta valid terkait objek yang akan kita perbaiki, aksi ini merupakan tindakan kecil dan mudah yang semua kalangan pasti bisa melakukannya. Tidak perlu yang repot-repot. Cukup lakukan wawancara saja pada masyarakat sekitar lokasi yang akan dituju, hingga pendekatan secara personal terhadap komunitas sekitar dan objek yang dituju dapat terbentuk, karena pendekatan yang terbaik bukanlah dengan gembar-gembor di hadapan mereka secara massal, melainkan dekatilah mereka satu-satu, lalu dengarkan dan pahamilah keluh kesah mereka.
Ini bukan saatnya untuk terus menerus mengecam. Ini saatnya bergerak. Action. Ini adalah tugas, kewajiban, dan amanat bangsa kepada kita. Inilah negeri kita, negeri dimana masyarakat madani—mungkin—masih menjadi mimpi. Ini bukan lagi tugas saya, kamu, atau dia. Tidak. Ini tugas bersama kita. Ini bukan lagi hanya menjadi tugas pemerintah dengan segala aparatur birokratnya. Tidak. Tidak sama sekali. Ini tugas besar kita. Jika kita hanya membebankan tugas ini pada pemerintah, kapan mimpi negeri ini akan tercapai? Mulailah dari hal kecil, dari sekarang, dan dari diri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s