Muda, Mendidik, Membangun Bangsa

Banyak sekali untaian kata yang dapat kita rangkai untuk membentuk suatu definisi dari kata “mendidik”. Namun bagi saya, sama seperti apa yang Anies Baswedan katakan, “mendidik” adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Ya, kita semua, khususnya bagi kita yang merasa dirinya adalah pemuda.

Terkadang bahkan seringkali kita salah mengartikan tentang apa dan siapa itu seorang pendidik. Pendidik adalah guru. Benar, tidak salah. Namun kurang tepat. Itu merupakan arti sempit dari kata pendidik. Pendidik bisa siapapun, apapun strata sosialnya di masyarakat. Pendidik bisa diartikan apapun, selama terjadi proses transformasi knowledge di dalamnya. Inilah arti luas dari seorang pendidik, makna sesungguhnya. Sehingga atas dasar inilah mendidik menjadi tugas bagi setiap orang—yang dalam rangka memenuhi janji dan sumpah Republik Indonesia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945—yang tidak hanya terbatas pada pendidikan formal dan segala perangkat konvensionalnya.

Mendidik pun seharusnya tidak asal-asalan. Saya pernah membaca buku Indonesia Mengajar yang berceritakan tentang sepenggal kisah perjuangan mendidik para Pengajar Muda di berbagai pelosok Nusantara. Di dalamnya diceritakan berbagai metode dan cara efektif dalam mendidik secara cerdas. Pun mendidik dengan ‘tangan’ telah menjadi cara kuno dalam pendidikan modern dewasa ini. Mendidik dengan kekerasan hanya akan menimbulkan kesan buruk di psikologis anak. Kata-kata kotor dan penerapan hukuman dalam bentuk kekerasan dalam mendidik hanya akan memberikan mirror effect pada objek didik kita—dalam hal ini anak. Mereka itu seperti peniru paling pintar di dunia ini. Mereka itu seperti kertas putih polos yang akan meniru segala hal yang kita lakukan pada mereka. Tak ayal, tak jarang anak-anak yang menjadi korban didikan ‘keras’ orang tuanya akan melampiaskan cara didikan tersebut ke teman-teman sekelasnya.

Oleh karena itu, banyak cara kreatif dalam mengembangkan cara mendidik yang menyenangkan. Metode lama yaitu sumber ilmu hanya dari satu narasumber, tidak lagi menjadi cara yang saklek untuk terus menerus digunakan. Kini telah banyak berkembang metode yang lebih aplikatif dan fun. Sebut saja dengan metode diskusi dan tukar pendapat diantara anak didik, metode penerapan ilmu secara langsung pada medianya seperi sebuah praktik, metode penerapan langsung di alam sekitar, sehingga pendidik hanya sebagai fasilitator dalam proses mendidik tersebut. Transfer ilmu tidak hanya berjalan satu arah, melainkan multiarah. Saling menginspirasi satu sama lain. Tidak ada yang merasa dipalingpintarkan atau dipalingbodohkan, namun kita semua sama-sama belajar. Itu semua hanya sebagian kecil dari begitu banyaknya metode pengajaran dalam mendidik. Ibarat kata, jika rencana A gagal, kita masih memiliki 25 abjad lain hingga Z untuk dilaksanakan.

Seorang pendidik pun sebenarnya dituntut untuk hampir sempurna, dengan tetek bengek kompetensi abad 21 yang dibutuhkan. Seorang pendidik abad 21 dituntut harus menguasai pelajaran inti, semisal bahasa dan sastra, matematika dan sains, seni, dan kewarganegaraan. Selain itu, pendidik pun juga harus memahami isu-isu kekinian, wawasan global yang luas, dan pemahaman yang utuh. Kemampuan untuk berpikir kreatif dan inovatif, kritis, dan komunikatif telah menjadi kewajiban dalam menghadapi tuntutan zaman di abad ini. Ditambah lagi dengan semakin cepatnya perkembangan teknologi informasi, seorang pendidik juga harus paham terhadap pengusaan sektor ini. Dan yang terakhir adalah kompetensi yang sangat wajib dimiliki oleh seorang pendidik, yaitu kemampuan intrapersonal dan interpersonal, seperti beradaptasi dan fleksibilitas, kepemimpinan dan tanggung jawab, manajemen emosi dan diri, pemahaman reliji yang sempurna, dan sebagainya. Atas beragam faktor inilah pendidik abad 21 diharapkan mampu mengatasi problematika kompleks milenium ini, karena sama-sama kita tahu bahwasanya pendidikan merupakan landasan fundamental dari kemajuan suatu bangsa.

Ada kalanya seorang pendidik dihadapkan kepada suatu masalah krusial nan kompleks, atau mungkin bisa dibilang sering, mengingat begitu detailnya problem bangsa ini, sehingga terdapat banyak cara untuk mengantisipasinya. Terdapat salah satu cara, yaitu dengan berpikir sesuai dengan persepsi warna topi (Edward de Bono’s Six Thinking Hats). Ada enam buah warna topi: putih, merah, kuning, hijau, hitam, dan biru. Masing-masing memiliki karakteristiknya tersendiri.

Pertama, mari kita menjelajahi The White Hat Thinking sang rasionalis. Layaknya seorang detektif handal dalam setiap misinya, Topi Putih selalu berpikir berdasarkan data, fakta, dan informasi yang didapatkannya. Ia dapat memisahkan spekulasi yang tak berdasar dari informasi yang ada sehingga data dan informasi yang ada menjadi valid dan kongruen. Atau mudahnya, White Hat Thinking tak pernah lepas dari fakta dan data dalam menganalisis dan mengambil suatu keputusan dalam suatu masalah.

Yang kedua, mari kita telusuri The Red Hat Thinking sang feeler. Berbeda dari tipe Topi yang pertama, Topi Merah berpikir berlandaskan perasaan, firasat, insting, dan intuisi. Ambil contoh mudahnya, dengan kita mengetahui perasaan dan mood setiap orang maka akan memudahkan kita dalam menentukan keputusan dan tindakan apa yang perlu diambil. Karena manusia merupakan makhluk sosial dan perasa, penggunaan Topi Merah diperlukan pada masa-masa kritis emosional.

Ketiga, mari kita simak The Yellow Hat Thinking sang pragmatist. “Apa manfaatnya jika saya melakukan hal ini?”, “Apakah semua ini ada tujuannya?”, dan “Yang terpenting adalah kualitas” merupakan sedikit dari banyaknya contoh pemikiran dari Topi Kuning. Selalu berpikir nilai baku dan manfaat yang dapat dirasakan. Topi Kuning selalu melakukan analisis berkala terhadap keuntungan dan hal-hal positif lainnya yang dapat dirasakan dengan meminimalkan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi, sehingga kita akan diajak untuk berpikir yang enak-enak dalam mengerjakan sesuatu.

Keempat, mari kita saksikan The Green Hat Thinking sang inovator yang kreatif. Ada kalanya jalan buntu sering menjumpai kita di dalam suatu aktivitas, that’s why dengan Topi Hijau kita akan dapat berpikir kreatif untuk menemukan jalan alternatif dan solusi untuk memecahkan problem tersebut. Jika Topi-topi sebelumnya hanya berpikir di dalam sebuah kotak dan batas wajar berpikir, Topi Hijau akan mamacu kita untuk Think out of the box. Berpikir di luar batas spektrum yang telah ditetapkan.

Yang kelima, mari kita jajaki The Black Hat Thinking sang pesimistis. Pemikiran Topi jenis ini bertolak belakang dengan pemikiran Topi Kuning yang selalu berpikir hal-hal positif. Topi Hitam berpikir kepada hambatan dan kelemahan yang akan terjadi pada suatu hal. Atau dalam kata lain, Topi Hitam akan menelusuri ide-ide yang tidak berjalan sesuai situasi yang ada sehingga akan tetap berjalan pada porosnya. Topi Hitam sangat diperlukan dalam memperhitungkan kelemahan, kerugian, dan hal-hal negatif lainnya dalam suatu masalah sehingga kita dapat menelaah kembali ide-ide untuk menghindari kemungkinan terburuk tersebut.

Yang keenam, terakhir, mari kita perhatikan The Blue Hat Thinking sang idealis. Mengawali dan mengakhiri suatu masalah merupakan tugas dari Topi Biru. Dengan pemikiran bijak dalam pendelegasian tugas-tugas yang cepat dan tepat pada setiap jenis Topi, Topi Biru bisa dibilang merupakan Topi dengan sifat kepemimpinan. Ia tahu, paham, dan ahli dalam penentuan Topi mana yang seharusnya digunakan dalam mengatasi aspek permasalahan ini. Dan ia pun selalu berusaha untuk mengatur strategi yang tepat dan terarah, seperti fokus objek dan tujuan. Topi biru pun ahli dalam menarik benang merah kesimpulan dan langkah-langkah bijak dan strategis yang harus dilaksanakan selanjutnya.

Dari enam tipe Topi tersebut tidak terdapat jenis Topi terbaik yang harus selalu digunakan, melainkan kita harus pintar-pintar dan jenius dalam menentukan Topi mana yang seharusnya dipakai dalam suatu masalah tertentu.

Lalu mengenai pengklasteran pendidikan ke dalam beberapa topik yang spesifik telah menjadi keniscayaan karena suatu hal yang manusiawi seseorang tidak dapat memahami semua pelajaran inti secara detail dan mendalam. Oleh karena itu seorang pendidik, apalagi pendidik muda, untuk dapat berkontribusi dalam mendidik sesuai dengan kompetensi bidang keahliannya masing-masing, seperti misalnya kita dapat mengajarkan ilmu tentang teknik elektro, komputer, lingkungan, dan lain-lain. Tidak perlu kita harus belajar atau kuliah ilmu pendidikan secara formal seperti FKIP (Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan). Mendidiklah apa yang bisa kita didik dan sampaikan.

Penggunaan metode dalam teknis mendidik pun bisa kita kreasikan. Penggunaan metode Drama, Role Play, Story Telling, dan Musik menjadi alternatif tersendiri. Beberapa metode tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan konteks ilmu dan pelajaran yang akan disampaikan. Semisal penggunaan Drama yang identik dengan lakon dapat kita terapkan pada pelajaran Sejarah, yang bertujuan untuk menceritakan kisah heroik dari para pahlawan bangsa.

Selain itu, ada juga Role Play. Mungkin sebagian kalangan beranggapan bahwa tidak terdapat perbedaan antara Drama dengan Role Play. Namun sebenarnya terdapat perbedaan, yaitu pada saat pelaksanaannya. Jika dalam Drama kita membutuhkan konsep dan naskah, maka dalam Role Play alur cerita akan berjalan alami tanpa terkonsep sedikitpun. Improvisasi berperan penting dalam hal ini. Role Play sering digunakan untuk menggambarkan pencitraan dari moral yang baik. Semisal seorang guru menunjuk seseorang—yang baginya dapat dijadikan teladan yang baik—maka orang tersebut secara tidak langsung sedang bermain Role Play yang bertujuan agar nilai-nilai moral yang sedang ‘dimainkannya’ dapat tersampaikan ke anak-anak didik guru tersebut.

Story Telling mungkin sudah akrab terdengar di telinga kita. Teknik ini dapat dikatakan merupakan teknik mengajar dengan cara bercerita, alias mendongeng. Pendidik bercerita, lalu anak-anak didiknya diajak untuk mengimajinasikan apa yang ia sampaikan, walaupun terkadang apa yang pendidik ceritakan jauh berbeda dengan apa yang anak-anak didiknya bayangkan, sehingga dalam penggunaan teknik ini sangat direkomendasikan untuk menggunakan suatu media yang dapat memperkuat penceritaan tersebut. Media dapat berupa apa saja. Seperti misalnya jika kita ingin menceritakan tentang Tata Surya dan gejala Gerhana, kita dapat menggunakan media ilustrasi 3D yang dapat merepresentasikan cerita yang kita sampaikan sehingga anak-anak didik akan lebih mudah menangkap apa yang kita maksud.

Bagi sebagian orang, musik sangat berperan dalam metode pembelajaran. Namun ada juga kalangan lain yang terganggu pada saat belajar ketika sebuah alunan nada—musik—dimainkan. Terlepas dari fenomena tersebut, musik juga dapat dijadikan dalam teknis pembelajaran. Penggunaan musik memang lebih ditekankan kepada pelajaran bahasa dan sastra, yaitu pada—contohnya—‘’isilah titik berikut’’ yang hanya dapat diisi ketika kita mendengarkan musik yang diputar lalu kita memperhatikan lirik yang sedang dimainkan sehingga dapat sesuai dengan yang tertera di lembar soal ‘’isilah titik berikut’’ tersebut.

Sekali saya tekankan, ada begitu banyak cara, metode, teknis dalam kegiatan belajar mengajar. Apalagi kita—pemuda—dituntut untuk pro aktif dalam mengembangkan pembelajaran yang asik dan menyenangkan. Metode Edward de Bono’s Six Thinking Hats, metode Drama, Role Play, Story Telling, Musik dan lainnya yang saya jelaskan sebelumnya merupakan sedikit dari begitu banyaknya metode pembelajaran yang dapat kita kembangkan. Namun, inti dari semuanya adalah gunakan cara mendidik yang aplikatif dan teladan, karena pendidik yang baik adalah ia yang pertama kali melakukan apa yang ia katakan sebelum anak-anak didiknya melakukan. Maka jadilah sebaik-baik contoh.
Mendidik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s