Curhat Matkul Tambahan

Jadi ceritanya jumat kemarin (28-10-2016) gua ada kelas tambahan gitu, bukan mata kuliah wajib, tapi lumayan buat basis riset gua di sini. nama matkulnya, kalo di-bahasa-indonesia-kan, adalah matematika teknik (haha puyeng deh belajar matek lagi 😀 ).
 
tapi ada satu hal yang bikin gua asik ngikutin kuliah ini. kuliah ini diawali dengan materi tentang “a walk through a mathematical garden” (gile judul materinya aja sok sok estetis gitu), dan isinya adalah semacam brush up matematika. ya semacam pemanasan untuk menghadapi ‘keangkeran’ matematika. Namun, dosennya, seorang doktor di bidang astronomi dari The University of Sheffield, bilang gini: “my job here is not to teach you math, but to eliminate the scary of mathematics many people have”. keren keren (tepuk tangan).
 
dan emang bener, materi pemantiknya sedikit demi sedikit bisa menghilangkan kengerian kami terhadap matematika. kami diajak untuk menggunakan logika dalam mencari solusi matematika, bukan ngapalin segudang rumus. kenapa A = C, kenapa B = 2A, dan kenapa-kenapa lainnya. dan inilah yang membuat kuliah jumat kemarin, gua rasa, keren. dan inilah yang telah hilang dari anak-anak SMA, terutama yang sering ‘cuma’ mengandalkan tempat les atau kursus.
 
well, dari pengalaman pribadi gua mengikuti kursus persiapan UN (Ujian Nasional) SMP dan SMA, yang diajarkan ke siswa adalah ‘jalan pintas’ untuk memecahkan suatu permasalahan matematika, bukan memahami sepenuhnya konsep rumus tersebut. jadi, kalo ada soal yang ada x^2 nya, misalnya, berarti pake rumus X; kalo ada soal yang ada turunan nya, berarti pake rumus Z; dsb. emang sih metode tersebut bisa membuat kita cepet ngerjain soal. tapi efeknya adalah “volatile”, gampang menguap. coba aja, setelah UN selesai, palingan rumus-rumus racikan tersebut bakalan lebur ditelan roda kehidupan. dan efek lainnya adalah, siswa kurang diajak untuk berpikir menggunakan logikanya, kurang diajak untuk berpikir “why” dan “how”. mereka jadi berpikir “pak/bu, udahlah, tunjukin aja rumus simpelnya, biar kita hafal.”. efeknya, jadi sering berpikir instan.
 
namun, gua rasa pendidikan tinggi (read: universitas) di indonesia sudah baik. such the instant formulas sudah berkurang. mahasiswa-mahasiswa diajak untuk berpikir latar belakang suatu “konsep solusi” oleh dosen-dosen luar biasa, walaupun terkadang watak SMA-nya masih terbawa: cari instan.
 
Birmingham, 30 Oktober 2016
di tengah puyengnya belajar.
btw, hari ini di UK waktunya bergerak mundur satu jam lho. unik ya.

Pelayanan Buruk BRI Kantor Cabang Pekayon Jaya, Bekasi

Dear Bank Rakyat Indonesia,
Saya Reza Dwi Utomo, sedang kuliah S2 di Inggris, dan insya Allah akan pulang ke tanah air sekitar 2 tahun lagi. Pagi ini (Kamis, 13 Oktober 2016) sekitar jam 8:15 waktu Inggris (14.15 WIB), saya mencoba menelepon Call Center BRI melalui nomor telepon UK saya. Well, saya rela-relain untuk nelpon ke Indonesia soalnya ini kebutuhan penting. Singkatnya, internet banking rekening BRI saya bermasalah (udah dari dua bulan sebelumnya saya mencoba beberapa kali mengurus ini di kantor cabang BRI Pekayon Jaya, Bekasi, tapi berkali-kali CS selalu bilang beralasan “jaringannya bermasalah” lah, “saat ini BRI sedang launcing satelit baru sehingga jaringan terganggu” lah, “seharusnya ini bisa, pak” lah, dan alasan lain yang terkesan dibuat-buat), sehingga saya hanya bisa mencek mutasi rekening, tidak bisa melakukan transaksi keluar. Dan kondisi mengatakan bahwa keluarga saya membutuhkan uang sejumlah puluhan juta dari rekening BRI saya (saya menggunakan rekening Simpedes BRI) tersebut. Ya, jadi mau gak mau uang dari rekening saya tersebut harus ditarik melalui teller di kantor cabang BRI terdekat oleh keluarga saya.

Singkat kata, saya telpon call center BRI tersebut untuk menanyakan prosedurnya. Saya jelaskan kondisi saya yang sedang berada di luar negeri. Lalu CS-nya memberi tahu bahwa saya tidak bisa menarik uang dengan diwakili oleh orang lain dan malah meminta saya untuk menarik uang setelah saya berada di Indonesia. Dan saya katakan saja bahwa saya pulangnya 2 tahun lagi, lalu saya bertanya apakah tidak bisa menggunakan surat kuasa. Trus CS bilang bahwa coba saja pakai surat kuasa lalu “dikirim”. Nah, saya bingung dengan kata “dikirim” tersebut, lalu saya tanya ke CS. Eh neyebelinnya, CS-nya ngejelasinnya malah dengan nada setengah gondok dan mendikte saya seakan-akan saya ini tulalit. Dari sini saya sudah sebal banget. Makanya saya berusaha untuk segera mengakhiri telpon saya. Udah jauh-jauh nelpon dari UK, mahal pula, eh dilayaninya malah seperti itu. Oke gitu aja gak terlalu parah.

Saya coba menelepon ke kantor cabang BRI Pekayon Jaya, Bekasi, dengan harapan bahwa surat kuasa yang dibilang oleh CS tadi benar apa adanya. Dan sekali lagi, saya harus berkorban pulsa nomor UK untuk telepon ke Indonesia. Awalnya, yang mengangkat telpon saya adalah bagian operator. Lalu saya jelaskan keperluan saya, dan operator tersebut memberi tahu bahwa saya disambungkan ke petugas yang bernama Emi. Saya inget banget ini namanya. Kurang lebih begini percakapan saya dengan Emi ini:
Emi : halo, ada yang bisa saya bantu?
Saya : halo, saya Reza. Begini, sekarang kondisi saya di luar negeri dan saya akan pulang 2 tahun lagi ke Indonesia. Saat ini keluarga saya sedang butuh uang dari saya. Apakah bisa uang dari rekening saya ditarik oleh keluarga saya?
Emi : oh tidak bisa pak! Tunggu pulang saja ke Indonesia.
Saya : tapi saya masih lama banget pulangnya. Dan lagi buku tabungan saya ada di rumah.
Emi : tetap tidak bisa. Sudah ya pak. Tidak bisa.
Saya : tapi bu, keluarga saya butuh uangnya. Apa tidak bisa pakai surat kuasa?
Emi : tidak bisa. Sudah ya! (tut…tut…tut…)

Dan telpon saya diputus sepihak. Beneran ini gak sopan. Saya jauh-jauh telpon dari UK, tapi telpon saya diputus dengan tidak sopan seperti itu. Kalo memang tidak bisa, ya udah gapapa. Tapi at least, TOLONG SAMPAIKANLAH DENGAN SANTUN!!! Apakah begini pelayanan BRI? Tidak menggenalisir, apakah begini pelayanan Kantor Cabang BRI Pekayon Jaya terhadap nasabahnya?!! Apakah anda tidak merasa dilecehkan sudah telpon jauh-jauh (harus menyesuaikan jam dengan waktu Indonesia pula) dan mahal, eh malah dilayani dengan buruk seperti itu????!!!!
Saya kecewa berat dengan BRI!! Udah internet banking saya bermasalah terus, ditambah lagi pelayanannya buruk.
Saya tidak meminta BRI untuk menyuruh Emi untuk meminta maaf ke saya. Saya cuma minta kepada BRI untuk MEMPERBAIKI PELAYANANNYA TERHADAP NASABAH. Gak sedikit kasus para nasabah yang kecewa dengan pelayanan BRI.

Birmingham, 13th of October 2016
Regards,
Reza Dwi Utomo

Resensi Buku “Bekerja Ala Jepang”

Judul: Bekerja Ala Jepang: Mulai dari Budaya Masyarakat, Capai Kemajuan Industri
Penulis: Tim Enjinia Nusantara
Penerbit: Pena Nusantara
Tebal: 185 + x halaman
Cetakan 1, Mei 2013

Bekerja Ala Jepang

Saya bisa bertemu buku ini pada saat saya sedang berkunjung ke website PPI ON (Osaka-Nara). Di salah satu laman web itu, terpampang wajah ketua Enjinia Nusantara, Abdi Pratama, yang pernah memberikan presentasi bedah buku “Bekerja Ala Jepang” ini di Osaka 2014 silam. Penasaran dengan bukunya, saya pun googling untuk membelinya secara online dari penerbitnya langsung.

Isi buku ini diawali oleh penjelasan singkat mengenai profil Enjinia Nusantara—sebuah komunitas yang beranggotakan para alumni universitas di Jepang yang bekerja dan berkarya di dunia industri Jepang. Saya sempat bingung tentang makna kata “Enjinia” tersebut. Dan ternyata “Enjinia” merupakan kata dalam bahasa Inggris “Engineering” yang diserap ke dalam bahasa Jepang. Pendirian Enjinia Nusantara (EN) pada September 2012 di Hamamatsu, Jepang, dilatarbelakangi oleh semangat untuk memajukan kemandirian industri nasional. Dengan posisi para anggotanya yang sebagian besar berada di industri-industri di Jepang, EN berupaya bekerja sama dan bersinergi dengan berbagai pihak dalam mewujudkan industri nusantara yang berdikari.

Buku ini sebenarnya berisi beragam cerita pengalaman dari para anggota EN. Namun, yang menjadi nilai plus adalah cerita-cerita tersebut sedikit banyak mewakili kehidupan profesional di Jepang, sehingga saya rasa tidaklah salah untuk menjadikan buku ini sebagai salah informasi dan acuan sebelum Anda memutuskan untuk berkarya di industri di Jepang.

Konten buku terbagi ke dalam empat bagian. Masing-masing saling memiliki keterkaitan dan landasan.

  1. Makna dari Sebuah Pekerjaan

Pada bagian pertama ini, dijelaskan hal-hal dasar tentang konsep pekerjaan di Jepang. Kita pun bisa mengetahui istilah 社会人(Shakaijin). Secara harfiah, Shakaijin didefinisikan sebagai orang yang bersosial masyarakat. Shakaijin dianggap sebagai strata sosial yang memiliki predikat tinggi di mata warga Jepang karena saat seseorang disebut sebagai Shakaijin, ia dianggap sudah mencapai tingkat kemampuan untuk memahami dan menjalankan segala macam bentuk kewajiban dan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Shakaijin sering diidentikkan sebagai simbol kedewasaan seseorang, sehingga kita tidak akan lagi mendengar ungkapan “wajar salah, masih belajar” pada diri seorang Shakaijin.

Berikutnya kita akan menemukan empat prinsip kerja pada orang Jepang, yang disebut 行動四原則 (Kodo yon gensoku). Empat prinsip ini adalah bersuara keras, bergerak sigap, memberi salam, dan senyum dan ceria. Bersuara keras atau 大きな声で (Okina koe de) banyak dilakukan oleh orang Jepang. Mungkin kita sering juga menonton anime anggota tim basket Kuroko yang sering teriak-teriak saat latihan. Atau mungkin, kita sering melihat di film Jepang, orang Jepang suka sekali berteriak saat mengucapkan terima kasih kepada orang yang ia hormati. Itu adalah beberapa contoh Okina koe de. Dengan mengeluarkan suara nyaring keras, energi semangat akan lebih mengalir—membuat kita lebih siap untuk bekerja daripada bersuara lemah dan ogah-ogahan.

Bergerak sigap atau きびきび行動 (Kibikibi kodo) ini salah satu contohnya adalah saat atasan memanggil, sikap yang harus dimunculkan adalah segera menjawab dan—jika perlu—langsung meluncur ke ruang atasan tersebut. Malas-malasan dan pura-pura tidak mendengar saat dipanggil sangatlah bertolak belakang dengan prinsip Kibikibi kodo. Orang Jepang sangat membudayakan memberi salam lebih dahulu dibandingkan orang lain, atau disebut 自分から挨拶 (Jibun kara aisatsu). Dengan membiasakan diri berlomba-lomba memberi salam terlebih dahulu—bahkan kepada orang di kantor yang tidak begitu kenal sekalipun—akan memberikan dampak keakraban sedikit demi sedikit akan terjalin lebih erat. Prinsip yang keempat adalah melakukan segala sesuatu dengan ceria atau 明るい笑顔 (Akarui egao). Orang Jepang sering menunjukkan senyum ceria tiap kali mereka bekerja. Ditambah lagi, selain senyum ceria, keempat prinsip tersebut juga dilakukan bersamaan: bersuara keras kemudian langsung sigap saat atasan memanggil lalu menemuinya dengan senyum sumringah menyungging di wajah, dan selalu menyapa atasan tersebut terlebih dahulu saat menemuinya di luar kantor.

Bahasan selanjutnya pada bagian ini adalah tentang aktivitas mencari kerja atau 就職活動 (Shushoku katsudo). Aktivitas ini cukup unik di Jepang. Mencari kerja sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum lulus kuliah S1, yaitu dua tahun sebelum lulus. Namun, pada umumnya, orang Jepang yang bersekolah S1 akan lebih memilih untuk terus melanjutkan sekolah S2 dahulu, baru kemudian mencari kerja. Karena rata-rata perusahaan Jepang merupakan industri berbasis inovasi dan riset, perusahaan di Jepang lebih melirik lulusan S2 yang lebih memiliki pengalaman aplikatif di bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dan lebih dewasa (Shakaijin) daripada lulusan S1. Di Jepang pun alur untuk melamar kerja telah diinfokan dari awal. Para mahasiswa pun juga jauh-jauh menyiapkannya. Selain itu, ada beberapa perusahaan yang memiliki hubungan kerja sama dengan kampus tertentu sehingga aplikasi kerja dapat dilakukan melalui rekomendasi dari universitas.

Orang Jepang terkenal loyalitasnya pada tempat ia bekerja. Menurut data dari Japanese Electrical Electronic & Information Union tahun 2001, karyawan Jepang yang ingin pindah kerja berjumlah 19,8% dan karyawan yang jadi pindah kerja hanya berjumlah 11,5%. Angka yang sangat kecil jika dibandingkan dengan Korea Selatan (20,1% dan 43,5%), Taiwan (15,4% dan 64,8%), Cina (14,1% dan 35,8%), Perancis (23,2% dan 66,4%), dan Amerika Serikita (13,4% dan 90,1%). Hal ini disebabkan oleh perspektif yang dimiliki orang Jepang. Bagi orang Jepang, berhenti kerja dan berpindah ke perusahaan lain menimbulkan kesan yang kurang baik karena mengindikasikan kekurangmampuan dalam hal beradaptasi di lingkungan kerja ataupun kegagalan dalam mencari solusi dari permasalahan yang ada. Oleh karena itu, setelah pindah kerja , tidak jarang posisi yang didapatkan setara atau malah lebih rendah dari sebelumnya. Namun, jika tetap ingin berpindah kerja atau 転職 (Tenshoku), pihak ketiga yang disebut agen kerja. Agen ini bekerja sama dengan beragam perusahaan untuk menjaring ribuan calon karyawan yang ingin pindah kerja.

  1. Budaya Kerja sebagai Pilar Perusahaan

Di Jepang, aspek Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) atau 人材開発 (Jinzai kaihatsu) menjadi salah satu faktor yang sangat diperhatikan oleh perusahaan. PSDM di perusahaan Jepang umumnya berbentuk Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) yang ditujukan bagi para pegawai yang baru bergabung di perusahaan maupun pegawai yang baru naik pangkat. Pada Diklat tersebut, tahap awal yang diberikan adalah penanaman filosofi dan tujuan perusahaan. Hampir sama dengan masa orientasi mahasiswa di kampus, penanaman filosofi dan tujuan ini pertama dilakukan oleh perusahaan secara keseluruhan, baru kemudian dilakukan oleh departemen masing-masing.

Tahap Diklat berikutnya adalah pegawai baru diterjunkan langsung ke lapangan. Ada tiga jenis kerja lapangan: training pemasaran, yaitu pegawai baru ikut bekerja dan membantu langsung di toko penjualan yang bersinggungan langsung dengan konsumen terakhir; training produksi, yaitu pegawai baru ditempatkan di pabrik untuk memahami proses produksi dan diharapkan mampu menyadari kekurangan-kekurangan sistem produksi di pabrik tersebut sehingga muncul ide inovasi; training memperbaiki produk atau service, yaitu pegawai baru diminta untuk membantu memperbaiki produk atau layanan dari perusahaan tersebut dan menguasai cara memperbaikinya, sehingga diharapkan bisa menjadi masukan bagi staf di lini produksi.

Tahap Diklat selanjutnya adalah pengembangan kemampuan dan keterampilan khusus. Biasanya perusahaan di Jepang memiliki pusat pelatihan khusus untuk mengembangan para pegawainya. Jika pelatihan yang akan diikuti oleh pegawai bisa menguntungkan perusahaan, atasan akan kooperatif untuk mengatur pembiayaan Diklat tersebut agar menggunakan biaya perusahaan. Namun, jika pelatihan yang akan diambil oleh pegawai tersebut tidak berhubungan langsung dengan pekerjaannya, umumnya pegawai tersebut harus membiayai sendiri biaya Diklatnya.

Perusahaan di Jepang sangat memprioritaskan unsur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) atau 安全第一 (Anzen dai-ichi). Slogan Anzen dai-ichi digunakan untuk menumbuhkan spirit zero accident untuk menghindarkan dari kecelakaan kerja selama bekerja dan berada di lingkungan tempat kerja. Penerapan K3 ini sangatlah ketat atau bisa dibilang tidak ada toleransi sama sekali. Setiap pagi, atau setiap kali memulai aktivitas kerja, para pekerja dengan lantang meneriakkan “Safety, yosh…yosh…yosh…” atau “Anzen dai-ichi yosh”. K3 di Jepang memiliki tujuan sebagai berikut:

  • Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja, baik secara fisik, sosial, dan psikologis.
  • Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya seselektif mungkin.
  • Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
  • Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan gizi pegawai.
  • Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
  • Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau kondisi kerja.
  • Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.

Kemudian untuk urusan jam kerja atau 労働時間 (Roudou jikan), rata-rata perusahaan di Jepang menerapakan jenis-jenis pengelolaan jam kerja yang berbeda-beda, antara lain: fixed time, flexible time (flex-time), dan coreless flex-time. Fixed time adalah jenis jam kerja yang memberlakukan jam mulai kerja, jam selesai kerja, dan jumlah jam kerja minimal dalam satu hari. Flexible time adalah jenis jam kerja yang memberlakukan core time (periode waktu wajib bekerja) dan jumlah jam kerja minimal dalam satu bulan, tapi tidak menetapkan jam mulai dan jam selesai kerja tiap harinya. Coreless flex-time adalah jenis jam kerja yang memberlakukan jumlah jam kerja minimal dalam satu bulan dan tidak menetapkan jam mulai dan jam selesai kerja setiap harinya. Mirip dengan flexible time, hanya saja jenis coreless flex-time tidak memberlakukan periode wajib berada di kantor sehingga lebih leluasa. Pegawai Jepang sering mulai bekerja sebelum waktunya dan mengakhiri bekerja setelah waktunya. Bagi orang Jepang, hal tersebut merupakan bentuk semangat dan keinginan kuat jika mulai lebih awal, dan menunjukkan penghormatan kepada atasan jika pulang lebih akhir. Oleh karena itu, orang Jepang sangat melakukan lembur kerja. Perusahaan di Jepang memberikan upah lembur untuk per 15 menit. Jumlah jam lembur maksimal seorang pegawai dalam satu tahun adalah 360 jam.

Pegawai Jepang memiliki filosofi khusus dalam dunia kerja, yaitu 報連相 (Hourenshou) atau lapor, kontak, konsultasi. Hourenshou terdiri dari kata 報告 (Houkoku) yang berarti melapor; 連絡 (Renraku) yang berarti memberitahu/kontak; 相談 (Shoudan) yang berarti diskusi/konsultasi. Houkoku didefinisikan sebagai aktivitas memberikan informasi secara vertikal dari bawahan kepada atasan. Fungsi Houkoku berdampak pada dua sisi: bagi yang menerima laporan dan bagi yang melapor. Bagi yang menerima laporan, Houkoku berfungsi untuk memahami kondisi lapangan, sebagai kontrol proses dan kualitas hasil pekerjaan, dan sebagai sarana edukasi bawahan/staf junior. Sedangkan, bagi yang melapor, Houkoku berfungsi sebagai evaluasi terhadap proses dan hasil pekerjaan dan sebagai kesempatan untuk menyerap ilmu senior dan atasan. Kemudian ada hal-hal penting yang harus diperhatikan jika ingin melapor kepada atasan, antara lain waktu yang tepat, orang yang tepat, tidak menunda untuk laporan yang penting, sampaikan kesimpulan terlebih dahulu, memisahkan antara fakta dan pendapat/analisis, memilih media yang tepat, menyampaikan informasi yang detail dan padat, dan segera melapor jika terjadi kesalahan atau timbul masalah.

Lalu yang dimaksud sebagai Renraku adalah penyampaian informasi kepada semua orang yang memiliki hubungan dengan informasi tersebut tanpa memandang jabatan, sehingga diharapkan terbangun rasa kesatuan sebagai tim dan terbiasa berbagi informasi dan berkomunikasi antara sesama anggota organisasi perusahaan. Poin-poin yang perlu diperhatikan saat melakukan Renraku adalah melakukan urutan pelaporan yang benar, memberikan materi yang jelas dan bahasa yang lugas, melakukan sesegera mungkin, membuat semua pihak yang berkepentingan bisa terjangkau, dan memilih media yang tepat sesuai jenis informasi. Kemudian, Shoudan diartikan bahwa komunikasi dua arah pun perlu dilakukan karena sebagai media memperoleh pengetahuan dan wawasan yang sangat baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan Shoudan antara lain memilih teman diskusi/konsultasi yang benar, mencari situasi yang tepat, menyiapkan asumsi sendiri sebelum berdiskusi.

Masayarakat Jepang secara umum memiliki budaya tepat waktu yang sangat mengakar daging. Begitu pula para pegawai Jepang, di perusahaan di Jepang, budaya 納期厳守 (Nouki Genshu) atau strict deadline sangat dijunjung tinggi. Atasan seringkali memberikan tugas-tugas tertentu kepada bawahan dan tak lupa untuk memberikan deadline untuk tugas tersebut. Budaya strict deadline ini mempermudah kedua belah pihak untuk mengatur perencanaan, apalagi yang diberikan deadline akan lebih merasa dipantau dalam mengerjakan tugas. Selain itu, pemberian deadline memberikan makna bahwa tugas yang diberikan tersebut adalah tugas serius yang harus diselesaikan. Beberapa hal yang dilakukan orang Jepang untuk memelihara budaya Nouki Genshu ini antara lain menggunakan kalender pribadi untuk menandai tanggal-tanggal deadline, memberikan prioritas terhadap tugas yang harus dikerjakan, dan membuang sikap malu bertanya jika terdapat kesulitan terkait tugas yang diberikan.

Quality Control di industri di Jepang, atau sering disebut QC活動 (QC Katsudou), dilakukan untuk melakukan perbaikan dalam industri. Metode QC yang sering digunakan oleh industri di Jepang adalah metode penyelesaian masalah. Metode ini terdiri dari tujuh langkah:

  • Penentuan tema

Tahap ini merupakan tahap awal dalam QC. Jika agak kesulitan dalam mencari tema untuk perbaikan, bisa digunakan kata kunci Cepat, Murah, dan Mudah.

  • Pengenalan kondisi sekarang

Setelah mengenali tema untuk QC, tahap berikutnya adalah mengenali kondisi masalah saat ini secara kuantitatif, dengan cara melihat data-data yang ada sekarang.

  • Penentuan target

Tahap selanjutnya adalah menentukan target yang ingin dicapai. Ada beberapa jargon yang sering dipakai pada tahap ini: “Turunkan setengah”, “Naikkan dua kali lipat”, “Buang satu nol”, atau “Tambah satu nol”.

  • Analisis penyebab masalah

Tahap ini merupakan inti dari QC. Alat yang dipakai dalam tahap ini biasanya adalah analisis naze-naze. Naze berarti mengapa. Analisis dilakukan untuk mencari tahu mengapa A bisa begini. Jika alasannya adalah B, lalu mengapa B bisa begini, dst, hingga akar permasalahan diidentifikasi.

  • Formulasi countermeasure

Setelah sumber masalah teridentifikasi, tahap berikutnya adalah memperbaikinya. Untuk menemukan countermeasure yang tepat, dibutuhkan ide-ide yang banyak. Faktor-faktor yang bisa dijadikan patokan dalam menentukan ide antara lain: berapa biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan ide tersebut, viabilitas atau kemudahan dalam merealisasikan ide tersebut, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan ide tersebut, dan berapa besar ekspektasi berhasil dari ide tersebut.

  • Verifikasi hasil

Pada tahap ini, langkah-langkah yang telah dilakukan sebelumnya harus diverifikasi apa sudah sesuai dengan target yang diinginkan atau belum.

  • Standarisasi dan kontrol

Tahap terakhir adalah pembentukan suatu standarisasi terhadap perbaikan yang telah dilakukan agar masalah tersebut tidak terulang kembali, atau kondisi yang telah diperbaiki tidak kembali ke kondisi awal.

  1. bersambung…

Metamorfosis Akhwat

Disclaimer: Tulisan ini bernada subjektif dan tanpa analisis yang ilmiah dan mendalam. Dasar yang saya gunakan dalam membuat tulisan ini adalah fenomena-fenomena yang sering saya lihat dan perhatikan dari banyak al ukh di kampus saya maupun kampus-kampus PTN lain. Segmen yang saya gunakan sebagai bidang pengamatan hanyalah mengenai pola al ukh dalam mengupload foto-foto ia di media sosial. Selamat membaca.

“Metamorfosis Akhwat” ini saya bagi menjadi 5 fase:
1. Awal masuk kampus sampai tahun pertama
2. Tahun kedua di kampus
3. Tahun ketiga di kampus
4. Tahun keempat hingga lulus
5. Pascakampus

Fase pertama dimulai dari masa seorang akhwat yang masih polos baru masuk kuliah. Pola foto-foto yang ia upload cenderung masih tak jauh beda dengan foto-foto yang diupload oleh seorang anak SMA yang baru lulus dan bisa kuliah, yaitu foto-foto euphoria bersama kawan-kawannya dan/atau foto-foto masa kaderisasi. Pada fase ini, kuranglah menarik untuk diangkat lebih dalam, mengingat al ukh pada fase ini, belum memiliki pola pikir yang matang tentang “menjadi seorang istri”.

Di fase kedua, seorang al ukh memulai masa-masa ‘tertutup’ dalam mengupload foto-foto di media sosial. Sangatlah sulit menemukan foto-foto dia yang sedang menampakkan wajahnya secara langsung di profil media sosial. Foto2-foto yang paling available didapatkan di profil dia hanyalah foto-foto bunga, foto-foto ramai bersama satu kelompok arisan para akhwat, foto-foto kata-kata bijak dan nasehat, dsb. Ia mulai belajar ‘jual mahal’ terhadap para ikhwan yang ia kenal. Namun, di sinilah istimewanya seorang al ukh yang menjaga foto dirinya agar tidak dikonsumsi bebas secara umum.

Fase ketiga. Di antara semua fase, inilah fase paling tertutup seorang akhwat. Walaupun kabarnya seorang akhwat memulai untuk mensubmit proposalnya di fase ini, ia tetap bisa benar-benar menjaga foto-foto dirinya tidak terupload sembarangan di dunia maya. Di fase ini pulalah seorang al ukh sedang mencapai masa puncak keorganisasian kampus. Saran saya: bagi para ikhwan, jika mau menikahi seorang al ukh yang masih mahasiswi, masa inilah masa yang tepat (walaupun terkadang al ukh tersebut masih suka jual mahal–maklum masih muda).

Fase keempat adalah fase kritis. Tidak hanya bagi akhwat, fase menjelang lulus juga merupakan titik berbahaya bagi ikhwan. Pada fase keempat ini, keakhwatan dan komitmen seorang al ukh benar-benar diuji. Di satu sisi ia harus menghadapi serbuan skripsi dengan beragam tantangannya, di sisi lain ia harus menghadapi kenyataan bahwa sebentar lagi ia akan meninggalkan momentum kuliah, yang berarti bahwa ia harus bersiap untuk menikah. Oleh karena itu, kegalauan batin pun sering muncul di fase ini. Pada fase keempat dan kelima, saya akan menjabarkannya ke dalam dua versi: “gagal” dan “sukses”.

Untuk versi “gagal”, salah satu dampaknya adalah al ukh tersebut yang biasanya rajin hadir pertemuan pekanan, sedikit demi sedikit akan mulai mencari-cari alasan untuk absen halaqoh. Awalnya, alasannya adalah padat skripsi. Namun, lama kelamaan, alasan-alasan sepele pun ia gelontorkan. Absen pun ternyata tidak hanya terjadi pada agenda pekanan, tetapi juga agenda organisasi. Al ukh ini akan mundur secara teratur dari organisasi yang ia jalani. Selain itu, ternyata kekhawatiran akan kenyataan hidup yang harus ia hadapi (khawatir tidak mendapat pendamping ideal) mengguncang batinnya, sehingga mengakibatkan ia, dengan didorong oleh kekhawatiran tersebut, terpaksa mulai mengikis ‘benteng’ perlindungannya dalam mengupload foto-foto di media sosial, agar ia, dalam perspektifnya, bisa lebih ‘laku’ di ‘pasaran’ akhwat. Jika ia yang dulunya sulit sekali untuk ditemukan foto-foto dirinya, kini kita akan lebih mudah menemukan penampakan foto dirinya di media sosial. Jika hal ini sampai terjadi, biasanya kondisi tersebut akan terus bertahan hingga pascalulus, bahkan mengakibatkan ia lepas dari tarbiyah. Hal ini pun bisa diperparah jika ia juga mendapat tekanan batin dari orang-orang se-fikroh-nya, sehingga menyebabkan ia merasa sakit hati dan meninggalkan keistikamahan. Beberapa contoh kasusnya adalah, ia yang dulunya adalah seorang akhwat dengan penampilan tertutup dan terjaga pergaulannya, kini ia sudah biasa memakai celana jeans dan baju berbahan kaos walaupun ia masih memakai kerudung model “ikhwit”. Foto-fotonya di media sosial pun kini tak ubahnya seperti perempuan-perempuan biasa pada umumnya. Romantisme keakhwatan masa kampus hanya tinggal kenangan. Pesona keanggunan seorang al ukh telah pudar. Miris.

Untuk versi “sukses”, ujian hidup di fase keempat ini menjadi titik ia melejit menjadi lebih baik. Sepertinya pemahaman tarbiyah benar-benar mencokol erat di alam bawah sadarnya sehingga ia yakin akan pertolongan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang sabar dan taat. Kekhawatiran akan tidak bisa mendapatkan pasangan hidup ideal hanya sedikit menggubrisnya. Ia kemudian yakin kembali terhadap janji Allah tentang perempuan yang sholehah pasti akan mendapatkan lelaki yang sholeh pula. Oleh karena itu, fase keempat ini menjadi titik lejit baginya. Ia menjadi lebih membentengi dirinya. Ia benar-benar menjadi akhwat sejati–seorang calon ibu luar biasa yang siap membentuk jundi-jundi dakwah berikutnya. Bahkan pada fase pascakampus pun, menemukan foto-fotonya akan tetap sulit. Foto-foto yang ada hanyalah foto-foto normal ia bersama kawan-kawannya. Kini, tak ada lagi di dalam benaknya untuk ‘sombong jual mahal’ jika ada seorang al akh yang meminangnya. Visi hidupnya hanya satu: membentuk keluarga islami berorientasi dakwah bersama lelaki pilihan.

Demikian fenomena-fenomena al ukh yang saya lihat di sekitar saya. Sekali lagi, tulisan Metamorfosis Akhwat di atas sangat subjektif. Wallahua’lam bishshowab.

Bye Semarang! Back to home for good

Packing

Aku masih ingat masa itu. Aku pertama kalinya ditinggal oleh keluarga untuk memulai hidup baru di tanah perantauan. Sepi. Sempat terpikir olehku, apa benar mulai detik ini aku harus hidup mandiri? Ah, terkadang aku jadi malu dengan sejumlah kawan yang bahkan mereka lebih luar biasa; laut pun mereka arungi untuk hidup jauh menuntut ilmu dan terpisah jauh dari keluarga. Hari-hari awal masih terngiang betul di memori. Tiap menjelang tidur dan bangun tidur, aku berulang kami bergumam: aku sudah tidak lagi tinggal di rumah. Sedih.

Ternyata memang benar apa kata sang ulama terkenal, Imam Asy-syafi’i: merantaulah, maka kau akan mendapatkan ganti kawan dan saudara yang baru. Pun hal ini terjadi padaku. Kalau diingat-ingat kembali, seringkali aku tertawa. Botak. Gundul 5cm. Oh, tidak! Tidak! Harus gundul 2cm. Aku dan kawan-kawan seperjuangan menyicipi masa-masa lucu tersebut. Ah, gundul, padahal aku anti sekali dengan gundul.

Hari demi hari pun berlalu. Kawan-kawan baru datang bermunculan. Pun orang-orang hebat tak jarang ku temui, ya, sekadar meneguk untuk memenuhi hasrat haus akan ilmu dan nasehat dari beliau-beliau tersebut. Semuanya pun berubah.

Masa kampus memang momentum yang magis. Dayanya mampu membuat maba (mahasiswa baru) menjadi lebih pakar daripada dirinya dulu saat sekolah, atau malah mengubah dirinya berbeda sama sekali. Seringkali aku mendengar istilah: kampus itu miniaturnya negara. Tipe mahasiswa dari A sampai Z bisa kita temui di institusi pendidikan tinggi ini. Jika engkau mau mencari unsur-unsur yang positif sekali, kau bisa menemuinya. Bahkan jika engkau mengejar komponen-komponen yang negatif, atau malah sangat amat negatif, pun engkau bisa mendapatkannya. Semua pilihan ada di tanganmu.

Kenangan memang. Masa-masa kaderisasi jurusan penuh cerita, kisah-kisah pengalaman organisasi penuh wawasan, sepenggal cerita dari korea penuh memori, secarik pengalaman Kerja Praktek di BPPT, segunung perjuangan merampungkan Final Project, dan lautan kisah tarbiyah penuh cinta, telah menjadi catatan perjalanan dalam hidupku. Aku menggores tinta sejarah untuk hidupku sendiri.

Kini, masa depan pasca kampus itu sedang menanti. Bahkan kata kebanyakan orang, inilah dunia sebenarnya. Detik demi detik, aku seakan terus menerus dikejar waktu: umurku semakin bertambah, jatah usiaku semakin berkurang. Ah, memoriku melompat kembali ke masa-masa sekolah dasar; aku saat SD pernah ingin menjadi seorang ilmuwan, peneliti; aku saat SMA pun bermimpi bisa menuntut ilmu di negeri sakura. Akankah impian itu tercapai? Wallahu’alam bisshowab. Yang jelas, semoga saja tiket dari institusi yang diprakarsai oleh Dr. Sri Mulyani Indrawati ini bisa mengantarku mewujudkannya. Aamiin.

@UtomoReza

30 Desember 2015

di Masjid Stasiun Tawang, dalam kepungan puluhan nyamuk

Ana wa Antum

Liqo New Spirit

Malam tanggal 17 Ramadhan 1436 menjadi malam bersejarah bagi ana.

Unik, padahal awalnya kami hanya ‘iseng-iseng’ menentukan waktu yang tepat agar semua bisa hadir dalam agenda ini. Dan tak tersengajalah malam Nuzulul Qur’an menjadi pilihannya. (Beberapa pendapat ulama mengatakan Nuzulul Qur’an itu tanggal 21 atau 28, namun ana tidak ingin membahasnya di sini). Namun, ana yakin itu semua bukanlah kebetulan semata; itulah qadarullah. Malam itu menjadi malam yang terjadi di Masjid kebanggan muslimin Jawa Tengah, malam yang dihiasi tilawatil qur’an seorang hafizh dari MAJT, malam yang beratapkan cahaya rembulan pertengahan Ramadhan, dan insya Allah malam yang dinaungi oleh sayap-sayap malaikat. Ah, malam yang takkan terlupakan.

Halaqoh yang telah lama menjadi bagian dari hidup ana kini harus bisa ana ucapkan kata perpisahan. Kalau seperti kata Akh Sholeh, “Liqo telah menjadi bagian dari selasa malam ana”, ana rasa ana sangat sepakat dengan statement tersebut. Ana pun rasanya selalu rindu untuk hadir agenda pekanan.

Seperti kata Akh Taufik, belum lega rasanya jika unek-unek ana ini belum ana sampaikan. Alih-alih mau menyampaikan saat liqo ‘terakhir’ berlangsung, hati ana malah tak kuat menahan desakan untuk bersedih. Semoga sedikit curahan hati ini bisa mewakilkan hati dan pikiran ana.

Ya, kini istilah “New Spirit” yang dibuat oleh mantan mas’ul itu akan tinggal kenangan bagi ana. Ketok palu, pada malam itu resmi sang MR menyatakan kepindahan ana dari lingkaran—lingkaran yang insya Allah penuh barokah, lingkaran yang insya Allah penuh orang-orang istiqomah, lingkaran yang selalu mengingatkan dan menasihati ana. Memang benar kata akh Taufik, saat seperti ini, doa rabithah amat mencirikan ikatan-ikatan kita di lingkaran ini.

Going to Mount Lawu

Seperti kata Akh Sholeh, kepindahan ana sama sekali tak berarti ana ini lebih tinggi ilmunya dari antum semua—sahabat-sahabat, saudara-saudara ana yang lain. Sama sekali tidak. Dibandingkan ana yang masih kadang-kadang bolong sholat jama’ah dan memiliki keburukan lainnya, masih ada mas’ul baru—akh Alif—yang insya Allah istiqomah dengan sholat fardhu berjama’ahnya di Masjid Kampus; masih ada akh Taufik yang sangat rutin wirid al-matsurat dibandingkan ana; masih ada akh Rangga yang rajin hadir kajian tatsqif dibandingkan ana; masih ada akh Gandha yang sangat berhati-hati dengan harta riba dibandingkan ana; masih ada akh Fadlan yang telah menyempurnakan separuh agamanya dibandingkan ana yang separuhnya saja ana belum yakin; masih ada akh Budi yang selalu mengingatkan kita semua tiap kali agenda pekanan; masih ada akh Irfan yang selalu itsar dengan saudaranya; masih ada akh Eko yang tegar saat mendapat ujian, mungkin ana tak akan sekuat anta; masih ada akh Ardhi yang masih bisa istiqomah walaupun sempat fluktuatif, karena mungkin ana tidak bisa seperti itu; tentunya masih ada akh Sholeh yang sangat istiqomah dengan amalan yaumiyahnya.

Wallahua’lam, mungkin ada pertimbangan lain mengapa ana harus dipindah yang padahal sedang puncak-puncaknya ana merasakan cinta di liqo ini. Bukan cinta LGBT, inilah cinta yang insya Allah karena Allah dan insya Allah akan mengantarkan kita ke Jannah-Nya. Ana mengamini perkataan Akh Budi, bahwa inilah salah satu pertimbangan dakwah mengapa ana harus dipindah. Dan pada akhirnya kita pun harus disebar—menebar bibit kebaikan dimanapun kita berada. Masya Allah.

Mohon maaf lahir dan batin. Mohon maafkan semua lisan dan perbuatan ana selama ini yang menyakiti antum semua; khususnya kepada akh Rangga yang sering ana ejek terkait fisik. Dan ana mohon jika ana pernah zholim kepada antum, tolong jangan pernah mendoakan keburukan kepada ana—pun kepada semua saudara kita. Karena doa seorang muslim untuk saudaranya yang lain tanpa sepengetahuan saudaranya itu ijabah, mari sama-sama kita doakan yang baik-baik bagi saudara-saudara kita.

Jazakumullah khairan katsiran wa jazakumullah ahsanal jaza atas kebaikan antum semua; juga kepada akh Prams yang bersabar sekamar dengan ana selama setahun ini; kepada akh Farid yang sering menebar bibit keunikan dan kreativitas; kepada akh Herdi yang selalu mengingatkan ana untuk semangat kuliah; kepada akh Arman yang walaupun belum lama bergabung tapi memberi warna baru bagi lingkaran ini, terutama bagi ana; kepada akh Regi yang meskipun baru gabung setelah ekspedisi kita di Lawu, memiliki semangat yang luar biasa hadir dalam liqo; tak terlupa kepada akh Ageng, akh Virgus, akh Tomo, dan akh Fauzan yang telah berpisah terlebih dahulu dengan kita.

Dan khususnya jazakallah khairan katsir wa jazakallah ahsanal jaza kepada Pak One yang selalu mengingatkan ana dan tak henti-henti bersabar dengan ‘kenakalan’ ana; yang selalu bershodaqoh dengan membawakan hidangan kepada kita semua sehingga—kalau kata akh Rangga—hadir liqo itu menjadi bersemangat; yang selalu memantau perkembangan kita semua. Inilah cinta seorang Murabbi. Ana bahkan kami tak akan mampu membalas semua kebaikan anta. Namun, doa kami setelah sholat akan selalu mengiringi anta.

Semoga Jannah Allah menjadi balasan buat antum. Semoga Allah akan mempertemukan kita semua di Jannah-Nya.

Aamiin yaa rabbal’aalamin.


Al-Brimobiyyah

17 Ramadhan 1436 H—4 Juli 2015 M

Kaget, hampir mau sedih lagi saat mengetik kata “cinta”—ternyata cengeng juga, ya.

Resensi Buku “Gelombang Ketiga Indonesia”

Judul Buku : Gelombang Ketiga Indonesia: Peta Jalan Menuju Masa Depan
Penulis : M. Anis Matta
Penerbit : Penerbit Sierra bekerja sama dengan The Future Institute
Tebal : vi + 128 halaman
Cetakan I, Maret 2014

Sampul buku Gelombang Ketiga Indonesia

Di tahun 2014 kemarin, Anis Matta sempat membuat kehebohan. Lewat buku barunya yang berjudul “Gelombang Ketiga Indonesia”, saya berusaha ikut larut dalam euforia tersebut—membeli buku baru karangannya. Kitab tafsir karangan Ibnu Katsir atau kitab hadits karangan Bukhari sempat terbayang pada saat saya ingin membeli buku Presiden PKS ini. Betapa tidak, alih-alih berharap mendapatkan buku tebal layaknya sebuah kitab, saya malah mendapati buku tipis yang cuma setebal 100 (lebih sedikit) halaman. Namun, dengan cepat saya langsung menepis pikiran underestimate tersebut. Biarpun tidak begitu tebal, buku ini membutuhkan ketelitian ekstra untuk dipahami. Wakil Ketua DPR RI periode 2009-2013 ini mengajak pembaca untuk melintasi dimensi waktu sejarah Indonesia lewat gaya bahasanya.

Dalam bukunya, Anis Matta membuat segmentasi periodisasi sejarah Indonesia ke dalam tiga tahap yang ia sebut sebagai Gelombang. Gelombang Pertama yang mengawali segalanya, ia bubuhkan istilah “Menjadi Indonesia”. Gelombang Kedua, sebagai sebuah masa transisi, ia namai sebagai “Menjadi Negara-Bangsa Modern”. Terakhir, Gelombang Ketiga yang menurutnya baru saja dimulai menjadi sebuah ekuilibrium baru di tengah kehidupan modern ini.

Anis Matta menggunakan takaran sejarah sebagai pendekatan dalam menelaah politik di Indonesia. Dan dengannya, sejarah yang merupakan narasi tentang hari kemarin, hari ini, dan hari esok, menjadi jalan paling efektif untuk menemukan secercah harapan bahwa Indonesia esok lebih baik. Atau dengan kata lain, sejarah adalah kompas bagi politik dalam mengarungi masa yang akan datang. Kemudian dalam penggunaan istilah “Gelombang”, gelombang sejarah didefinisikan sebagai suatu kontinum peristiwa yang melalui perjalanan melintasi waktu dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Gelombang pun merupakan resultan dari berbagai faktor pendorong yang mempengaruhinya, yang dapat berasal dari dalam dan dari luar.

1. Gelombang Pertama

Pada Gelombang Pertama, entitas yang bernama Indonesia dirumuskan. Indonesia sebagai sebuah ide melampaui jauh ikatan primordialisme untuk berkonvergen menjadi satu. Terjadi perubahan cara berpikir dari ikatan etnis menjadi ikatan bangsa yang besar. Indonesia hampir sama dengan “bangsa Amerika” yang merupakan kesepakatan dari manusia beragam etnis yang tinggal di tanah yang kini bernama Amerika Serikat.

Gelombang Pertama “Menjadi Indonesia” diawali dari momentum kejayaan Sriwijaya maupun Majapahit yang menyatukan tanah yang kemudian menjadi Indonesia. Namun, faktor pendorong utamanya adalah imperialisme. Penjajahan melahirkan narasi harmoni pada tiap wilayah; Sumatra, Jawa, Celebes, Ambon, Melayu, dll merasakan satu penderitaan. Hal tersebut memicu pengintegrasian dari wilayah jajahan menjadi sebuah klaim area baru, dan mendorong hasrat untuk merdeka dari kolonialisme. Selain itu, Islam dinilai sebagai kohesi dalam proses pembentukan identitas Indonesia. Ajaran Islam banyak menekankan persatuan umat dan membangun sentimen dan solidaritas antikolonialisme. Lebih jauh, semangat ini mengilhami gerakan lokal menentang penjajahan. Titik puncak Gelombang Pertama adalah Proklamasi Kemerdekaan yang menjadi deklarasi bangsa Indonesia untuk meraih penegasan bahwa bangsa merdeka ini pantas diakui dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa merdeka lainnya. Sumpah Pemuda 1928 pun memainkan peran penting dalam merumuskan semangat egaliter: bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, dan berbahasa persatuan.

Faktor Pendorong        : imperialisme (eksternal) dan pencarian identitas (internal)

Nilai-nilai                     : solidaritas, gotong royong, dan pergerakan nasional sebagai collective mind

Pencapaian                  : Kemerdekaan, identitas sosial dan politik baru, Tanah air (integrasi teritori), dan bahasa

2. Gelombang Kedua

Gelombang berikutnya, “Menjadi Negara-Bangsa Modern” dimulai sejak Indonesia resmi dideklarasikan pada 17 Agustus 1945. Gelombang ini ditandai oleh pergulatan dalam mencari sistem yang kompatibel dengan sejarah dan referensi budaya Indonesia: sebuah gagasan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara dan bangsa modern. Oleh karena itu, untuk mewujudkannya, Indonesia membutuhkan konstitusi modern, lembaga negara yang kuat, dan budaya demokrasi yang subur.

Tema-tema perdebatan yang terjadi pada gelombang ini antara lain:

a. Relasi Agama dan Negara
Ketegangan bermula dari perdebatan tentang dasar negara Indonesia pada rapat BPUPKI. Kemudian pada masa Orde Lama, relasi tersebut mengeras akibat dari sikap agresif Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mendekat ke Presiden Soekarno. Puncaknya ditandai oleh peristiwa G-30-S yang telah mengubah lanskap politik Indonesia.

Pada masa Orde Baru, perdebatan ideologi ditutup dan disubordinasikan di bawah dalih pentingnya stabilitas keamanan demi pembangunan ekonomi. Fusi partai politik pada tahun 1973 merupakan salah satu agendanya. Rezim memainkan politik pemaknaan, yaitu tidak menyebut dirinya sendiri sebagai partai, melainkan golongan: Golongan Karya. Friksi yang terjadi pun akhirnya berujung pada konflik berdarah di Tanjung Priok tahun 1984. Puncak pengontrolan ideologi ini adalah ditetapkannya Pancasila sebagai asas tunggal, yang mengacu pada Tap MPR 1978. Dalam perjalanan pengontrolan tersebut, muncullah stigma “ekstrem kiri” dan “ekstrem kanan” sebagai pengecapan bagi yang sulit dikendalikan.

Namun, di era Reformasi, relasi antara keduanya mulai mendapatkan format yang sesuai. Dwi Fungsi ABRI menjadi salah satu target peniadaan di era ini. Pancasila tidak lagi ditafsirkan tunggal dan dijadikan palu godam untuk meredam kritik dan perlawanan terhadap pemerintah. Pancasila telah menjadi panggung terbuka bagi entitas yang berbeda-beda.

b. Dialektika Demokrasi dan Pembangunan
Dengan mengedepankan paradigma “politik sebagai panglima”, Orde Lama sibuk dengan ingar-bingar perang ideologi sehingga mengabaikan kesejahteraan rakyat. Orde Baru muncul sebagai antitesis dari Orde Lama dengan mengusung paradigma “ekonomi sebagai panglima”. Atas nama stabilitas ekonomi, kebebasan politik diberhangus. Negara kemudian tampil sebagai aktor ekonomi utama yang digerogoti oleh praktik kolusi dan kronisme dari para aktornya.

Pada Orde Baru, dikenallah satu aktor di ranah politik yang tampil sebagai instrumen advokasi bahkan konfrontasi antara negara dan masyarakat sipil. Adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang hadir sebagai salah satu aktor dari cikal bakal oposisi terhadap rezim Orde Baru. LSM tampil mengambil peran dalam menggulirkan wacana demokrasi di Indonesia yang terkekang pada masa Orde Baru.

Dipicu oleh krisis moneter 1997 yang memukul sendi legitimasi Orde Baru, gerakan Reformasi mencuat ke permukaan. Salah satunya adalah teriakan dari Enam Tuntutan Reformasi oleh mahasiswa yang mengecam politik oligarki dan otoriter pemerintah Orde Baru. Reformasi—jika dilihat dalam spektrum yang lebih luas—sejatinya adalah sintesis dari Orde Lama dan antitesis dari Orde Baru.

c. Negara dan Masyarakat Sipil
Terdapat tiga organ penting dalam masyarakat yang menjadi perhatian dalam kajian hubungan negara-masyarakat sipil: partai politik, media massa, dan organisasi kemasyarakatan (ormas).

Partai politik yang berperan sebagai jembatan antara negara dan rakyat dalam proses mekanisme politik formal telah menjadi organisasi pergerakan nasional bahkan sejak era sebelum kemerdekaan. Evolusi politik pada partai politik bertahap bertransformasi.

Media Massa pun tak luput berevolusi. Media massa sebagai salah satu pilar demokrasi yang berperan sebagai kontrol sosial, setelah melalui zaman kemerdekaan, berubah menjadi corong ideologi partai politik. Bahkan, pada era awal Reformasi, keran kebebasan pers yang baru saja dibuka membuat surplus opini publik. Kebebasan pers malah dimanfaatkan untuk mempublikasikan desas-desus dan gunjingan tanpa mengikuti kaidah jurnalistik yang semestinya.

Ormas berfungsi untuk mengurus masalah-masalah sosial yang tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh negara dan mengisi proses yang tidak dapat dicakup oleh partai politik. Selain ormas, LSM juga hadir memberikan warna khusus kepada masyarakat karena fokusnya yang spesifik. Namun, pada masa awal Reformasi, LSM yang semula mendapat tempat di hati masyarakat mengalami “inflasi nilai” karena praktek oknum yang mengatasnamakan LSM untuk kepentingan tertentu.

d. Pusat dan Daerah
Luasnya wilayah Indonesia dan kompleksitas yang mengiringinya menuntut ketidakpuasan dari aktor-aktor daerah terhadap sentralisasi pemerintah pusat. Berbagai konflik senjata di pelbagai daerah pada masa Orde Lama, Orde Baru, bahkan Reformasi, ikut mewarnai huru-hara ketegangan tersebut. Jalan keluar akhirnya dimulai dari penganugerahan otonomi khusus kepada tiap daerah; penetapan alokasi anggaran yang lebih berpihak ke daerah dan desentralisasi pemerintahan melalui kepala daerah langsung adalah pilar utama otonomi daerah.

Perang Dunia II yang berakhir di tahun 1945 secara tidak langsung juga membawa impak terhadap keseimbangan politik Indonesia, apalagi setelah tersulutnya Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Jejak-jejak perang ideologi dunia menyeret para pendiri bangsa untuk—sadar tidak sadar—ikut terpengaruh dalam menentukan sistem bagi Indonesia. Walaupun begitu, berada di tengah perang ideologi yang keras dan berdarah-darah, Soekarno dan para pemimpin politik telah menyumbang satu pondasi penting bagi Indonesia, yaitu dasar negara Pancasila, konstitusi UUD 1945, dan wawasan Bhineka Tunggal Ika. Kemudian setelah berayun bagai pendulum dari ekstrem yang satu ke titik ujung lainnya, Indonesia telah berhasil membangun ekuilibrium baru pada era Reformasi, antara lain:
a. Keseimbangan dalam relasi negara dan agama. Pancasila telah bisa ditempatkan sebagai panggung terbuka bagi identitas yang berbeda.
b. Keseimbangan antara kebebasan dan kesejahteraan, antara demokrasi dan pembangunan. Walaupun belum memenuhi standar ideal, setidaknya Indonesia sudah mengarah ke hal tersebut.
c. Titik temu antara kebebasan dan keamanan. Keamanan kini lebih bermakna ketertiban bersama dari sesama warga masyarakat daripada intervensi paksaan negara ke tengah kehidupan sosial dan privat.
d. Keseimbangan antara kebebasan ekonomi daerah dan keutuhan integrasi nasional.

Segitiga negara masy pasar

Faktor Pendorong : Perang Dingin (eksternal) dan pencarian sistem yang kompatibel dengan sejarah dan budaya Indonesia (internal).
Nilai-nilai : konflik dan kompetisi, keamanan, menyesuaikan diri dengan kemodernan.
Pencapaian : konstitusi modern UUD 1945, penguatan lembaga negara, keseimbangan baru dalam format negara-bangsa modern, bahasa.

3. Gelombang Ketiga

Pada Gelombang Ketiga, lahirlah masyarakat baru Indonesia. Karakteristik masyarakat baru ini antara lain adalah:
– Kelas menengah baru yang dibentuk oleh orang berusia 45 tahun ke bawah
– Berpendidikan cukup tinggi
– Kesejahteraan semakin membaik
– Terhubung (well connected) dengan lingkungan global melalui internet
– Lahirnya kelompok “native democracy”

Implikasi ekonomi dari komposisi demografi baru tersebut adalah meningkatnya produktivitas karena penduduk prodiktif (usia kerja) lebih banyak dari penduduk tidak produktif (anak-anak dan orang tua). Demografi yang didominasi oleh usia produktif ini disebut sebagai “dividen demografi” atau “bonus demografi”. Sejarah mencatat, sejumlah negara mencapai kesejahteraan sebagai hasil dari bonus demografi yang termanfaatkan dengan baik. Inilah kelompok mayoritas baru Indonesia yang belum pernah ada presedennya dalam sejarah. Indonesia mengalami lompatan ekonomi, sosial, dan politik begitu jauh dalam waktu begitu singkat.

Generasi native democracy lahir pada masa ini. Walaupun pada masa kecil mereka lahir di zaman penghujung Orde Baru, yang mereka pahami tentang transisi Orde Baru ke Reformasi tak lebih dari pendudukan gedung DPR/MPR oleh sejumlah mahasiswa. Mereka adalah generasi yang lahir dan tumbuh di zaman saat demokrasi sudah menjadi barang dagangan setiap orang, sehingga bagi mereka, kebebasan hari ini adalah hal yang lumrah yang seyogianya ada. Ibarat native technology yang dengannya mereka tumbuh dan kembang di zaman serba teknologi sehingga lancar menguasai fitur-fiturnya, native democracy mahir memanfaatkan fitur-fitur demokrasi, yang dasar maupun yang rumit.

Yang terjadi setelah masa Reformasi adalah penguatan masyarakat sipil dengan empat pranata utama: kampus, media, LSM dan ormas, dan partai politik. Hal inilah yang menciptakan keseimbangan baru antara negara, pasar, dan masyarakat sipil. Namun, seiring bonus demografi yang muncul, terjadi pergerakan pusat perhatian kepada society, sehingga sebuah tendensi pun timbul: masyarakat menjadi “panglima” bagi politik dan ekonomi.

Globalisasi juga memberikan dampak signifikan pada Gelombang Ketiga ini. Globalisasi telah mengaburkan batas antara lokal dengan global, antara yang boleh dengan tidak boleh diketahui masyarakat, akibat dari banjirnya informasi yang beredar. Globalisasi menyediakan kesempatan dan kecemasan: kesempatan untuk tumbuh muncul melalui ekonomi jaringan karena peran negara dan pasar mengalami degradasi, kecemasan karena dengan berkurangnya peran negara berarti ketiadaan perlindungan bagi warga negara karena persaingan terjadi di tingkatan individu tanpa mengenal batas negara. Dua hal tersebut yang kini menjadi faktor pendorong individu untuk membentuk ikatan komunitas yang egaliter dalam rangka mencari solusi atas tantangan yang mereka hadapi. Pun nilai-nilai baru lahir, antara lain:

– Pertanyaan tentang kualitas hidup.
Pertanyaan ini didominasi oleh generasi “Millenials”, yaitu generasi yang lahir antara 1980-1995. Generasi Millenials sering juga disebut sebagai “Generasi Y”. Tiga hal terpenting bagi generasi ini adalah: menjadi orang tua yang baik dalam pernikahan yang langgeng, memiliki rumah sendiri, dan mampu menolong orang lain yang membutuhkan. Rumus baru yang muncul dari generasi ini adalah: “aku ingin punya uang banyak tapi punya waktu luang untuk keluarga dan pekerjaan itu haruslah menyenangkan karena menjadi passion yang aku geluti”.

Kesejahteraan bergeser dari tujuan menjadi salah satu faktor pembentuk kualitas hidup. Di samping nilai-nilai lama yang masih kuat bertahan, yaitu agama dan gotong royong, muncullah nilai baru yang menyertai dan mengimbangi dua nilai yang telah ada, yaitu kecenderungan pada kekuasaan dan prestasi.

– Melampaui individualisme
Masyarakat Gelombang Ketiga merumuskan nilai-nilai baru yang berasal dari pengalamannya masa lalu yang digabungkan dengan bekal menghadapi masa depan. Nilai yang dibangun ini disebut “melampaui individualisme” (transcending the individualism). Solidaritas gotong royong yang telah mengakar dalam referensi budaya masyarakat muncul dengan semangat baru karena bertemu dengan spirit berkompetisi dari individualisme.

Banyak tantangan yang harus dihadapi negara dan lembaga politik pada masyarakat Gelombang Ketiga ini. Negara dipandang dari segi kapasitas. Otoritas negara menjadi tidak relevan jika kapasitasnya lebih rendah dari ekspetasi masyarakat baru ini. Struktur politik akan semakin datar karena memudarnya hierarki dan otoritas, sehingga partai politik harus bekerja keras mendulang satu suara demi satu suara untuk mendapat dukungan. Warga negara tidak lagi menjadi status pasif. Warga negara Gelombang Ketiga adalah mereka yang berpartisipasi dalam politik dan mampu mengartikulasikan opininya. Bahkan, social media menjadi katalis yang mengakselerasinya. Tantangan dalam perekonomian juga muncul dari berkembangnya ekonomi jejaring (network economy). Jaringan menjadi kekuatan ekonomi baru yang mampu melangkahi batas negara dan pasar. Simpul-simpul kecil dan banyak ekonomi jejaring ini menggantikan institusi gigantik negara dan pasar. Pada akhirnya, negara hanya akan berperan pada masalah-masalah skala pengaruh besar, seperti infrastruktur dan militer.

Pilar-pilar Gelombang Ketiga:

Politik Ekonomi Sosial
–  Struktur politik yang makin mendatar (flat) karena memudarnya hierarki dan otoritas

–  Negara bukan dipandang otoritas, tapi kapasitas

–  Makna baru kewarganegaraan: partisipasi dan opini publik

–    Elemen baru dalam penciptaan kesejahteraan

–    Orientasi pada kesejahteraan jangka panjang

–    Network based economy, bukan negara dan pasar

–    Independensi institusi ekonomi

–     Demokratisasi media (personalized media)

–     Nilai transcending individualism (kolaborasi, universalim connectivity)

–     Orientasi pada kualitas hidup (kesejahteraan dan religiusitas)

Faktor Pendukung        : Globalisasi dan abad Asia (eksternal), dan budaya dan demografi (internal).

Nilai-nilai                     : orientasi kemanusiaan, pencarian makna kualitas hidup, melampaui individualisme.

Pencapaian                  : sedang berproses.

4. Konklusi

Dengan beragam cerita perjalanan Gelombang Pertama, Gelombang Kedua, dan sekarang Gelombang Ketiga, Indonesia perlahan menjadi negara-bangsa yang lebih dewasa. Indonesia punya masa depan cerah. Untuk menjadi negara-bangsa yang besar, harus ada peralihan dalam cara kita memandang Indonesia dari sebuah entitas politik menjadi sebuah entitas peradaban. Kita perlu mempunyai kesadaran bahwa kerja-kerja pembangunan negara tidak hanya urusan konstitusi, regulasi, atau institusi, melainkan melakukan urusan yang lebih rumit, yaitu membangun peradaban. Mesin besar yang diperlukan untuk melakukan peralihan dari entitas politik ke entitas peradaban adalah budaya. Kebudayaan adalah pondasi yang paling kokoh dari kemajuan jangka panjang yang ingin diraih. Seperti contohnya kewirausahaan, kewirausahaan menjadi suatu budaya positif jika ditanamkan kepada masyarakat.

Selain itu, dengan Gelombang Ketiga yang ciri utamanya adalah connectedness, intensitas persebaran ide, informasi, dan sumber data menjadi tinggi. Efeknya adalah meningkatnya fluktuasi dalam berbagai sendi kehidupan. Oleh karena itu, pola pikir khusus diperlukan agar kita tidak terhempas, tetapi justru dapat menunggangi gelombang sejarah ini.

a. Arsitektural

Diperlukan kemampuan dalam membuat sebuah grand design yang akan menjadi platform untuk segala aktivitas kehidupan.

b. Fungsional

Setelah proses desain, dibutuhkan pewujudan terhadap desain tersebut yang berdasarkan pada fungsi dan faedah yang mendasarinya.

c. Eksperimental

Dengan tingginya kompleksitas dan kecepatan perubahan pada Gelombang Ketiga, diperlukan pola pikir yang open-minded dan berani mengambil risiko.

d. Kreatif

Kreativitas menjadi kemampuan yang wajib dimiliki bagi masyarakat Gelombang Ketiga dalam mengarungi arusnya yang dinamis. Kreativitas adalah kemampuan untuk menggabungkan hal-hal yang sudah ada sebelumnya menjadi sebuah entitas baru.

Meningkatnya usia produktif dan perubahan budaya dalam masyarakat menghasilkan perubahan nilai-nilai, sehingga sekarang kita dapat menyaksikan lahirnya model masyarakat baru yang bersendikan agama, pengetahuan, dan kesejahteraan. Agama memberi orientasi; pengetahuan menjadi pemberdaya; kesejahteraan menjadi faktor katalis agar masyarakat makin berkualitas hidupnya. Masyarakat Indonesia ke depan adalah masyarakat yang religius, berpengetahuan, dan sejahtera.

segitiga pengetahuan kesejahteraan agama

Ekuilibrium baru yang tercipta pada Gelombang Ketiga memungkinkan Indonesia beranjak dari demokrasi yang semata prosedural menjadi demokrasi yang substansial. Demokrasi prosedural baru dapat memastikan kepatuhan terhadap proses. Demokrasi substansial berbicara mengenai kemanfaatan sebuah proses demokrasi bagi manusia. Pada Gelombang Ketiga ini, masyarakat menjadi aktor utama yang mengimbangi negara. Terjadi pula transformasi konsep kewarganegaraan. Warga Negara Indonesia tidak lagi hanya sebatas individu di negara Indonesia, tapi kini juga menjadi individu planet. Oleh karena itu, Indonesia pun harus bertransformasi dari entitas politik ke entitas peradaban; skala yang dipikirkan sekarang menjadi bagaimana membuat orang Indonesia sebagai warga planet bisa meraih keadilan dan kesejahteraan. Indonesia harus mulai berpikir seperti satu imperium dengan skala jangkauan dunia, yang ikut melakukan remapping the world dalam percaturan geopolitik dunia.

5. Refleksi

Sebagai seorang presiden salah satu partai politik di Indonesia, Anis Matta berharap buku karangannya ini dapat menambah khazanah pengetahuan politik. Namun, sepertinya dengung pesta demokrasi lima tahun sekali untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin negara pada tahun 2014 menjadi latar belakang seorang Anis untuk menerbitkan buku ini. Dengan tidak sedikit menggunakan istilah “angka 3” di dalam buku ini, ternyata pada tahun 2014 PKS mengantongi nomor urut tiga sebagai partai politik yang resmi bertarung para Pemilu 2014, sehingga terkesan membuat analisisnya dipaksakan supaya membentuk “jumlah 3”. Selain itu, Anis Matta juga melakukan penyempitan sejarah Indonesia, khususnya pada masa sebelum kemerdekaan. Ada beberapa tulisan yang kontra terhadap analisis sejarah Anis. Tulisan yang cukup menarik agar kita bisa berpikir secara objektif terhadap karangan Anis Matta. Anda bisa membacanya di tautan ini dan ini.

Namun, terlepas dari kontroversi perdebatan kebenaran sejarah, buku Anis Matta ini layak dijadikan acuan dalam menyongsong Indonesia ke depan. Analisisnya terhadap Gelombang Ketiga yang sedang berlangsung saat ini tidak layak dinafikan begitu saja. Dengan bukunya, kita mampu membaca peta politik, sosial, dan budaya Indonesia sehingga Indonesia sebagai imperium besar itu tidak lagi hanya sebatas utopia.